Ketika Cermin 'Berkata' Dewasa Part 2


Inilah yang selalu menjadi penghiburku setiap kali memikirkan hubunganku dengan Vansa. Wanita yang akan kunikahi empat bulan lagi. Wanita yang akan menjadi cahaya keluarga kecilku kelak. Wanita yang akan menjadi satu - satunya menantu Ayah dan Ibuku. Sudah pasti ia sangat istimewa bagiku, bagi keluargaku, saat ini dan semoga sampai nanti. 

Desember 2012. Sungguh ini hanya kebetulan saja, atau anggap saja begitu. Bahwa banyak orang yang mengatakan jika bulan ini penuh dengan kerisauan dan kegundahan. Aku tidak mengaitkan semua yang kurasakan dengan bulan ini. Sama sekali tidak. Ada banyak hal yang mengganggu tidurku setiap malam. Ada banyak pertanyaan - pertanyaan yang muncul lalu meninggalkan bekas yang lama sekali untuk dilupakan. Dan ada yang harus diperbaiki dari hubungan ini. Harus. 

Masih pukul 7 malam, sejenak memejamkan mata dan merebahkan tubuh di tempat tidur. Penat dan lelah setelah seharian bekerja sudah pasti kubawa pulang. Berbagai macam project pembukaan lahan baru di Kalimantan membuat seisi kantor penuh dengan kesibukan. Ya, setidaknya, kesibukan itu membantuku sedikit melupakan beban pikiran yang aku rasakan. Ah, helaan nafas panjang sangat membantu di saat - saat seperti ini. Kuseret paksa kaki melangkah mendekati jendela. Rasanya malam ini juga aku harus bertemu dengan Vansa! Aku yang memintanya untuk mau menikahiku. Aku juga yang harus memulai untuk memperbaiki agar semua berjalan semestinya. Kulirik smartphone-ku yang mungkin hampir tidak berdering karena chat penting dan sejenisnya. Hanya email - email yang juga tidak harus kubaca satu persatu. Ah, Vansa! Ya, malam ini juga!


N   :  Van, bisa ketemu?

V   :  Sekarang? Dimana? Aku baru keluar kantor. 
        Nanti langsung aja.
        Gak usah jemput.

N   :  Iya. Di tempat biasa. See u there!


V   :  Ya.



Awan hitam berarak - arak menyelimuti langit. Tidak ada cahaya di atas sana. Motor yang kutunggangi bergerak dengan kecepatan tinggi. Melesat, membelah keramaian kota. Kilat - kilat seolah berpadu dengan sorot lampu kendaraan. Menyilaukan mata. Kupacu lebih cepat lagi. Lebih cepat lagi. Seolah ingin cepat menumpahkan segala perasaan yang berkecamuk. Bunyi klakson dari kendaraan lain sengaja kuhiraukan. Tidak ada yang menghentikanku malam ini. Semua harus diselesaikan.



~~~



"Lama ya, Han? Maaf. Tadi macet banget, biasa deh" 

"Lumayan sih"

"Gimana, Han?"

"Apanya?"

"Tadi yang mau kamu bicarakan? Aku jadi sedikit gugup nih"

Vansa tersenyum.

Oh Tuhan. Bagaimana aku bisa membicarakannya malam ini? Rasanya tadi ingin sekali menumpahkan segalanya. Tapi mengapa setelah melihat senyuman itu semua seperti baik - baik saja? Mengapa selalu seperti ini, Tuhan? Dia kah orangnya? Benarkah senyuman itu yang akan aku lihat setiap harinya? Dia kah? 

Tentu semua pertanyaan itu tidak kuucapkan dengan lantang. Semua tenggelam begitu saja bersamaan dengan kegundahan yang menyiksa. Ya, sejujurnya memang seperti itu. Kutatap wajahnya sesekali. Manis. Tidak berlebihan. Laki - laki manapun tidak akan berani melepasnya. Tidak akan. Tapi malam ini, aku berniat untuk sedikit merenggangkan apa yang sudah ada ditanganku. Semakin lama aku simpan semua ini, artinya sama saja dengan memelihara bom waktu. Sudah seharusnya aku katakan. Meski berat, meski aku pun tak ingin. Tapi aku yakin, waktu yang akan mengajarkan caranya. Dan proses yang akan menemukan jawabannya.




~~~

Dengarkan, Vansa.

Sesak. Sangat sesak. Sia - siakah malam ini? Apa yang sudah aku katakan tadi? Lihat, tadi ia menangis. Sekarang ia pergi. Semacam ingin mengejar namun aku rasa reaksinya wajar. Biarlah ia sendiri. Biarlah aku juga sendiri. Sementara saja memberi jarak agar apa yang kukatakan tadi tidak terhapus. Sekalipun dengan hujan yang kini serta - merta jatuh. Deras.

Sekali ini saja, Vansa. Sekali ini saja. Aku berjanji atas nama gemuruh di malam ini. Walaupun kalimatku tidak selesai, setidaknya kamu tau apa yang seharusnya kita lakukan. Tidakkah kamu menyadari bahwa kita tidak baik - baik saja? Tidakkah kamu rasakan, kapan terakhir kali kita 'berbicara'? Kapan terakhir kali kita 'mendengarkan'? Kita. Bukan salah satu dari kita.

Apakah aku menyakitimu, Van?

Apakah aku keterlaluan?

Apakah terlalu lama?

Lebih lama mana dengan kehambaran yang sudah mengganggu pikiranku?

Tidakkah kamu menyadarinya?

Mengapa sulit sekali mengajakmu 'berbicara'?

Dengarkan, Vansa. Dengarkan.



                                                                                                                                                                                                            ....bersambung

2 komentar:

  1. Hihi, ceritanya bikin penasaran, ayo dong buruan update cerita sambungannya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahaha lagi diusahakan setiap hari apdet. maksimal tiga hari paling lambat. sabar yah :D

      Delete

kalo ada komentar yang bisa memunculkan amarah emosi jiwa raga nusa dan bangsa, jangan marah ya kalo dihapus. boleh juga tulis ide kalian untuk postingan berikutnya di sini.