ECHI PRAMITA; Deep Inside of Me #1Day1Dream

Hari kemarin ketika gue meminta akan memberondong Echi dengan beberapa pertanyaan. Ada rasa yang muncul tidak seperti biasanya. Ia bilang merasa terhormat ketika gue meminta untuk menuliskannya. Gue? Rasa bangga, haru, senang, kagum, malu..bercampur menjadi satu dalam tulisan ini. Ya, ini tentang temanku saat itu kami ada di organisasi yang sama ketika SMA yaitu Karya Ilmiah Remaja (KIR). 

Echi Pramita adalah orang yang ceria, berkali - kali membuat gue berdecak kagum karena karyanya. Pernah goresan tangannya menjadi lambang organisasi keislaman di sekolah kami. Pernah juga kelincahan tangannya membuat mading yang paling menarik di sekolah kami. Juaranya itu dibawa hingga kini, ia berkata pernah membuat karikatur presiden (kala itu Pak SBY yang menjabat) untuk salah satu rumah sakit di Jakarta. Bercerita tentang Echi, artinya gue sama saja bercerita tentang keajaiban. Ingatan gue melayang jauh saat ia masih bisa berjalan, berlari, sekedar menghampiri atau saat terburu - buru. Lalu kelakar Echi malam itu membuyarkan lamunan, ia sempat bertanya pertanyaan essay atau pilihan ganda yang akan gue lontarkan. Benar - benar hiburan. 

Mimpi Echi saat kecil adalah menjadi bidan. Mimpi kecilnya itu dibawa hingga hari dimana ia menyadari ada rasa takut atau orang biasa menyebutnya trauma. Sejak kecelakaan waktu itu, hari dimana gue sama dia berada di ruangan yang sama, di laboratorium. Namun ia putuskan untuk ijin keluar sekolah mengambil kebutuhan organisasi yang mendesak kala itu. Bukan bermaksut membuat drama di sini, tapi mendengar kabar Echi terkena musibah hingga mengharuskannya dirawat intensif di rumah sakit di Jakarta; tentu berjuta rasa penyesalan di hari itu dan hingga kini menimpa kami yang berada di ruangan itu.

Perjuangan melawan jarum suntik penuh dari kaki, tangan, hingga leher. Berbotol - botol infus berganti. Berbulan - bulan tertinggal mata pelajaran. Tapi siapa sangka, kepribadian Echi sama sekali tidak berubah. Gue masih melihat ada banyak asa di matanya. Banyak kebahagiaan di wajahnya. Dan benar saja, dengan adanya tulisan ini gue merasa itu memang benar. Ia percaya bahwa Tuhan punya rencana yang lebih indah. Bahkan jauh lebih indah dari yang kita bayangkan. 

Saat ini, Echi sudah bekerja di yayasan Wisma Cheshire untuk penyandang disabilitas. Bahkan ia juga aktif di sebuah organisasi bertaraf internasional dan menjabat sebagai sekretaris. Tinggal di Jakarta seorang diri, tanpa sanak saudara, tentu bukan hal yang mudah. Terlebih lagi bagi orang berkebutuhan khusus. Dengan akses terbatas, ia memilih bertahan. Meski butuh adaptasi di awal.  Baginya, berpikir positif adalah penguat dan pemacu semangatnya untuk bangkit. Alasan itu lah yang membawa ia belajar untuk mandiri, benar - benar mandiri. 

Mimpi saat ini bukan cuma melanjutkan kuliah ke jurusan Manajemen, satu - satunya yang ia pilih karena diyakini Echi bahwa manajemen yang bisa menyesuaikan kondisi, tidak membutuhkan mobilitas yang tinggi. Ia juga bermimpi ingin menunjukkan sekaligus membuktikan bahwa walaupun Echi punya keterbatasan tapi itu tidak membatasinya untuk berkarya. Ia hanya ingin membuang jauh pikiran dan paradigma yang terlanjur melekat bahwa penyandang disabilitas hanya merepotkan, dan identik untuk dikasihani. Mimpinya sempat membuat gue gak tau harus ngomong apa, gue diam sejenak, lalu bercermin dan...malu. 

Ini salah satu sepak terjang Echi yaitu mengikuti lomba IT di Busan, Korea bulan September lalu. Dan berhasil meraih juara 3 untuk Indonesia.


Echi (mengenakan jilbab hitam) saat lomba berlangsung

Indonesia berhasil meraih juara 3 dalam Global IT Challenge


Jika gue memposisikan diri sebagai Echi, dengan mimpi dan jalan sudah terbuka. Tinggal melakukan sesuatu apapaun yang bisa menghasilkan karya. Kesibukan saat ini mungkin jadi hambatan, tapi bukan berarti perjuangan meraih mimpi juga terhambat. Ada yang perlu diperbaiki di negeri ini, fasilitas umum, akses transportasi, dan perijinan diberbagai bidang sekalipun itu politik. Seharusnya tak ada halangan bagi keterbatasan yang ada.


Echi harap dengan banyaknya masyarakat yang sadar akan kebutuhan dan hak orang lain, maka akan semakin mengurangi tingkat diskriminasi terhadap kaum minoritas juga. Dan seharusnya orang - orang banyak belajar dari orang yang memiliki kekurangan dan keterbatasan.

Terima kasih, Echi. Teruslah berkarya, percaya dan yakin kamu pasti bisa. Di sini ada banyak orang yang mendukung dan membanggakanmu. Semangat!

0 komentar:

Post a Comment

kalo ada komentar yang bisa memunculkan amarah emosi jiwa raga nusa dan bangsa, jangan marah ya kalo dihapus. boleh juga tulis ide kalian untuk postingan berikutnya di sini.