Biru dan Rinai

Langit sedang melukis awan dengan warna hitam. Aku melihat matahari bersembunyi, malas membantu katanya. Biru menjauh perlahan, lalu seolah ingin menghilang. Aku mengikuti jejaknya, hanya ingin bertanya 'mengapa pergi?' 

Sudah terlambat. Langit gesit menyulap dirinya menjadi lebih gelap. Biru benar - benar jauh saat ini. Aku duduk termangu memangku tangan, memikirkan nasib keduanya. Berkelakar sendiri, mengusap wajah dan berhenti meratap. 

Berdiri di bawah langit yang sibuk memang berisik. Kencang di sana, pelan sesekali. Iya, itu halilintar berdegam sesuka hati. Alih - alih meramaikan suasana. Padahal aku sama sekali tak terhibur, suasana beku menyisakan gulita. Siapa yang suka? Kamu suka? Aku tidak.

Selesai bertanya - tanya sendiri, tiba - tiba Rinai memaksa kakiku bergerak ke depan. Satu dengan yang lainnya satu irama. Ritme yang cepat, kalau kamu mau tahu. Rinai jatuh bukan tak sendiri. Ia biasa seperti itu jika langit selesai dari pekerjaanya. Ia biasa seperti itu jika dentuman halilintar menggebu bahkan bunyinya sampai tak beraturan. Rinai juga biasa membuatku lencun. Ya, seperti perkiraanmu. Aku dibuat basah kuyup.

"Rinai, hentikan!"

Aku memekik. Rinai membisu.

"Rinai, apa kau juga menyumsum sepertiku? Apa kau juga kelu?"

Pertanyaan bodoh memang, mana mungkin ia juga menggigil. 

"Rinai, aku keliru. Bisa maafkan aku sebentar? Aku repot sekali melawanmu yang berjuta - juta. Aku di sini sendiri"

Sudah bodoh, memelas pula. Tapi aku tidak suka dikasihani. Itu hanya bernegosiasi dengan zat cair yang sedari tadi memukuli tubuhku berkali - kali. 

"Rinai, pernahkah kamu melihat Biru? Aku mencarinya. Apa ia bersembunyi dengan matahari? Tidak perlu dijawab, Rinai. Aku hanya ingin jawabanmu dalam bentuk yang lain. Kembalikan Biru. Ia dibalik punggungmu, bukan?"

Selesai dengan pertanyaan terakhir, gemuruh berhenti berderit. Langit kembali sibuk mematut wajahnya. Awan gelap berbaris mengisi kursi kepulangan. Aku yang menciut, memeluk kaki. Hentakan matahari membuat Rinai merangsek pergi. Aku gagap melihat salinan warna yang dikerjakan langit. Lukisan itu membuat awan menjadi kembar dengan salju. Putih, lembut, mugkin dingin. Ah, Biru! Ia kembali, kawan. Kalian harus melihat saat aku didekapnya nanti. Mungkin esok, lusa, atau sebentar lagi.

Biru memang punya khasiat meneduhkan, ia bisa sembunyi lagi kapan saja Rinai datang. Tak bisa ku bayangkan jika keduanya datang bersamaan. Apakah beku dan hangat bersamaan? Kelu dan riuh bersamaan? Mencari Biru tidak, berlari dari Rinai pun tidak. Diam saja kah? Aku juga belum tahu bagaimana kelanjutannya.

17 komentar:

  1. Keren banget iniii. Aiiih galau kayaknya nih. Biru itu siapa lo...Rinai siapa ya?? Paham, tapi yang tau bgt maknanya cuma elo sendiri. Tapi kerasa banget suramnya ini. Keren!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biru itu :)
      Rinai itu :(
      Simple. Hahaha giliran yg bikin mata gue bengkak, lo bilang keren :D

      Delete
  2. Jawabannya,
    Biru itu Celemek.
    Rinai itu kompor.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biru itu maknanya langit cerah. Sedangkan rinai adalah tetesan hujan.

      Delete
  3. Jadi ikut mikir. Gimana kalo biru dan rinai datang berbarengan??
    Pasti keren! Sekaligus aneh haha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya aneh emang. Gak tau harus gimana dan ngapain.

      Delete
  4. Mbak riana, btw menyumsum itu apa ya? -_- --> "Rinai, apa kau juga menyumsum sepertiku? Apa kau juga kelu?"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menyumsum itu maknanya kedinginan sampai ke tulang sum sum dik.

      Delete
  5. Biru, aku jadi ingat kamu... Ost Banyu Biru By Slank

    ReplyDelete
  6. baru mampir, sudah suka tulisannya. salam kenal mbak^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal kak yulan :D terimakasih loh. ah jadi maluuu ^^

      Delete
  7. Dari tweet-tweet-ku yang kamu RT, entah kenapa aku sedikit paham dengan gambaran dari tulisan ini :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahaha sssttt jangan keras2. Bisik2 aja :D

      Delete
  8. selamat, biru-mu sudah kembali :-D
    tapi biru-ku malah beranjak pergi, entah kapan dia kan kembali

    ReplyDelete

kalo ada komentar yang bisa memunculkan amarah emosi jiwa raga nusa dan bangsa, jangan marah ya kalo dihapus. boleh juga tulis ide kalian untuk postingan berikutnya di sini.