(BUKAN) Sang Pemimpi

Lepas dari #1Day1Dream memang banyak banget yang gue dapet. Ada banyak perbaikan dalam diri gue (terutama) dan terhadap orang lain. Bukan berniat untuk endorse ya. Ini semata - mata untuk membantu sesama. Bahwa di postingan terakhir tentang Brigita  Laura yang ini, gue merasa gak total. Ada sesuatu yang harus gue selesaikan di sini.  Selain karena waktu itu tulisan gue tanpa wawancara, tapi saat ini niat gue untuk membantu menyebarkan kebaikan atau apapun bentuknya yang pasti ini bagus untuk kalian baca.  Kalian harus membaca ini, entah sekali dua kali, atau sesuka hati kalian.

Sesuai janji, hari Senin tanggal 2 Februari 2015 lalu Lola sudah bisa meluangkan waktunya untuk gue wawancara. Mungkin terlihat sia - sia karena blogging project sudah selesai. Tapi gue punya rasa penasaran yang jauh lebih besar yang mendorong gue untuk tetap menuliskannya. Hai gaes, betapa beruntungnya gue punya kesempatan itu. Kesediaan Lola yang baru pulang malam itu, mungkin hanya beberapa jam. Tapi efeknya ke gue pribadi, mungkin melekat selamanya.

Obrolan kami mulai dari perbincangan soal cita - cita sewaktu kecil, ya seperti biasanya. Lola bermimpi ingin menjadi bidan. Tapi mimpi itu pupus karena akhirnya dia mengambil kuliah di IPB Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata. Tahun pertama adalah tahun dimana ia merasa benar - benar jatuh cinta dengan kehutanan. Banyak hal yang ia pelajari di sana, dari mulai jadi photographer, guide, bekerja di dapur, hingga membuatkan kopi Menteri Kehutanan.


Salah satunya dari inisiatifnya membantu korban bencana gempa bumi. di salah satu desa yang indahnya seperti surga dengan hamparan sawah yang hijau membentang. Desa ini berada di kaki Gunung Halimun Salak. Di sana lah ia mendirikan Sekolah Rimbawan Kecil berbasis non formal, hal ini karena tidak adanya TK atau  PAUD di desa tersebut. Kecintaannya dengan anak - anak melahirkan pembelajaran yang sangat luar biasa. Dalam segi apa saja, terutama pengabdiannya kepada Indonesia.

Perjalanan menuju Sekolah Rimbawan Kecil

Potret desa di kaki Gunung Halimun Salak

Sekolah Rimbawan Kecil

anak - anak di Sekolah Rimbawan Kecil

"ada wanita asal Papua yang berkunjung ke Sekolah Rimbawan Kecil, dan sekarang dia berhasil mendirikan Sekolah Rimbawan Kecil juga di sana. Aku harus membuktikan bahwa kita bisa bermanfaat walaupun tidak punya uang. Aku berbisnis apa saja; donat, tabulapot, kaos, anggrek. Apa saja asal sekolah tetap berjalan. Kiriman uang hanya 800 ribu/ bulan, sedangkan pengeluaranku 500 ribu seminggu. Bahkan aku pernah jalan kaki ke Sekolah Rimbawan Kecil"

Oya, tentang bisnis Krama Kuno itu juga berawal dari hobi, tentang kecintaannya dengan kain nusantara dan barang - barang kuno. Berkaitan dengan itu, ia bertekad untuk bagaimana caranya membantu para penenun di pelosok negeri sana bertahan hingga sekarang. 


Di Pulau Sumba, mereka dikubur pun dengan puluhan lembar kain tenun


mereka adalah guru bagi Lola
benang - benang sebelum ditenun

Potret kehidupan penenun butuh waktu  bulan untuk 1 kain. Harganya hanya 2 juta rupiah.

"Ijazahku tidak berguna, tapi aku bersyukur bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain. Krama Kuno ada karena kecintaanku terhadap barang kuno. Sekolah Rimbawan Kecil ada karena kecintaanku terhadap anak - anak. Mereka ada karena hobiku, hobi yang menghasilkan karya. 


Ini juga karya Lola;





"Aku seperti ini karena INDONESIA terus memotivasiku. Aku tidak pernah bermimpi akan menjadi entrepreneur atau traveller. Aku menganggap pekerjaanku yang sebenarnya adalah kehutanan dan lingkungan. Hidupku terlalu spontan, aku memutuskan apapun akan aku lakukan tanpa pikir panjang. Selagi aku bisa, kenapa tidak? Aku hidup untuk hari ini. Aku selalu membuat hari ini sebaik - baiknya. Teman - teman bilang, aku bukan sang pemimpi. Aku peraih mimpi."


Brigita Laura adalah satu dari sekian banyak generasi muda yang ingin negara kita maju, tidak ada lagi yang putus sekolah, tidak ada lagi yang menikah di usia muda tanpa memikirkan pentingnya pendidikan. Bagaimana budaya tetap lestari. Bagaimana berkarya dan bermanfaat untuk sesama. Semoga menginspirasi. 

4 komentar:

  1. Sangat menginspirasi kak, saya belajar banyak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bang. Makasih sudah rajin meninggalkan jejak :)

      Delete
  2. Asli kereen banget ini temenmu, lulusan IPB toh, aku jg ada sepupu yg lulusan IPB dan kayanya seangkatan deh..

    Wes, tapi masih penasaran ini di kaki gunung salaknya di sebelah mananya yah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. angkatan 09 bukan dia? hahahaha kalo kamu tanya2 mungkin bakalan ketemu nih sama tempatnya :D

      Delete

kalo ada komentar yang bisa memunculkan amarah emosi jiwa raga nusa dan bangsa, jangan marah ya kalo dihapus. boleh juga tulis ide kalian untuk postingan berikutnya di sini.