Punya Daya Keseimbangan Terbaik di Dunia #1Day1Dream

Hari itu gak seperti biasanya. Beberapa bulan yang lalu atau lebih tepatnya tahun lalu atau lebih tepatnya waktu gue masih sibuk – sibuknya skripsi. Oke, lebih tepatnya sebelum gue mikirin soal ke depan mau kerja apa dan gimana bentuknya. Tadinya seperti biasa, gue ngajar ngaji. Ada sesi tanya jawab dikit sama adik – adik, eh tepatnya sesi tjurhat mereka sih biar gue kayak mamah dedeh gitu katanya dan biasanya setelah itu gue pulang ke rumah. Tapi malam itu beda. Ibunya adik – adik yang biasa sibuk dengan laptop, dan nganter gue pulang sampe depan pintu. Malam ini mendekat dan membicarakan satu hal yang gue sebut itu; masa depan. Dari situ pemikiran dan mimpi gue berubah.

Ibunya adik – adik adalah wanita karir, bekerja full time. Gue bilang gitu karena emang jam kerja kadang lebih dari 8 jam sehari. Sehingga perlu dibantu seorang pengasuh (pernah gue tulis juga DI SINI). Obrolan dimulai dari urusan adik – adik yang buandelnya ampun – ampunan. Gue kadang dikentutin, kadang ditanya kalo nginjek sendal orang dosa apa gak, kadang nanya kalo kuntilanak itu ada gak sampe ujungnya gue horor sendiri karena pulang ke rumah harus melewati kebun karet. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Kedua urusan skripsi gue, Ibunya adik – adik kepo juga ternyata sama judul skripsi gue yaitu; gue lupa judulnya apa. Serius lupa. Bentar gue liat dulu. (Nah ini) kalo kalian laki – laki, tolong baca pake satu tarikan nafas ya biar sah;

“PENINGKATAN FOSFAT LARUT DENGAN BERBAGAI CAMPURAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TAPIOKA DAN ASAM SULFAT PADA WAKTU INKUBASI BERBEDA”

Ngerti gak sama yang gue ketik di atas? Gue ragu deh. Keragu – raguan ini juga gue alami ketika Ibunya adik – adik bertanya soal itu. Ekspresinya sih menunjukkan ketertarikan, manggut – manggut asoy gitu. Karena gue gak mau ada roaming diantara kita alias gue males mau menjelaskan satu persatu perkara judul gue itu. Bisa pulang sampe besok kalo mau dijelasin. Oke gue hentikan celoteh gue soal skripsi. Kemudian gantian dengan kisah Ibunya adik – adik dulu dengan suami yang sekarang terpisah oleh jarak karena tuntutan pekerjaan. Dan sampe akhirnya tibalah satu hal itu. Iya itu, obrolan tentang masa depan.

“Tujuan hidup Mbak Ria apa?”

DEG!!! Kepala gue berasa dipaku eh dipentung. Pusing, mau jawab apa. Belum kepikiran atau bahkan sama sekali belum kepikiran di otak gue. Selama ini otak gue gak cuma bekerja untuk menyimpan isi skripsi tapi juga menghapus memori tentang masa lalu *ehm, ditambah lagi untuk meng-instal ulang pikiran tentang makhluk yang berstatus laki – laki. Belum lagi memikirkan tingkah anak – anaknya yang setiap hari bikin gue darah tinggi. Bayangin. Otak gue udah terseok – seok gitu masih ditambah dengan pertanyaan macem tujuan hidup. Maka jawaban gue cuma 2 huruf, kira – kira gini kalo gue tulis;

HA?

Nah itu jawaban gue. Cerdas bukan? Mendengar jawaban gue yang amat sangat brilian itu, maka Ibunya adik – adik pun gak mau lama – lama melihat raut wajah gue yang super duper syok, atau karena bisa juga karena males mau gotong – gotong gue kalo tiba – tiba gue pingsan atau geger otak. Ia langsung berbagi cerita tentang pilihannya sebagai wanita karir. Dulu sewaktu masih muda Ibunya adik – adik punya prinsip sama dengan gue…sebelumnya. Wanita harus berkerja meskipun sudah berumah tangga. Semua pasti tertuju dengan uang. Iya. Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Jadi wanita karir adalah hal yang bisa memenuhi keinginan karena semua gak bergantung dengan suami. Katanya gitu. Tapi setelah anak – anaknya makin beranjak tinggi, makin tumbuh besar, ia punya satu pertanyaan besar tentang tujuan hidup.

Tujuan hidupnya berubah, pada akhirnya Ibunya adik – adik ingin sekali mengurus anak – anak secara full time. Baru disadari adalah berkumpul dengan keluarga adalah tujuannya. Tapi itu semua ibarat nasi sudah menjadi bubur. Itulah akhir perbincangan gue malam itu.

...


Sepanjang perjalanan terngiang – ngiang dengan kata – kata ‘berkumpul dengan keluarga’. Sampe di rumah, gue melamunkan hal yang sama yaitu ‘berkumpul dengan keluarga’. Setelah gue pikir lagi, ada benarnya. Perhatian verbal mungkin gak akan berkurang kalo jadi wanita karir, tapi perhatian fisik? Dari situ, gue akhirnya mengubah mimpi yang tadinya gue mengharuskan diri buat bekerja cari duit juga supaya suami gak keberatan biaya kalo anak gue mau sekolah setinggi – tingginya. Malah kalo bisa cari kerjaan yang gajinya super gede. Tapi mengingat obrolan itu, dan melihat langsung dampaknya. Gue gak mau nanti bilang nasi jadi bubur juga. Kalo pun gue dibolehin kerja sama suami nantinya, gue pengen kerjaan yang jam kerjanya pasti. Atau kalo bisa yang jam kerjanya suka – suka udel gue. Karena perhatian verbal dan fisik buat keluarga itu gak boleh berkurang. Dan gue, Riana, saat itu 22 tahun, mulai detik itu akhirnya memberanikan diri buat bermimpi besar. Mimpi menjadi sosok yang punya daya keseimbangan terbaik di dunia dalam hal perhatian fisik dan verbal untuk keluarga.

3 komentar:

  1. semoga saja ya kakak bisa mempunyai daya keseimbangan terbaik di dunia dalam hal perhatian fisik dan verbal untuk keluarga,

    ReplyDelete
    Replies
    1. AMIIIIINNN ini mimpi terberat karena prakteknya bisa seumur hidup

      Delete

kalo ada komentar yang bisa memunculkan amarah emosi jiwa raga nusa dan bangsa, jangan marah ya kalo dihapus. boleh juga tulis ide kalian untuk postingan berikutnya di sini.