Ketika Cermin 'Berkata' Dewasa PART 3


Satu pertanyaan yang terus - menerus menerorku malam ini. Gemericik air masih terdengar, kadang diselingi oleh nyanyian katak. Sudah tidak hujan di luar sana, tapi di pipiku masih deras. Sangat deras. Malam semakin larut, semakin aku tenggelam dalam potongan - potongan kenangan bersama Nehan. Empat tahun itu terasa berputar di sekitarku. Sungguh. Aku tidak melebih - lebihkan apa yang sedang aku rasakan sekarang. Andai saja aku tau Nehan akan berkata seperti itu malam ini. Tidak akan aku temui, tidak akan aku datang malam ini. 

Entah mungkin sudah lebih dari dua jam aku sukses membuang air mataku. Berlembar - lembar tisu ikut meramaikan suasana. Pemandangan di kamarku sungguh tak layak ditiru. Peduli apa? Sekarang hanya Nehan, Nehan, dan Nehan lagi yang kupikirkan. Sebentar, ponselku berdering. Tengah malam begini? Dengan langkah gontai kuraih ponsel yang berada di atas meja riasku.



From : Nehan [+628128034xxx]

Van, sekali ini saja. Jangan menangis karena aku tidak bermaksud menyakiti. Maaf kalau kejujuranku datang disaat sebentar lagi kita menikah. Berhenti menangis sayang. 


Lihat! Bukankah sudah kubilang dia benar - benar mencintaiku? Oh, Nehan. Adakah permintaan lain selain itu? Setelah membaca pesan yang dia kirimkan. Ajaibnya, itu malah semakin membuat air mataku semakin deras berjatuhan. 


To  : Nehan [+628128034xxx]

Sudah, lakukan saja apa mau kamu. Segala urusan penundaan acara secepatnya kamu urus sendiri. Orang tua dan keluargaku juga harus tau soal ini. Aku sudah tidak ingin lagi mendengar alasannya. Lakukan saja.


Setelah mengirim pesan ke Nehan, kudapati diriku sudah tidak menangis lagi. Sesak yang sedari tadi membumbung kini sudah mereda. Hawa dingin malam ini menyelimuti tubuhku yang semakin lelap. 



~~~


Januari 2013 (1).


Adalah awal tahun dan awal harapan baru bagi siapapun. Ada banyak resolusi dan pencapaian untuk ke depan. Termasuk aku. Mungkin juga Vansa. Setelah malam itu, aku mengurus segala penundaan acara pernikahan kami. Aku sendiri. Vansa sengaja tak kulibatkan dalam hal ini. Sebab tanpa diminta pun, aku tidak ingin lebih menyakitinya dengan langsung menerjunkan raganya juga dalam urusan ini. Sebab aku menyayanginya, aku hanya ingin segala sesuatu dalam dirinya menjadi lebih baik setelahnya. Sebab aku mencintainya, maka kupertanggung jawabkan keputusanku kepada keluarganya. Beruntung, semua mengerti. Ya, kuharap Vansa akan seperti itu juga.


Nyatanya, sudah hampir sebulan ini justru sikapnya malah semakin menjadi - jadi. Jika dulu hanya setingkat super cuek, sekarang telah menjadi super duper cuek kuadrat. Aku tidak berlebihan, memang seperti itu adanya. Percakapan kami tidak lebih dari sekedar soal dengan jawaban 'Ya' atau 'Tidak'. Aku sungguh kehabisan akal menghadapi Vansa. Yah, mungkin yang dibutuhkan sekarang hanyalah kesabaran. Aku tahu, inilah resiko yang harus aku terima. Sore ini selepas jam kantor, aku berniat untuk bertemu Vansa. Sengaja tanpa memberi tahunya terlebih dahulu. Sangat kebetulan karena hari ini aku bisa pulang lebih awal karena rapat dimajukan satu jam. Ah, Vansa. Sungguh sudah lama aku tidak merasakan jantung berdegup seperti ini. Mungkin benar, jarak memang diperlukan agar rindu tetap terasa 'ada'.




~~~


Surat Cinta.

Di bawah pohon pinus pelataran parkir salah satu bank swasta bonafit; tempat Vansa bekerja, di situ aku menunggu Vansa. Persis seperti sebelum - sebelumnya. Ada rasa kesenangan tersendiri jika Vansa tiba - tiba terkejut bahwa aku sudah di sana, menunggunya. Entah bagaimana aku bisa mengatakannya bahwa wanita ini sangat mudah membuatku menunggu. Tepatnya aku yang berinisiatif untuk menunggunya. Ya, kalian perlu tahu bagaimana aku dulu mendapatkannya. 


Dulu pertengahan tahun 2001 dan mulai dari sana aku mengagumi Vansa. Kami memang selisih tiga tahun. Aku lima belas tahun, dan dia masih sebelas tahun. Kami sekolah di yayasan yang sama. Dulu, waktu aku kelas satu SMA tiba - tiba ada anak berseragam SMP secara terburu - buru memberikan sepucuk surat. Iya, surat cinta. Memberikan surat cinta adalah tradisi sekolah kami dulu. Klasik tapi mendebarkan bagi semua murid baru. Awalnya aku ingin langsung membuang surat itu, sudah pasti ulah anak - anak OSIS. Tapi setelah kulirik tulisan disudut kiri atas, niat itu aku urungkan. Kira - kira seperti ini;


"Dear Kakak SMA, aku Vansa. Adik SMP. Disuruh buat surat cinta."


Seketika aku tertawa terbahak - bahak dengan teman satu geng-ku dulu. Tunggu, isinya lebih lucu lagi.


"Kak, aku lagi buru - buru, udah langsung aja ya. Aku cinta kakak, tapi aku gak tau kakak namanya siapa. Kalau boleh, tolong kakak tulis sendiri nama kakak disurat ini ya. Biar anak - anak OSIS tidak mengira aku salah kirim. Di isi ya kak. Nanti aku kasih nilai seratus kalau benar jawabannya. Nanti balasan suratnya dikasihin aja ke pak satpam biar gak susah. Udah ya kak. Dadah!

Aku cinta kamu, ........................."



Setelah menerima surat itu, aku langsung menulis namaku diatas titik - titik yang telah disediakan. Entah mengapa, aku menulis dengan pensil dengan alasan mudah dihapus agar bisa disalin dengan tulisannya sendiri saat aku kembalikan. Tradisi yang aneh memang. Aturan mainnya memang seperti itu. Nanti surat balasanku akan digabungkan dalam satu amplop. Kemudian nanti akan diundi pada hari terakhir masa orientasi, untuk dinobatkan menjadi King and Queen. Surat balasanku simple sekali. Beberapa temanku banyak yang menyarankan untuk memberikan puisi atau rayuan dan semacamnya. Tapi itu malah membuatku geli, sangat geli. Aku juga tidak ingin mem-branding diriku seperti itu dimata adik kelas. Seperti ini balasanku;


"Iya, Vansa. Udah kutulis namaku dengan lengkap. Oke aku kasih tau lagi biar gak dikira salah kirim. Namaku Bramastha Aji Sadewo. Panggilanku Nehan. Tanya saja orang tuaku kalau mau tahu alasannya. Jangan kasih tau yang lain kalau panggilanku sebenarnya Nehan. Yaudah gitu aja. Biar kamu gak sakit hati jadi aku balas kata - katamu kemarin.

Aku juga cinta kamu, Vansa."


Entah mungkin karena garis kehidupanku semudah itu ditebak. Pada akhir masa orientasi, suratku dan Vansa yang berada digenggaman Ketua OSIS SMA dan SMP. Jadilah hari itu kami berdua berdiri di atas mimbar tempat pembina upacara berpidato. Riuh tepuk tangan dan gelak tawa menggelegar dari seluruh penjuru yayasan. Semua mata tertuju pada kami. Bagaimana tidak? surat cinta kami dibaca dengan lantang plus dengan pengeras suaranya. Di sana, Vansa sudah menyiapkan angka seratus yang ditulis dengan kertas hvs. Pak satpam juga ikut andil dalam menyematkan mahkota kami. Selempang dan bunga - bunga tak karuan sudah sukses menjalar diatas seragam kami. Oh Tuhan, masa - masa itu sungguh mengesankan. Terima kasih sudah menggariskan cerita memalukan itu di kehidupan kami. Terima kasih karena kenangan itu bisa kami simpan dalam foto yang terpajang di atas meja. Terima kasih untuk surat cintamu, Vansa. Aku memang sudah mencintaimu. Sudah terlalu mencintaimu.


Kubawa serta kenangan itu menuju ruang tunggu terbuka yang terletak dibelakang. Tidak jauh dari motor yang kuparkir. Lima belas menit lagi jam kantor usai. Aku sungguh ingin segera bertemu Vansa. Melihat senyumnya saja sudah sukses membuatku mendaratkan satu kecupan di dahinya. Ayo Vansa, aku sudah di sini. 


Kini dua puluh menit berlalu. Aku mulai tidak betah duduk saat ini. Sesekali berdiri melihat ke arah tangga keluar dari gedung utama. Tidak ada Vansa. Duduk kembali namun lima detik kemudian berdiri. Hampir sepuluh menit aku bertingkah sebodoh itu. Kali ini pandanganku mengarah ke segala arah. Sesekali melihat ponsel, ke arah jam tangan, ke langit, dan ke pelataran parkir. DEG!! Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini. Ya, itu Vansa. Kulihat seorang laki - laki membukaan pintu mobil untuknya. Siapa dia? Tidak. Tidak. Itu mungkin hanya teman kantor. Bukan seseorang yang harus aku curigai. Dan wajar saja jika dia menumpang dengan temannya. Sebab Vansa tidak tahu jika aku datang menjemputnya. Dengan cepat kukirim pesan untuk Vansa.


N    : Van, aku jemput ya. Tunggu sebentar ya?

V    : Gak perlu. Aku sudah pulang.

N    : Sendiri?


Tidak dibalas. Kuputuskan untuk sengaja mengikuti mobil yang ditumpangi Vansa. Jam macet seperti ini akan memudahkanku untuk membuntutinya dari belakang. Siapa laki - laki itu?


~~~


Januari 2013 (2).


Hari - hari semakin rumit bagiku. Ada banyak senyum yang terukir dengan paksa. Harus ku akui bahwa aku masih menyimpan banyak tanya untuk Nehan. Sudah tak penting lagi apa itu resolusi dan sebagainya. Impian untuk menjadi pendamping hidup Nehan di tahun ini sudah kandas. Mungkin aku terlalu berlebihan dalam menyikapinya. Tapi sudahlah, semua sudah terjadi. Aku harus tetap berusaha untuk menerimanya sekalipun berat. Sangat berat. 


Aku menyadari bahwa akhir - akhir ini aku bersikap dingin ke Nehan. Bagiku amat sulit untuk menghindari sikap kecewaku terhadapnya. Berpura - pura baik pasti akan menguras energi lebih besar. Biarlah. Aku ikuti saja alur cerita yang dia inginkan. Sampai pada akhirnya semua mengalir tanpa beban.


Kulirik jam tanganku, di sana sudah menunjukkan pukul empat sore. Setelah semua berkas dan beberapa file ku tumpuk dalam satu laci, aku meraih tas di atas meja kerjaku. Langkah kakiku sengaja ku percepat agar segera sampai ke rumah. Selain itu, aku juga tidak ingin berdesak - desakan di dalam bus. Sebab terlambat setengah jam saja, antrian penumpang sudah panjang. Tiba tiba, BRUGG!! Aku jatuh terpeleset. Kombinasi flat shoes dan lantai yang masih basah sehabis dipel sukses membuat kakiku sakit. Ah, aku dalam masalah kali ini.


"kenapa, Van?" tanya Pak Dio sambil membantuku bangkit.

"eh, Pak, anu...kepeleset. He" aku salah tingkah, beliau adalah atasanku. 

"hati - hati makanya jangan buru - buru" 

"i..iya Pak" aku menjawab sambil menunduk.

Setelah itu aku kembali melangkah dengan kaki sakit sebelah. Bisa kalian bayangkan seperti apa aku berjalan.

"Bisa, Van?" ternyata Pak Dio masih berada dibelakangku.

"Bisa Pak, masa' gak bisa. He"

"Ini bukan nanya kamu bisa gak buat presentasi lho, Van. Udah saya antar aja. Ini perintah bos. Haha" 

"I..iya Pak"

Baiklah. Sesekali tidak apa - apa menumpang atasan. Toh kakiku masih sakit. Aku juga tidak yakin akan kuat berjalan dari koridor satu ke koridor yang lain untuk dapat naik bus. 



~~~


"Siapa, Van?" 

Pertanyaan Pak Dio memecahkan kesunyian di dalam mobilnya. Jujur saja, aku kaku sekali berada dalam situasi seperti ini. Tidak biasa. Sangat tidak biasa.

"Ini..anu pacar saya sms, Pak. Biasa anak muda, Pak. Hehe"

"Oh, pacarnya. Yang suka jemput itu ya?"

"I..iya Pak. Kok bapak tau?"

"Ya, kan, sering liat. Eh, tapi kok sekarang jarang ya, Van?"

Pertanyaan Pak Dio sungguh tepat sasaran. 

"Lagi banyak proyek katanya sih, Pak" aku coba untuk bersikap seperti tidak ada masalah.

"Oh, kerja dimana sih dia?"

"Di perusahaan pengelola kelapa sawit, Pak. Denger - denger ada pembukaan lahan baru gitu. Jadi sedikit sibuk" seingatku itu sudah terlewat bulan lalu. Tapi biarlah.

"Oh gitu. Van, jangan panggil Bapak terus kalau di luar kantor. Saya masih tiga puluh tahun"

"HAH! SERIUS, PAK?" aku sudah tidak bisa menahan rasa terkejutku saat ini.

"Kenapa? Boros ya mukanya?"

"He..engga, Pak" padahal ingin sekali aku jawab 'iya'. Untuk ukuran Pak Dio, mungkin bisa sekitar tiga puluh tiga mungkin atau tiga puluh lima. Mungkin karena pembawaannya yang serius sehingga orang menyangka ia lebih tua dari usianya.

Setelah itu obrolan kami tidak hanya tentang Nehan, ada banyak yang kami bicarakan termasuk urusan kantor. Hal itu membuat aku baru ingat kalau belum membalas pesan dari Nehan. 


To  : Nehan [+628128034xxx]

Engga. Aku diantar bos. Tadi jatuh kepeleset.


Terima kasih, Pak Dio. Setidaknya hari ini aku tahu bagaimana atasanku jika di luar kantor. Tidak melulu soal file laporan yang membuat sakit kepala setiap kali mengingatnya. 




~~~


Setelah menerima pesan dari Vansa. Aku langsung tersenyum. Ternyata benar, dia bukan siapa - siapa. Kali ini kehawatiranku tertuju pada Vansa. Meskipun hanya terpeleset, nanti malam aku akan ke rumahnya. Setidaknya memastikan bahwa dia baik - baik saja. Ah, tidak. Aku juga sudah rindu dengan senyumannya. Iya, aku akan datang malam ini, Vansa.


Setelah mandi dan bersiap, aku segera meraih jaket dan helm. Setelah baru saja ku nyalakan motor, tiba - tiba hujan turun. Bukan main, betapa aku terkejut. Bagaimana bisa? Ah! Sial! Terpaksa aku meletakkan kembali helm dan jaketku. Sudah hampir dua puluh menit aku menunggu, hujan tak kunjung reda. Kuputuskan untuk mengurungkan niatku malam ini. Besok malam atau ku jemput saja Vansa selepas kantor. Iya, lebih baik begitu.



~~~



Macet adalah makanan warga ibukota. Sudah bukan hal yang perlu dikhawatirkan, sebab penyakit yang satu ini amat susah disembuhkan oleh Pemerintah. Perjalanan ke rumahku yang biasanya ditempuh dengan waktu satu jam normal, sekarang bisa sampai tiga jam. Aku tidak enak hati dengan Pak Dio. Sudah merepotkan.

"Terima kasih, Pak. Maaf merepotkan. Saya masuk rumah ya, Pak"

"Eh, nanti dulu Van. Ini payung, pake aja jangan ujan - ujanan"

"I..iya Pak. Makasih" 

"Pak, lagi. Panggil nama aja"

"Engga ah, Pak. Gak sopan. Sekali lagi makasih, Pak"

Setelah mobil Pak Dio bergerak. Aku segera masuk ke dalam rumah. Tapi kakiku masih tidak bersahabat, entah bagaimana kaki ini bisa tertekuk. Dan aku terpeleset untuk kedua kalinya. Sambil meringis kesakitan, aku mencoba bangun. 

"Vansa! Hobi kamu ini kepeleset ya?"

Suara Pak Dio. Dia sudah keluar dari mobil dan segera memapahku masuk ke dalam rumah. 

"Paaaakk! Buuuu! Assalamu 'alaikuuumm"

"Waalaikumsalam!" Bapak keluar menyambutku dan Pak Dio.

"Kenapa ini Van? Kok dipapah? Kok basah - basahan?"

"Jatuh, Pak. Ga apa - apa"


Ibu segera mengambil alih, dan membantuku mengeringkan badan serta berganti pakaian. Bapak memberikan handuk kering untuk Pak Dio dan sekejap saja sudah kudengar gelak tawa mereka di ruang tamu. 


"Ngomongin apa sih seru bener, Pak?" 

"Ya, kamu itu. Jatuh kok dua kali" Bapak lantas tertawa terbahak - bahak.

"Besok kalau masih sakit gak usah masuk kerja dulu, Van" kata Pak Dio sambil menyeruput teh hangat yang Ibu suguhkan.

"Iya Pak, ijinnya sekarang ya? Hehe"

"Iya, udah istirahat aja. Saya juga sudah mau pamit ini Pak, Bu, Van"


Setelah berpamitan, kami berterimakasih kepada Pak Dio. Aku sungguh tidak menyangka jika peristiwa tersebut membawa banyak perubahan dalam hidupku. Aku juga lebih mengenal sisi Pak Dio yang lain. Jika di kantor beliau adalah sosok yang begitu dihormati, tetapi jika di luar kantor beliau adalah sosok yang friendly dan menyenangkan. 



~~~


                                                                                                                                     ......bersambung




8 komentar:

  1. ya Alloh mba udah marah aja -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. bahahaha engga, itu jawaban realistis aja dek. minggu kemaren bikin pendek dibilang kedikitan, sekarang bikin panjang malah bikin capek. aku kudu piye :(

      Delete
  2. bahasanya halus mba, jd ga nguras otak bgt
    ayook dilanjut mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya kak, nanti malem jam 8 di apdet kak :D makasih udah mau baca :D

      Delete
  3. belum kelar bacanya, lanjutin ntar ah...

    ReplyDelete

kalo ada komentar yang bisa memunculkan amarah emosi jiwa raga nusa dan bangsa, jangan marah ya kalo dihapus. boleh juga tulis ide kalian untuk postingan berikutnya di sini.