doa terakhir

Takkan pernah tau, sampai kapan diam, ketika melihatnya bersama dengan perempuan itu, menggandeng mesra tangannya, mengecup ringan keningnya. Mungkin aku iri, tapi aku tau, ini pilihanku. Dulu ketika dia datang, bilang cinta, ingin rasanya aku memeluknya erat dan berkata 'ya'. Tp itu bukan pilihanku. Bukan karena aku tak mencintainya, bukan karena aku malu. Tapi aku tak pantas untuk dia, lelaki yg sangat baik.

"Aku cinta km, ak mau bersama km", ucapnya waktu itu 
Aku menunduk, menggeleng lemah "tidak bisa, tidak akan pernah bisa, maaf, pergi dan lupakan aku"
"Kenapa?" tuntutnya
Ak mendongak, menatap dalam matanya "kamu tidak pantas untukku"
Dia terluka, aku tau dari matanya bahwa aku telah menorehkan luka dalam pada hatinya, dan dia pergi.

Sungguh, saat itu, aku hanya ingin melukainya, bukan karena benci, tapi karena aku terlalu mencintainya. Karena aku tau, hanya luka yg bisa membuatnya pergi dariku.



                                      ....


Aku mendengar dia telah bersama perempuan yg mencintainya, yg bisa menjaganya dengan baik, aku bahagia. Ku coba mencarinya, hanya ingin membuktikan kabar itu. Aku melihatnya, tersenyum bahagia, dan itu sudah cukup buatku.


                                      ....


Aku tergolek lemas, berbagai kabel dan selang melilitku.
Aku berpikir, ini saatnya pergi.
Namun aku tidak menyesal. Karena aku tau, dia sudah bahagia.

Dan doa terakhirku, semoga dia bahagia, apapun alasannya.




nb: Ini salah satu tulisan sahabat gw “NH”, se-tau gw dia emang pakar kalo buat cerita fiktif/semifiktif. gw sih belum bisa buat yang begituan :”

2 komentar:

  1. kalo si laki2 nya baca pasti terenyuh banget tuh. ^_^

    ReplyDelete
  2. biangetttt. coba dulu suruh baca sih laki2 itu #LAH -_-

    ReplyDelete

kalo ada komentar yang bisa memunculkan amarah emosi jiwa raga nusa dan bangsa, jangan marah ya kalo dihapus. boleh juga tulis ide kalian untuk postingan berikutnya di sini.