WAHYUDIN dengan KETANGGUHANNYA #1Day1Dream

Di tahun 2013, sosok Wahyudin khas dengan gayanya yang tanpa alas kaki alias nyeker, punya hati yang dermawan, punya rasa percaya diri yang besar, dan bercita – cita mulia hadir di salah satu talkshow. Ya, ia adalah pemulung tampan nan mempesona itu. Ia tinggal di Kampung Kalimanggis, Bekasi, Jawa Barat. Terlahir sebagai anak sulung dari 3 bersaudara. Ayah dan ibu Wahyu adalah petani yang menggarap lahan kosong milik orang lain. Dengan kondisi itu, orang tuanya sibuk memenuhi kebutuhan perut saja. Alhasil, sekolah pun bukan hal yang prioritas bagi orang tuanya.


Biaya Sendiri

Berawal dari kelas 4 SD, laki – laki yang lahir tanggal 12 Desember 1991 itu mulai khawatir…

“Apakah saya bisa melanjutkan sekolah ke SMP?”

Kelas 4 SD udah khawatir sama masa depannya coba gaes. Wahyu belajar nabung dari situ, uang jajannya disisihkan dengan harapan supaya bisa ngelanjutin sekolah ke SMP. Sampe akhirnya ia berkunjung ke rumah tetangganya yang berprofesi sebagai pemulung. Karena keinginannya yang kuat buat membiayai sekolah, maka Wahyu menyatakan ingin ikut menjadi pemulung dengan tetangganya itu. Bahkan saking polosnya, mas ganteng ini gak tau lho kalo pekerjaan itu namanya memulung. Ia cuma tau kalo ngumpulin sampah bisa jadi duit. Sejak itu Wahyu memulung mulai dari jam 10 malem sampe jam 2 pagi.

Rupiah demi rupiah ia kumpulkan hingga akhirnya menghasilkan uang. Sebagian dari uang tersebut digunakannya untuk membeli beberapa ekor anak ayam. Terkumpul sekitar satu jutaan rupiah buat saya masuk sekolah SMPN 28 Bekasi. Ketika SMP, ia masih terus memulung untuk mencukupi uang jajan sampe bayar SPP sekolah. Saat SMP itulah sang Nenek memberinya sepasang anak kambing untuk diternakkan. Hasilnya? Lagi – lagi untuk uang masuk sekolah ke SMA 7 Bekasi. Dirasa biaya makin tinggi, kemudian si Mas Ganteng ini selain memulung dan menjual hasil ternak, juga berjualan gorengan. Lulus dari SMA Wahyu lanjut kuliah di Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka). Beruntung, ia dapet beasiswa dari kampus dan Disdik DKI sehingga meringankan biaya kuliahnya. Sampe sekarang mungkin Wahyu masih terus memulung untuk meneruskan kuliah S2 atau bahkan S3. Duh, bayangin deh. Sekolah dengan uang sendiri, hasil keringet sendiri, gak minta sama orang tua. Kurang keren apalagi sih J

Pejantan Tangguh

Kalian kalo salah kostum sedikit aja malu gak? Takut dicibir sana sini. Ini beda konteks, bagi Wahyu pakaian bukan lagi soal. Dia dengan percaya diri memulung, dari tempat ke tempat, tanpa alas kaki. Yang mungkin aja di sana banyak pecahan kaca atau paku atau benda tajam lain. Tapi Wahyu gak malu. Meski banyak teman – temannya yang menganggap dia sebelah mata mungkin, sindiran dan cibiran diterima dengan kadang ada rasa kesal ketika mengetahui profesinya yang identik dengan sampah dan kotor. Tapi rasa itu disimpannya dengan baik. Malah si Mas Ganteng ini makin giat menjadi pemulung pas libur sekolah karena khawatir juga takut gak bisa melanjutkan kuliah. Tapi lihatlah sekarang, Wahyu udah berhasil jadi Sarjana. Baginya, rejeki yang ia cari halal, lalu kenapa harus malu?

Aktif dan Dermawan

Katanya ‘berasa jadi orang bodoh tanpa berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain’. Itu yang akhirnya membuat Wahyu berniat untuk menyantuni anak – anak yatim di sekitar komplek rumahnya. Mulai dari mendata sampe mencanangkan program santunannya. Ia pun punya ide untuk meminta sang ibu yang berjualan gorengan, untuk memperbanyak stok jualannya. Gorengan yang biasanya dijual seharga 500 rupiah per potong, sekarang ia naikkan jadi 750 rupiah. Dengan alokasi dana 250 rupiah untuk disumbangkan ke anak yatim. *tepuktangan* Ternyata aksinya ini banyak dapet simpati orang – orang di sekitar kompleknya. Malah banyak yang beli 3 gorengan dibayar 20 ribu tanpa minta dikembalikan sisanya. Gak cuma di situ, Wahyu juga penyiar radio loh. Kegiatan ini aktif semenjak ia kuliah.

Mencatat mimpi di tembok

Mimpi pertama yang ia tulis adalah membeli TV untuk Ibunya seharga satu juta rupiah. FYI, mimpi ini ditulis ketika Wahyu masih SMP. Anak SMP coy, belum ada setahun udah bisa mewujudkan mimpi itu jadi kenyataan. Berawal dari situ akhirnya ia berani menuliskan mimpi – mimpi selanjutnya. Seperti masuk SMA dan Kuliah S1 sudah berhasil ia wujudkan. Mungkin kalo sekarang Wahyu lanjut ke S2, tahun 2015 ini ia mungkin akan merampungkan studinya. Oya, satu lagi mimpinya; ia ingin punya buku. Iya, mimpi kita sama ternyata J

Dan bila kamu menginginkan sesuatu, semua unsur semesta akan berkonspirasi membantumu untuk mewujudkannya –Paoelo Coelho.

Semoga menginspirasi.

4 komentar:

  1. Slalu salut ama org yg mW brusaha gini drpd hnya bs minta2 ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyak! bener banget, kadang kita yang masih minta sama orang tua aja malu yah :)

      Delete
  2. Kenapa yah, setelah membaca kisah perjuangan Wahyudin, aku merasa berkaca pada diri sendiri. :') #eh wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. eh iya kah???? serius sih hahaha

      Delete

kalo ada komentar yang bisa memunculkan amarah emosi jiwa raga nusa dan bangsa, jangan marah ya kalo dihapus. boleh juga tulis ide kalian untuk postingan berikutnya di sini.