Sang Anak Rasa

Suara ombak berderu menyentuh bibir pantai
Membelai lembut ratusan juta pasir dan gugusan karang
Aku berdiri mematung di sana memperhatikan setiap jengkal buih yang terpahat
Mengapungkan lamunan tentang rasa

Ku tenggelamkan dalam – dalam angan itu
Sambil menyapa angin yang sedari tadi menyibak tubuhku
Akankah ia muncul ke permukaan?
Atau akan hanyut terbawa ajakan arus?
Atau mungkin akan selamanya tenggelam di dasar sana?


Pikiranku mulai berebut dengan hela nafas yang berhembus
Ku hirup sedikit rindu di sela – sela keduanya
Aku yang masih mematung di sana
Seketika terperajat
Aku melihat bentuk yang ku tenggelamkan tadi
Tidak! Itu bukan rasaku!
Itu anak rasaku
Biasa ku panggil dengan gelar; rasa rindu
Aku tersenyum lalu ia melambai dan pergi

Aku tak mau terlalu lama memperlihatkan bingkai wajahku
Bagiku itu geli
Tersenyum sendiri dengan sesuatu yang telah pergi
Aku pun kembali menerobos jauh tentang angan itu

Kali ini aku ditemani nyanyian pohon
Setiap ranting yang berlekuk mencoba mengayunkan nada
Ku lihat ada tarian juga di sana
Daun berkolaborasi dengan angin
Perpaduan yang apik

Pandanganku mengikuti kemana daun menari
Setiap ia akan jatuh, aku selalu mencoba menopangnya
Tapi ternyata aku salah
Ia bukan jatuh, ia hanya menari tanpa angin

Kali ini ia benar – benar menari tanpa angin
Ku lihat ia menyebrangi pasir dan karang
Terus meliuk – liuk
Persis ke arah rasa rinduku yang hilang

Aku masih mengamatinya dari kejauhan
Gerakannya seirama dengan musik pepohonan
Ombak di depanku tak lagi menyapa lembut
Kasar, keras

Apa ini?
Aku bukan lagi di tempat semula
Aku berada persis di sana
Iya, aku berada di tempat anak rinduku yang hilang

Ku cari dimana tadi daun itu
Aku kehilangan tariannya!
Aku marah pada angin
Musik dari pepohonan tak lagi ku dengar
Aku meringkuk di sana
Dingin, basah
Bukan hanya bajuku, tapi juga pipiku

Terhenyak sendiri membuatku tak mendengar apa pun
Tak merasakan lagi apa itu dingin
Aku bak makhluk tak punya indera peka
Aku tetap di sana sampai air langit datang
Aku juga sampai lupa itu namanya hujan
Yang aku ingat hanya rasa rinduku yang hilang

Ku harap ia kembali
Aku akan tetap menunggunya di sini
Memeluknya erat
Ku bawa ia ke bibir pantai
Tempat dimana ombak membelai lembut
Tempat dimana angin menyibak mesra
Tempat dimana pohon bernyanyi
Tempat dimana daun menari
Akan aku tunjukkan betapa indahnya tempatku
Tempat dimana aku belum mengapungkan rasa

Aku berjanji aku tidak menyesal
Menenggelamkannya membuatku melihatmu
Ia adalah rinduku
Sang Anak Rasa

4 komentar:

  1. Untuk puisi, ini kepanjangan say hihih kalo dijadiin prosa bagus tuh, cuma butuh analogi yg bikin bait per baik lebih nyambung dan ngiket

    ReplyDelete
    Replies
    1. hoo *nyatet* gak bakat puitis agaknya, ngelawak aja deh wkwkw

      Delete
  2. AHahaha loh kok gt??? Bisa tauuu tinggal dipoleees

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha oke deh kakaaaak akika belajar nulis yang kayak begini lagi deh bentuknya :D

      Delete

kalo ada komentar yang bisa memunculkan amarah emosi jiwa raga nusa dan bangsa, jangan marah ya kalo dihapus. boleh juga tulis ide kalian untuk postingan berikutnya di sini.