MALU DENGAN HUJAN

Sekarang, mungkin kalian yang membaca tulisan ini bernasib sama denganku; tidak merayakan apapun. Diam di rumah, berselimut hangat, makan masakan ibu seperti biasa, sesekali menonton tv, hingga beralih ke dunia maya. Seperti tak ada yang spesial dikala hampir seluruh manusia mengisi pergantian tahun dengan gempuran kembang api di langit, dengan riuh tiupan terompet di telinga, dengan makanan lezat di lidah. Atau bisa jadi malah kesal karena terjebak macet, atau kedinginan karena guyuran hujan, atau juga kesepian karena jauh dari keluarga. Inilah tahun 2014-ku.

***

Siang ini….

“Kalo malem taun baru-an kok mesti hujan ya, Mbak?”, tanya Bu Rohma tadi siang. Ya biasa setelah selesai mengajar, terkadang ku sisihkan waktu untuk sekedar ngobrol dengan beliau. Bu Rohma seorang pengasuh adik – adikku (baca: anak didik). Belum sempat menjawab kemudian Rafli; anak didik yang paling sulung langsung menyambar.

“Ya, gapapa lah. Berarti setiap ganti taun artinya berkah. Hujan kan rejeki ya kan, Mbak?”, Rafli semangat. Aku pun menjawab dengan senyuman ringan sembari meng-iya-kan jawaban Rafli.

“Iya, hujan itu berkah. Rejeki.” J

Cuaca memang sudah mendung sedari tadi, dan obrolan ini pun dihentikan dengan turunnya hujan. Lumayan deras. Dari situlah pikiranku mulai membias.

Adalah 2 tahun yang lalu, tepat di tanggal menjelang bergantinya tahun seperti sekarang. Saat itu aku bersama keluarga memutuskan untuk menikmati malam pergantian tahun di pantai. Semua bekal, pakaian, dan rute perjalanan sudah dipikirkan. Biasanya pasti macet. Yasudah itu resiko. Aku dan keluarga pun masih bertahan ditengah kemacetan. Sampai akhirnya hujan datang, deras. Di saat itu lah apa yang aku katakan tentang hujan berbeda dengan tahun ini.

“Jangan hujan sih. Kan kasian itu yang bawa motor kehujanan. Berenti sih hujan. Masa’ taun baru keujanan”

Sampai di situ, aku langsung mem-pause mendadak apa yang sedang aku pikirkan. Aku terkaget sendiri dengan isi ucapanku soal hujan. Dulu aku mengutuk hujan, aku ingin hujan berenti. Kasihan orang – orang kedinginan, gak bisa kemana – mana karena terjebak macet. Tapi sekarang malah ku bilang hujan itu berkah, rejeki. Walaupun saat itu aku juga sedang menunggu hujan reda supaya bisa pulang ke rumah. Setelah menunggu hampir 1 jam, aku putuskan untuk sedikit merelakan sebagian pakaianku basah. Aku pulang.

Sepanjang perjalanan aku berkali – kali mengatakan, “Kasian, si hujan.” Ada yang menghujat, ada yang memuji. Dan aku adalah salah satu makhluk yang memberi kedua opini itu. Gimana kalau hujan diberi perasaan oleh Tuhan? Mungkin aku bisa tiba – tiba dihujani batu atau kotoran ketika menghujat. Mungkin juga aku bisa tiba- tiba dihujani uang atau emas ketika memuji. Inilah kita, manusia. Bukan hujan. Ketika dihujat kita berkata kotor, ketika dipuji kita ‘meninggi’. Kita bisa berbuat apapun jika diberi salah satu dari kedua opini tersebut; dihujat atau dipuji. Tapi hujan tidak. Aku malu dengan hujan.

Tidak peduli ini malam pergantian tahun, hujan tetap datang tanpa kesal. Mungkin bisa saja hujan menolak untuk datang, dengan berdalih; manusia sedang berpesta. Mungkin.  Bisa saja hujan marah karena langit berkali – kali digempur kembang api di sana – sini. Sementara hujan tetap menjalani tugasnya membasahi tanah. Hujan air seperti biasa. Bukan batu atau kotoran. Ah, aku malu dengan hujan.

Lamunan siang itu akhirnya membawaku ke awal tahun, seolah bagai memutar film dengan aku sebagai tokoh utama. Menyelesaikan script dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan. Menjalani alur cerita yang sudah dituliskan Tuhan. Dari Januari hingga Desember. Dengan semua drama, semua air mata, semua canda tawa, semua peluh keringat, semuanya. Hingga detik ini, di usiaku yang menginjak ke 23. Betapa tak pernah terbayangkan aku akan menuliskan semua memori di tahun 2014 ke dalam sebuah lembaran digital. Semua ku rangkum apik dalam lamunan tentang hujan. Bukan tentang hubungan rindu dengan hujan. Bukan tentang hubungan cinta dengan hujan. Tapi tentang tugasku di dunia ini dengan Tuhan. Aku belajar dari hujan bahwa ia tetap membasahi tanah dengan menjatuhkan air sekalipun dihujat atau dipuji. Bukan dengan kotoran atau emas. Aku belajar dari hujan bahwa aku harus tetap berkarya, berkreasi, bersinar, bermanfaat, belajar, bermimpi apapun selama itu positif. Sekalipun itu dihujat atau dipuji. Sudah cukup dengan semua di tahun 2014 ini. Sudah cukup dengan usiaku yang akan bertambah lagi di tahun 2015 nanti. Aku sudah cukup malu dengan hujan.

Bagaimana dengan hujan batu yang nyata? Atau hujan es? Lalu hujan salju?

Ya. Tinggal bagaimana aku menyikapinya. Bukan kah aku sudah belajar dari hujan air? J

***

Blog ini adalah penutup paling manis di akhir 2014 Bulan Oktober ditengah keisengan mengisi hari – hari. Kalian boleh menghina, menghujat, bercanda dengan apapun soal isi di dalamnya. Tapi kalian harus tau, bahwa tujuanku adalah berkarya dan sebisa mungkin bermanfaat. Bahwa aku belajar menulis dengan jujur. Berharap suatu hari nanti impian memiliki buku terwujud. Bisa saja tahun depan. Atau tahun depannya lagi. Yakinlah, bahwa dari setiap apapun yang kita kerjakan, akan ada yang menghujat, dan akan ada yang memuji. Jangan pusingkan dengan itu. Belajar dari tahun 2014. See you next year J

6 komentar:

  1. Ah, jadi inget baru kemarin binik tulisan tentang hujan dan seseorang

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh ya? buat suami tercinta ya hehe aku lumayan sering visit ke blog kmu

      Delete
  2. hujan di tempat saya benar2 menolak untuk datang.
    mungkin karena dia tau manusia lagi berpesta :)
    happy new year..

    ReplyDelete
  3. Tanpa hujan, semua terasa biasa saja di tahun baru ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. tanpa hujan, mungkin kita kelaparan #LAH :D

      Delete

kalo ada komentar yang bisa memunculkan amarah emosi jiwa raga nusa dan bangsa, jangan marah ya kalo dihapus. boleh juga tulis ide kalian untuk postingan berikutnya di sini.