Bukan dari Sebelah Kiri

"Jika saja aku bisa memutarbalikkan waktu, aku dulu tak akan pernah mau menerima cintamu. Mungkin juga aku terlalu munafik jika bicara tak cinta. Atau mungkin aku terlalu bodoh pernah mengatakannya. Bisa saja orang atau kamu sekalipun mengira aku gila..."

Seharusnya kata - kata itu aku ucapkan, namun kenyataannya aku tak pernah bisa mengungkapkannya hingga hari ini aku menyaksikan dua orang di hadapanku dengan pakaian serba putih. Wajah mereka berseri - seri. Lihatlah aku, aku di sini berada diantara para undangan lain. Berjejer rapi menyaksikan satu janji yang mereka ucapkan. Hampir bisa ku dengar semua bisikan - bisikan rasa ingin tahu di sini. Aku tak keberatan jika yang mereka lakukan hanya sebatas itu. Aku yang masih berusaha tegar dan mematung sendiri, tiba - tiba salah satu undangan menghampiriku.

"Kak Sania, aku tidak tau harus mengucapkan apa padamu. Berbahagia atau...."

"Aku berbahagia, Ras."

"Emm..aku ikut berbahagia atas kebahagiaan kak Sania"

Dia Rasti, adik tingkatku dulu sewaktu kuliah. Dialah yang mengenalkan aku dengan pengantin pria di pelaminan itu. Ya, dia suamiku. Aku menikah dengannya hampir sepuluh tahun. Aku pernah di sebelah kirinya dulu. Tak pernah terbayangkan olehku jika suatu hari aku akan melihat suamiku di pelaminan. Bukan dari sebelah kirinya, tapi di depannya. Jauh di depannya. Aku tak pernag membayangkan akan terjadi penandatangan surat ijin pernikahan, tandatanganku. Iya, bahkan setelah ini aku harus rela berbagi. Rela berbagi apa saja selain raga dan perhatian suami. Rela berbagi kebahagiaan yang sejujurnya tidak pernah aku rasakan lagi tujuh tahun terakhir. Aku harus rela...

Sekali lagi aku melihat suamiku bukan dari sebelah kirinya, semakin aku merasakan sakitnya. Sakit yang teramat dalam. Bahkan sakit yang ku bawa selama ini, penyakit yang membawa suamiku menikah lagi. Bahkan melebihi itu. Sangat sakit rasanya.

Biarkan aku sekali lagi melihat suamiku bukan dari sebelah kiri. Biarkan. Ku anggap ia sedang berbahagia, biarkan aku nanti akan mengucapkan hal yang sama seperti Rasti padaku.

"Aku turut berbahagia atas kebahagiaanmu"


...

Setelah itu, jangan biarkan aku melihat suamiku bukan dari sebelah kiri. Biarkan aku menyepi dari semua keramaian ini.


~

2 komentar:

  1. keki yah.. tapi bacanya sedih sedih sebel (?) btw lucu euy tulisan yang di komentarnya haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nulisnya aja gue kesel de. Hahaha ihihi :3

      Delete

kalo ada komentar yang bisa memunculkan amarah emosi jiwa raga nusa dan bangsa, jangan marah ya kalo dihapus. boleh juga tulis ide kalian untuk postingan berikutnya di sini.