Rasa yang satu ini

Kadang aku malas bersinggungan dengan rasa yang satu ini. Sesak, kadang mengganjal, malah sering pusing sendiri. Ingin mengangkatnya dalam suara, tapi berat. Ingin menelurkannya dalam tulisan, bobotnya malah bertambah. Ingin bergeming, tapi tak tabah. Untuk urusan ini aku memang bodoh. Rumus aksi - reaksi rasanya tak berhasil. Rumus kekekalan energi juga meleset. Malah rumus perpindahan kalor yang cocok sepertinya. Siapa yang fisikawan di sini? Bisa bantu aku?


Tapi sebentar, aku merasakan ada yang aneh dengan tabiat paru - paru. Jika bersentuhan dengan rasa yang satu ini, ia menggelembung seperti ingin loncat dari tubuh. Sesak, di tahan malah semakin sesak. Semakin ingin meloncat. Aku menahannya kepayahan. Bersandar sudah. Ah, dokter mana bisa mendiagnosis tanda dan gejala seperti ini.


Aku jadi semakin limbung. Bagaimana bisa pikiranku malah mengada - ada. Jangan - jangan aku salah memilih. Jangan - jangan aku salah melangkah. Jangan - jangan aku salah menerka. Ah, apalah itu terserah. Aku sibuk memarkir rasa yang satu ini di bawah rumbia, biar tak kehujanan air mata. Sayangnya, hanya ada rumbia. Tak ada seng atau besi yang kuat untuk dijadikan atap. Konstruksi yang buruk, bukan? Aku bukan arsitek, tapi semua orang yang bukan arsitek juga pasti tahu kalau atap rumbia tak sekokoh itu. 


Kalian lihat? Aku penat sekarang. Tapi aku masih punya satu yang mengganjal. Apa kalian sudah tahu maksud dari 'rasa yang satu ini'? Jika belum, mungkin kalian harus berkenalan dengan cinta. Katanya ia punya rasa pedas dari bumbu rahasia yaitu cemburu. Ya, benar. Aku sedang kepedasan. Lucu yah? Cinta itu memang punya selera humor tersendiri. Bayangkan saja jika aku benar - benar dibantu oleh fisikawan. Coba bayangkan jika aku benar - benar ke dokter. Atau aku meminta arsitek untuk khusus mengonstruksi atap. Bayangkan. 


Tapi hebatnya apa? Aku tidak melakukan apa yang kalian bayangkan tadi. Tapi aku bisa mengisolir rasa yang satu ini. Biarkan saja sesak, mengganjal, atau pusing tujuh keliling. Biarkan saja. Katanya itu bumbu rahasia, pasti istimewa, bukan? Biarkan saja, karena amarah hanya akan membuat kalor bepindah semakin cepat. Biarkan saja, nanti juga paru - paru kelelahan meloncat - loncat. Biarkan saja, nanti juga hujan air mata akan reda.


Biarkan saja, aku punya tabir bernama ketulusan; yang cukup membantu menangkis rasa yang satu ini. Rasa yang banyak orang bilang sebagai tanda cinta.

14 komentar:

  1. Hahahah :v Rumus Fisika segala dibawa bawa :D kasian atuh neng penemunya wkkw

    ReplyDelete
  2. Enak banget bacanya... :) Keren tulisannya kk...

    ReplyDelete
  3. Sederhananya, rasa itu ingin dibalas. Maka setelahnya semua menjadi jelas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rasa yang seharusnya muncul dengan hati2. Bukan sembarang hadir melintas begitu saja :)

      Delete
  4. Tulisan yang penuh dengan kosakata yang beragam. Nyaman bacanya.

    ReplyDelete
  5. Diksinya udah beragam tuh dan emang gaya tulisannya elo banget. Korelasi rasa sm analogi fisika juga relevan. Suka!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaaaaaakkkkk disukain sama cewek kece badai memesonaaaaa ahahaha hoooeekks

      Delete
  6. Seperti nano-nano, rame rasanya #eh
    BTW keren banget kak tulisannya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ehehe iklan. Bayar mas bocah :D makasih yaaaa hihihi

      Delete
  7. Tetep mbak, bagian kalimat klimaksnya yang paling menggigit. Keren mbak :)) apalagi itu arsitek dibawa bawa juga :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha gak tau dik itu kenapa dibawa2. makasih sudah mampir loh

      Delete

kalo ada komentar yang bisa memunculkan amarah emosi jiwa raga nusa dan bangsa, jangan marah ya kalo dihapus. boleh juga tulis ide kalian untuk postingan berikutnya di sini.