Semua Tentang Ibu

Tahukah engkau, bu? Aku tidak punya kata pengantar yang syahdu untuk mengawali tulisanku. Padahal aku sudah puluhan kali menulis berbagai hal. Aku bisa mengemasnya dengan apik. Kali ini, anggap saja sama seperti dulu ketika aku menjamah dunia. bahwa tak ada suara merdu yang terdengar. Hanya tangisku. Ibu, surat ini pun di awali dengan tangisku. Tangis yang berbeda. Sesekali aku menyeka ujung mata, lalu melanjutkan tulisan ini. Tidak, bukan sesekali tetapi berkali - kali. Ibu, dulu tangisku bisa kau dengar. Tapi tidak untuk saat ini. Jangan, jangan sampai Ibu mendengar.
...

Aku ingat, Bu. Semua pesan tentang pelajaran hidup; tentang cara bertata krama, cara menghargai pendapat orang lain, cara menghadapi masalah, dan cara berlatih dengan kesabaran. Semua pesan tentang kepribadian, agama, budaya, hingga kesehatan. Ibu, aku merasa memiliki semua jenis pekerjaan dalam dirimu. Ibu bisa menjadi koki terhebat, semua masakan ibu tidak ada yang tidak enak. Ibu bisa menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, bahkan aku tak perlu duduk di ruangan kelas. Dimana saja Ibu bisa mengajariku. Kapan saja Ibu bisa membimbingku. Ibu bisa menjadi penegak hukum terbaik, membela dan memberi sanksi dengan bijak atas semua kesalahanku. Ibu juga bisa menjadi psikolog paling canggih, bisa menerka dan memberi solusi penyebab semua kegundahan. Ibu juga penerjemah tak terbantahkan, bukan cuma bahasa lisanku yang bisa Ibu artikan, tetapi juga bahasa tubuh. Ibu pun bisa jadi dokter spesialis terakurat, mengobati luka ketika aku terkilir dalam menjejak dunia. 

Sudah ku bilang, Ibu bisa menjadi apa saja. Bukan hanya menjadi koki terhebat, pahlawan tanpa tanda jasa, penegak hukum terbaik, psikolog paling canggih, atau penerjemah tak terbantahkan, bahkan dokter spesialis terakurat sekalipun. Masih banyak, Ibu. Banyak sekali. 

...

Ibu, aku malu. Apa Ibu sudah tahu kalau aku sedang malu saat ini? Aku belum bisa membahagiakan Ibu. Aku malu. 

Ibu, aku rindu. Apa Ibu sudah tahu kalau aku sedang rindu saat ini? Aku menulis tentang Ibu. Setiap satu huruf ini adalah secuil rindu, Bu. Hanya secuil. 

Ibu, aku cinta. Apa Ibu sudah tahu kalau aku sedang mencintai saat ini? Aku mendoakan Ibu. Setiap hela nafas di setiap doaku itu terselip cinta, Bu. Begitu besar. Sangat besar.

Ibu, aku menangis. Apa Ibu sudah tahu kalau aku sedang menangis saat ini? Aku pernah membantah Ibu. Aku pernah berkata kasar, Bu. Aku pernah pura - pura tidak mendengar panggilan Ibu. Aku pernah malas membantu pekerjaan Ibu di rumah. Aku pernah sesekali membuat Ibu marah. Aku pernah melakukan apa yang Ibu tidak suka. Maafkan aku.

Tetapi.....

Aku tidak pernah berdusta, Bu. Aku bukan tidak mau berdusta, aku hanya tidak bisa. Ibu tahu segalanya. Setiap jengkal tubuhku, Ibu tahu. Setiap jejak langkahku, Ibu tahu. Ibu tahu apa saja tentangku. 


Ibu, aku pun tak pernah bisa berdusta tentang ini. 
Tentang aku yang mencintai Ibu.


Semua tentang Ibu.








Tulisan ini aku sertakan dalam blogging project #ILoveMom ~ "Hari Cinta untuk Ibu" oleh Penerbit @Bukune 

8 komentar:

  1. Cuma bisa meneteskan air mata saat membaca postingan ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. gue juga. dari awal nulis sampe selesai :")

      Delete
  2. Riiiiiiii, aku trenyuh baca ini

    Regards --- Ayaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kah? Aku semalem sampe susah mau berentiin air mata :( aku baca lagi gitu lagi :(

      Delete
  3. tidak ada anak yang bisa berdusta tentang cinta yang ia punya untuk ibunya, termasuk saya :)

    ReplyDelete
  4. Akhirnya tuntas bacanya, (: Putri Dugong kalau lagi waras begini nih. Bikin orang merenung huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha diam kau pangeran Dugong. Gue bukan putrinya, Agi nooohh :D

      Delete

kalo ada komentar yang bisa memunculkan amarah emosi jiwa raga nusa dan bangsa, jangan marah ya kalo dihapus. boleh juga tulis ide kalian untuk postingan berikutnya di sini.