3 Hari menjadi #sahabatJKN #lawanTB

sahabat JKN

Mengikuti workshop bersama dengan 39 blogger lain yang berasal dari berbagai daerah begitu menyenangkan. Di sana kami berkomitmen untuk menyebarkan informasi yang telah didapatkan selama 3 hari kepada masyarakat luas. Karena mungkin di sekitar kita secara tidak disadari memiliki tanda dan gejala TB (lihat juga postingan ini). 

Day 1


Di hari pertama ini tanggal 3 Maret 2015 adalah hari dimana aku mendapatkan teman dan ilmu baru. Coba bayangkan, hanya dengan suka nge-twit dan nge-blog bisa mendapatkan undangan gratis. Ditambah lagi dengan moment mengharu biru yang ada di hari selanjutnya. 

Hari pertama diisi dengan perkenalan yang menggelitik dari para blogger dan panitia. Semua terasa menyenangkan karena apalagi yang bisa didustakan ketika semua orang yang memiliki hobi yang sama telah berkumpul. Terlebih lagi dalam kegiatan yang bermanfaat seperti ini. Sambutan demi sambutan membakar semangat kami untuk membagikan informasi yang bermanfaat ini. Alhamdulillah.

Sambutan pertama oleh Direktur PPML tentang Situasi dan Kebijakan Program Pengendalian TB. Setelah itu dilanjutkan dengan presentasi dan diskusi panel; Pencegahan dan Pengobatan TB Anak, TB-MDR, dan TB-HIV. Materi itu kami terima hingga malam hari pukul 20.00 WIB tentu dengan ishoma. Jujur saja, aku pun baru mengetahui informasi ini, namun kami sebagai blogger berkomitmen untuk menyebarluaskan kepada masyarakat saat itu juga. Sehingga kemampuan multitasking kami sangat dibutuhkan. Begitu mendengar materi lalu kemudian langsung di-share lewat akun twitter kami masing - masing. Jadi pertama - tama eyang @anjarisme memberitahukan kepada pemateri bahwa jangan tersinggung dengan sikap kami yang terlihat dari luar tidak mendengarkan. Bagaimana tidak, kami sibuk sendiri dengan gadget dan laptop (kelihatannya). Padahal kami mendengarkan dengan sangat seksama apa yang beliau - beliau di depan sampaikan. Sungguh.


Diskusi semakin menarik sebab diantara kami ada juga mantan pasien TB biasa, TB-MDR, dan juga pengidap HIV atau biasa disebut ODHA. Ada juga yang anggota keluarganya adalah pasien TB. Sehingga ada suatu interaksi yang harmonis, bukan cuma berbagi ilmu tapi juga berbagi pengalaman. Memang bukan kabar baik, namun ada yang lebih baik dari kabar baik apapun. Bahwa mereka bisa sembuh dan masih menjalani pengobatan dengan semangat kehidupan yang mungkin jauh lebih besar daripada aku. Aku malu? Tentu saja.

Day 2

Hari rabu tanggal 4 Maret 2015 pukul 8 pagi kami sudah berkumpul di lobi hotel. Hari ini kami akan terjun langsung ke rumah sakit. Rumah sakit yang dipilih adalah Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Letaknya memang tidakjauh dari hotel tempat kami menginap, namun karena jumlah kami yang cukup banyak sehingga panitia menyediakan akomodasi berupa bus. Menyenangkan. 

Sesampainya di rumah sakit, kami disambut hangat oleh para dokter. Kami diberi materi dan beberapa pesan untuk menjaga sikap dan kesopanan. Sebenarnya semalam pun kami sudah diberi pesan oleh panitia untuk menjaga sikap kami di rumah sakit. Harap maklum saja, jika kami sudah berkumpul maka ada saja hal - hal yang membuat kami tertawa. Maka dari itu, sikap dan tata krama kami harus dijaga. Sebab di sana ada orang yang sakit, ada doa - doa yang menyelimuti udara, ada harapan - harapan kesembuhan yang merajalela, ada duka yang mungkin mendalam, ada canda yang tertahan, dan atmosfer kesedihan yang lain. Kami dituntut untuk mengedepankan kenyamanan pasien. Bertanya dan mengobrol boleh saja, tapi mengambil gambar dan menyebarkannya itu dilarang. Privasi mereka harus tetap terjaga.

Suasana ketika Dr. Arto Yuwono memberikan sambutan di RSHS Bandung

Oh ya, kami diberi masker cuma - cuma untuk pengamanan, namanya masker N95. Masker ini berbeda dengan biasanya, ini adalah masker khusus untuk TB. Dengan memakai masker kita bisa terhindar dari TB dengan persentase 80%. Tentu dengan petunjuk penggunan yang benar. Mulai dari klinik pengobatan TB tahap pertama, hingga tahap kedua. Kemudian ke klinik pengobatan untuk pengidap HIV. Di sana kami diperbolehkan untuk berdiskusi dengan pasien dan dokter yang menanganinya. Selain panitia dan pegawai rumah sakit, kami juga didampingi oleh mantan pasien TB yang sudah sembuh. Keren ya? Semoga mereka yang sedang berjuang di sana mendapat kesembuhan dari Yang Maha Menyembuhkan. Amiin.

Usai berkunjung ke RSHS Bandung


***

Pukul 12 siang kami sudah dalam perjalanan kembali ke hotel. Makan siang lalu melanjutkan agenda selanjutnya yaitu pojok interkasi dengan mantan pasien TB. Di sini lah rasa mengharu biru muncul. Ketika satu - persatu pasien TB berbagi pengalaman tentang perjuangannya untuk sembuh. Ternyata faktor sosial justru menjadi topik utama dalam pemasalahan yang ada.

Mantan pasien pertama bercerita tentang perjuangannya untuk sembuh hingga berujung pada perceraian. Bahkan sampai kehilangan anak ketika sedang hamil. Hati siapa yang tidak teriris mendengar cerita tersebut. Bertahun - tahun beliau berjuang, hingga sampai saat ini sembuh. Berat badan kembali pulih, bahkan jauh lebih cantik dari sebelumnya. Bukan karena apa - apa, tapi karena beliau saat ini menjadi relawan untuk menyemangati para pasien di rumah sakit. Mulia bukan?

Mantan pasien yang kedua bercerita tentang kisahnya yang terkena TB ketika sedang hamil. Beliau sampai tak bisa berkata - kata ketika ditanya, sampai harus menangis tergugu ketika bercerita. Jawabannya karena beliau harus dipisahkan dengan anaknya hingga 1 tahun lamanya dari setelah melahirkan. Bayangkan saja, setelah mengandung 9 bulan lalu ketika lahir terpaksa tidak boleh ada kontak langsung dengan sang anak tercinta. Kesedihan yang mendalam itu kini sudah terbayar. Beliau sudah bisa bertemu dengan anaknya karena sudah sembuh.

Dua di atas adalah mantan pasien TB dan 2 diantaranya sedang menjalani pengobatan. Narasumber ke 5 adalah anak kecil yang terkena TB ketika balita. Badannya dulu kurus sekali, dan tanda TB pada anak yang tidak bisa diprediksi sepeti layaknya orang dewasa. Melainkan melalui sistem skoring baru bisa terlihat apakah anak terkena TB atau tidak. Selain itu, biasanya anak - anak juga sulit untuk mengeluarkan dahak. Cerita tentang anak ini diwakilkan oleh neneknya. Aku sendiri tidak bisa berkata apapun mendengar semuanya. Cuma bisa menitikkan air mata. Tapi jangan salah, anak ini punya mimpi akan menjadi ustadz. Subhanalloh.

Doakan yah semoga mereka semua sehat seperti sedia kala. Jangan lagi ada diskriminasi di masyarakat. Jangan ada lagi bumbu - bumbu tidak menyenangkan dari penilaian orang lain terhadap TB. Mengapa? karena TB bisa disembuhkan. Tidak perlu ada kewaspadaan berlebih dari masyarakat. Hanya saja tetap berpegang pada prinsip pencegahan yang sudah saya tuliskan di postingan sebelumnya.

Sore harinya, kami menyempatkan diri untuk berjalan - jalan menyisiri kota Bandung. Ini serius kami benar - benar berjalan kaki. Hampir sebagian ikut dan aku terbilang muda dibanding sebagian lain. Tapi mereka justru tidak berkeluh lelah atau meminta untuk beristirahat. Mereka semua benar - benar wanita yang kuat yah. Dan ternyata satu kesenanganku yang terealisasi juga, yaitu berjalan kaki. Iya, bersama mereka. Senangnya.

***

Malam harinya pukul 20.00 WIB, kami kembali berkumpul untuk nonton bareng dengan tema TB. Selajutnya acara bebas, di sini diadakan sharing pengalaman selama kegiatan kemarin dan hari ini. Tentang apa yang sudah didapatkan, tentang apa yang sudah dipelajari, tentang apa yang sudah secara tidak langsung 'menampar' keras hati kami, khususnya aku sendiri. Selain itu, ada ajang unjuk kebolehan dadakan dari beberapa blogger untuk berpuisi dan menceritakan cerpen. Ah, betapa hebat mereka. Bahkan panitia penyelenggara pun sampai berkeinginan untuk melanjutkan hobi menulisnya. Seperti kami.


Kak Nurul membawakan puisi karya kak Icha



Day 3

Hari ini kami bersiap kembali menaiki bus yang sudah disediakan oleh panitia. Kali ini kami akan berkunjung ke puskesmas yang sudah bekerja sama dengan beberapa instansi dan rumah sakit untuk menangani pasien TB. Kami berkunjung ke Puskesmas Garuda pagi ini. Di sana kami pun disambut dengan hangat oleh para pegawai puskesmas. Ada beberapa materi yang kami simak, walaupun agak kesulitan untuk menyebarluaskannya ke media sosial. Sebab si ibu sangat cepat sekali dalam penyampaiannya. Tapi tenang, bukan kami namanya kalau tidak bisa 'mencuri' ilmu untuk sekedar satu atau dua kali tweet. Tapi kami senang dan sangat menikmati acara ini. Intinya Puskesmas Garuda ini memiliki beberapa program pelayanaan untuk TB. Salah satunya yaitu dengan melakukan penjaringan pada anak yang baru masuk sekolah agar anak - anak yang terkena TB dapat terlacak. Selain itu, puskesmas Garuda ini juga bekerja sama dengan beberapa instansi untuk menigkatkan pelayananan TB. Di sana kami diberi peragaan cuci tangan yang baik lho, sampai dinyanyikan. Jadi seolah kembali lagi ke jaman ketika kami masih di taman kanak - kanak.


Peragaan cuci tangan yang benar oleh Ibu Dewi dan Ibu Dwi


Dan itu adalah pelajaran terakhir yang kami terima. Lepas dari acara ini, kami sudah diperbolehkan pulang. Walaupun ada rasa berat untuk sebuah perpisahan *halah.

***

3 hari yang begitu menyenangkan. Bisa berbagi dengan sesama walaupun hanya dengan media sosial. Bukan lagi sekedar membuat tulisan yang tidak ada manfaatnya mungkin. Tapi kali ini beberapa tulisan bisa dijadikan pelajaran. Mungkin masih banyak orang lain yang lebih hebat untuk menuliskan kisahnya, tapi inilah bagiku. 3 hari yang unforgetable. Sama sekali tidak ada sekat sekalipun kami baru pertama kali bertemu. Punya teman sekamar yang juga lincah walaupun usia udah seperti ibuku, bahkan aku memanggilnya dengan kakak. Semangat dari salah satu ODHA diantara kami pun turut menyelimuti atmosfer workshop sehingga kami tidak pernah habis mengucap decak kagum kepada beliau. Aku menyapanya dengan sebutan kakak. Kakak, hebat. Semoga malika (anak kakak), menjadi penyemangat dan pengingat tentang indahnya kehidupan di kemudian hari. Amiin.


Terima kasih untuk eyang @anjarisme
Terima kasih untuk Kementrian Kesehatan Republik Indonesia @puskomdepkes
Terima kasih untuk panitia penyelenggara acara Workshop Blogger 
Terima kasih untuk teman - teman blogger lain

5 komentar:

kalo ada komentar yang bisa memunculkan amarah emosi jiwa raga nusa dan bangsa, jangan marah ya kalo dihapus. boleh juga tulis ide kalian untuk postingan berikutnya di sini.