ALI RAHMAT; Gifu, I’m Coming #1Day1Dream

Siang itu ketika gue minta sedikit waktunya untuk wawancara, Ali sedang membuat pempek di Gifu, Jepang.  Negeri sakura sedang musim dingin, suhu hari itu ia bilang agak cerah hanya 5°C sehingga salju jadi jarang turun. Nama Ali sudah pernah gue sebutkan ditulisan INI. Ali memang hobi makan, gue jadi punya kesimpulan kalo rata – rata orang yang punya hobi ini pasti suka memasak.

Ali Rahmat adalah teman satu angkatan gue dulu di kampus. Mimpi Ali sejak kecil adalah menjadi seorang guru. Baginya, dengan menjadi guru artinya ia bisa meneruskan perjuangan Ayahnya dalam mendidik bangsa ini. Ya, Ayah sudah terlebih dulu dipanggil Sang Khalik ketika usia beliau masih muda. Sang Ayah seorang guru agama di SD Tanjung Bintang, Lampung Selatan.

Mimpi yang ia ukir dari sejak kecil kemudian direalisasikan dengan mendaftarkan diri ke Jurusan Keguruan di Universitas Lampung dan IAIN Radin Intan. Saat itu prinsipnya adalah ia hanya ingin sekolah lagi jika diterima di perguruan tinggi negeri, jika tidak yaa Ali tidak bersekolah. Mengingat asal sekolah yang notabene kurang dilirik perguruan tinggi, karena kala itu ada 36 siswa dari 100 yang tidak lulus Ujian Nasional. Ali tentu tidak berharap banyak, mencoba lebih baik daripada tidak melakukan apapun. Kabar buruk, keduanya tidak lolos. Kemudian Ali mendaftarkan diri ke Jurusan Agroteknologi. Ya, di fakultas pertanian ini ia pun bertemu dengan sahabatnya; Abdul Mutolib (saat ini sedang menempuh S3 tanpa S2 di Universitas Andalas). Tak apa ini sudah membahagiakan yakin saja bahwa rencana-Nya lebih indah.

Proses indah ini dimulai dari semester 5, Ali sudah punya rencana penelitian. Beda sama gue yang kala itu malah kebanyakan galau – galau bersahaja. Tapi Ali mengurungkan niatnya untuk beberapa penelitian. Untuk makan saja susah, apalagi untuk menambal biaya analisis. Sudah lah, ia putuskan untuk nanti saja memikirkan penelitian sembari fokus mengikuti ajang perlombaan bidang Ilmu Tanah di UNS. Benar saja, ia dan kawan – kawan berhasil menyabet juara 2 tingkat nasional.

Prestasinya itu membawanya lebih dekat dengan Dr. Afandi. Beliau adalah pembimbing akademik gue, tapi beliau gak hapal muka gue. Sedih? Banget. Beliau adalah dosen pembimbing skripsi sekaligus mentor yang punya nilai lebih dari sekedar itu di hati dan hidup Ali. Beliau sudah dianggap Bapak oleh Ali. Saat skripsi akan selesai digarap dan tanpa sepengetahuan Pak Afandi, Ali mencari info beasiswa S2. Dimana pun, asal sekolah lagi. Pilihannya adalah Jepang. Bukan Mulai dari mencai email panitia penyelenggara, mencari pembimbing supervisor, mengurus berkas kesehatan dan lain – lain. Semua biaya untuk mengurus itu ia dapatkan dari imbalan menjadi Asisten Dosen dan membantu urusan Pak Afandi di salah satu perusahaan pengalengan nanas di Lampung. Hampir setiap email balasan yang ia terima dari pihak Jepang nihil, bahkan tidak ada jawaban.

Ditengah – tengah rasa putus ada itu tiba – tiba muncul harapan, ada satu pembimbing Pak Afandi dulu yang mau menerima Ali dengan syarat. Pak Afandi sudah tahu rencana Ali ingin S2. Dengan pengumpulan berkas yang terlewat dari deadline, tentu Ali tidak berharap banyak. Alasannya hanya sebagai upah kerja keras yang sudah ia lakukan. Satu bulan kemudian, ADA BALASAN! Karena takut salah membalas, Ali mem-forward setiap balasan ke email Pak Afandi. Dari beliau lah ia mengetahui ada ‘tanda’ yang mengisyaratkan akan gugur seleksi. Namun ia tetap senang, setidaknya berkas yang telat itu masih mau diseleksi oleh panitia.

Malam itu, ditengah suasana seperti biasa yaitu urusannya dengan perusahaan pengalengan nanas. Ia membuka email, tidak ada sesuatu yang istimewa. Jelas itu hanya sekedar iseng. Tanpa diduga, satu emai masuk dan memaparkan jelas makna kata; DITERIMA! Senang sekaligus ada rasa greget, karena reaksi Pak Afandi sangat datar. Seperti tidak ada yang istimewa. Kata selamat pun gak terdengar. Tapi keesokan harinya, Pak Afandi pamer ke staf perusahaan soal keberangkatan Ali ke Jepang. Sekarang, Ali sedang membangun mimpinya menjadi seorang pengajar. Di Gifu University, ia menemukan banyak hal. Mulai dari mengikuti berbagai event kebudayaan, hingga mengharuskan dirinya bekerja part time karena biaya hidup di sana agak lumayan. Setelah mimpinya ia raih, Ali ingin sekali tinggal bersama dan memuliakan Ibunya. Karena sejak kelas 5 SD mereka terpisah, paling lama hanya 3 – 4 minggu bertemu.


Kalo gue memposisikan diri menjadi Ali; suatu hari nanti entah berapa lama setelah cita – cita ini terwujud, gue mungkin akan melanjutkan lagi ke jenjang berikutnya. Tapi gak meninggalkan Ibu di sini. Mengajar, memuliakan, dan meraih impian akan gue lakukan sekaligus. Cerita menjadi Ali inspiratif, mungkin membuat satu buku biografi bisa memotivasi puluhan bahkan ratusan orang. Bahwa benar yang Ali bilang ‘Impossible is nothing, nothing is impossible’.


tarian Gatot Kaca saat pentas kebudayaan


bersama Dr. Afandi

Soil Judjing Contest. Universitas Lampung meraih juara II. sumber disini
Ali di Negeri Sakura. Sumber disini


“Jadikan kelemahan sebagai kekuatan, dan kekuatan sebagai kelemahan. Adakalanya kelemahan menjadi pemacu motivasi tersendiri; seperti Ali yang tak sempurna secara fisik tapi itu membuat Ali harus berbuat lebih agar tidak dipandang sebelah mata. Atau bagi mereka yang menganggap kecerdasaan adalah kekuatan. Bagi Ali itu kelemahan; karena kecerdasan yang tidak terkontrol akan menjadikan sikap sombong dan angkuh. Aku hanya ingin menjadi seperti ini apa adanya tanpa perlu ‘make up’ untuk berteman dengan orang lain”- Ali Rahmat


Terimakasih, Ali. Bagi temen - temen yang mau berkunjung ke blog Ali klik disini.

2 komentar:

  1. hmm. terkadang kelemahan memang bisa membuat kita jadi kuat dan kebal. sama kayak ali :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa bener dan gak semua orang bisa seimbang dari keduanya. Semoga menginspirasi yah..

      Delete

kalo ada komentar yang bisa memunculkan amarah emosi jiwa raga nusa dan bangsa, jangan marah ya kalo dihapus. boleh juga tulis ide kalian untuk postingan berikutnya di sini.