sosmed-mu harimau mu

Tadinya gue udah selesai nulis ini, tapi karena kesabaran lagi menguji gue. Tulisan ini terhapus. Hvft. Apeu banget deh ah. Sabar...sabar karena sabar itu gak ada batasnya. Jadi harus sabar terus. Demi kalian nih gue mau nulis lagi. Kata salah satu temen blogger, ini gue lagi diuji dan katanya cobaan blogger itu emang berat. Gue makin merasa masih ingusan di dunia ini #NgomongApaEntah

Oke lanjut ke judul, beberapa hari kemarin, gue dibuat bingung dengan status dua temen gue. Mereka seolah sedang perang dunia ke 65,7095 rupiah. Sebagai teman dari kedua orang ini, gue diem aja. Abis gue bingung mau gimana, jadi ya biarin aja lah. Nanti disangka gue ikut campur urusan mereka. Atau bisa jadi nanti gue jadi sasaran. Oke, satu jam berlalu mereka masih begitu. Dua jam berlalu mereka masih begitu juga. Tiga jam masih begitu. Sampe besok ternyata masih begitu. Sampe pada akhirnya salah satu diantara mereka ada yang frontal menyebutkan nama, nama lengkap pula. Gue udah punya alasan buat kepo, karena nama lengkap itu sahabat gue dari TK sampe se-tua ini. Ternyata masalahnya karena kesalahpahaman dari status salah satu media sosial. Si A maksudnya baik sih katanya, tapi Si B menafsirkan hal yang sebaliknya. Dan itu semakin diperparah dengan operator yang membuat pesan dari kedua orang ini jadi telat masuk alias pending. Maka keduanya semakin menjadi - jadi hingga memutuskan untuk tidak berteman lagi di dunia maya, dan itu akan otomatis berlaku di dunia nyata...katanya.

See? Masalahnya sepele. Teramat sepele malah. Tapi karena pertengkaran sering terjadi berkali - kali. Atau kesalahpahaman juga datang silih berganti. Lama - lama salah satu dari keduanya jengah. Padahal pertemanan mereka terbilang cukup lama lho. Semoga gak lama deh mereka begitu. Tapi biasanya sih kalo cewek sama cewek udah marahan, biasanya lama. Kenapa? Karena gue pernah mengalaminya #Tjurhat.

Pengalaman memang guru yang baik. Ada yang bilang terbaik. Tapi kala
u pengalaman soal ini gue bilang, ini pengalaman terpahit yang pernah ada. Gue dan kalian yang membaca pasti juga pernah mengalami hal yang sama. Fase kesalahpahaman di sosmed memang seolah jadi fase wajib setelah fase alay. Mungkin besarnya efek ke pribadi masing - masing juga berbeda. Ada yang mungkin ekstrim, ada yang sangat ekstrim, ada juga yang cuek bebek. Kalo gue? Oke tjurhat dikit gak apa - apa ya?

Memang sih, ini juga kesalahan datang dari diri gue juga. Kita sebagai manusia harus punya mental ksatria, yaitu bisa mengakui kesalahan diri sendiri. Tapi karena gue dulu too much dalam mengakui, jatuhnya malah menyalahkan diri sendiri. Ceritanya, gue membuat satu status yang bisa bermakna dua alias ambigu. Gue juga comot dari quote orang yang entah siapa, dan gue mengakui perkataannya itu benar. Menurut gue pribadi. Namun dibalik itu, gue gak berpikir ulang kalo ada orang lain yang kemungkinan akan salah menafsirkan. Yah, itu lah cerobohnya. Hingga hal ini membuat semua yang baik - baik saja jadi babalatak, berantakan, bahkan sulit buat diperbaiki lagi. Bisa gue gambarkan, seolah diantara kami ada tembok besar, tinggi, panjang, dan lebar. Tembok itu namanya gengsi. Wanita emang paling juara soal ini.


....


Tapi semua itu dulu. Gue udah beranjak jauh meninggalkan fase bedebah itu. Sendiri memaafkan semua yang sudah lewat. Memulai hal yang baru dengan segala mimpi - mimpi. Menyemangati diri sendiri seolah tak pernah terjadi apa - apa. Berdamai dengan masa lalu, sampai berani menuliskan hal ini mungkin kalian menganggap ini biasa saja. Tapi biarlah, gue gak bermaksut mengangkat kisah yang pilu. Tapi gue cuma ingin siapa pun yang mungkin lagi melewati fase ini, coba belajar untuk memaafkan semuanya. Mulai dari memaafkan diri sendiri, baru orang lain. Walaupun itu gak diminta oleh yang bersangkutan. Sekarang gue lagi berjuang untuk merobohkan 'tembok' itu. Dan sekarang semua sudah baik - baik saja. Memang sulit, tapi pertemanan yang sudah terjalin lama seharusnya jadi kekuatan untuk memaafkan. Bukan menggurui, gue pun sudah mengalaminya. Gue cuma mau menunjukkan bahwa keadaan gak akan bisa mengubah tulusnya pertemanan. Semua orang pernah salah, hanya kapasitasnya yang berbeda. Kita mungkin merasa sia - sia, tapi niat baik tidak ada yang sia - sia.

Gaes. Menghargai lebih bersahaja ketimbang menghakimi. Hati - hati, karena saat ini kita sedang berada di jaman sosmed-mu harimau mu. Memaafkan gak harus menunggu lebaran, kan? Hehe




8 komentar:

  1. Namanya juga sosmed kak, apa aja bisa terjadi :D

    ReplyDelete
  2. Pernah punya pengalaman pahit juga gegara status sosmed...

    Dan gara-gara itu dulu sempat sensi berat, apa-apa kalau ada teman yang update status nyinyir, pasti langsung merasa kalau yanyang dimaksud itu aku... padahal kan belum tentu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Penyakitnya sama ya. Lalu obatnya gimana itu mbak?

      Delete
  3. pernah juga nih berantem sama temen deket gara-gara socmed. tapi setelah beberapa bulan... kita saling kangen! hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya ya? sama dong. dan sekarang udah baik - baik aja kan?

      Delete
  4. Hahaha bener juga nih mbak, untung aja aku dilatih sama orang tua jadi orang sabar.. jadi sabar jalan terus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah pertahankan!! kalo otak gue lagi bener ya kayak gitu dik nulisnya hahaha

      Delete

kalo ada komentar yang bisa memunculkan amarah emosi jiwa raga nusa dan bangsa, jangan marah ya kalo dihapus. boleh juga tulis ide kalian untuk postingan berikutnya di sini.