Ketika Cermin 'Berkata' Dewasa Part 4


Adalah kata yang pas untuk hari ini. Berbagai macam file mulai dari perencanaan pembibitan hingga pasca panen bertumpuk - tumpuk di meja kerjaku. Bayangkan saja jika semua berkas itu harus kubaca dan kutanda tangani satu persatu. Tidak boleh ada yang terlewat. Bahkan baru saja ada info untuk rapat dadakan mengingat deadline sudah satu mingggu lagi. Ya, inilah sulitnya menjadi Quality Assurance (QA) atau Quality Control (QC). Tanggung jawab yang sangat besar memang, penjaminan dan pengendalian mutu produk olahan minyak kelapa sawit di tengah kisruh isu - isu pemanasan global. Ditambah lagi dengan rencana memonitoring lokasi pembukaan lahan baru di Kalimantan. Sungguh hectic.


Kurebahkan punggung sejenak, kepala yang sedari tadi terpaksa menunduk kini kubiarkan menerawang ke langit - langit ruangan kerjaku. Hela nafas panjang kadang terselip ditengah lamunan. Kali ini aku sungguh ingin melihat Vansa, tersenyum sedikit saja tidak apa - apa. Sore ini akan ku jemput dia. Ya, aku lagi - lagi tidak ingin dia tahu akan hal ini. Vansa, aku rindu. Sangat rindu. 


Suara telepon dari Ibu membuyarkan semua lamunan. Segera kurapikan meja kerjaku sebisanya. Tidak terlalu rapi. Biarlah. Setelah ini aku berniat makan siang. Rasa lapar kini baru terasa. Pundak juga baru terasa berat. Begini rasanya jika terlalu banyak yang harus dikerjakan. Namun ketika baru saja aku hendak berdiri, aku terperajat! Ternyata jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Oh tidak, aku harus cepat menyelesaikan sisa pekerjaanku tadi. Setelah itu, waktuku untuk Vansa.



~~~


Sore ini langit cerah. Hanya awan - awan tipis yang menggantung dibirunya langit. Seperti biasa, aku sudah di ruang tunggu. Menanti Vansa datang dari arah anak tangga. Peluh dan lelah rasanya hilang terbawa angin saat aku ke sini. Beberapa orang lalu lalang melintas, ingin bertanya namun entah mengapa aku enggan. Sabar saja, batinku.


Kali ini awan putih sudah berarak ke barat. Membentuk gumpalan - gumpalan berwarna kuning. Dibaliknya tersembul cahaya matahari, lurus, dan menyilaukan mata. Sudah pukul setengah lima sore. Terpaksa ku telepon Vansa.


V    : Ya, kenapa, Han?

N   : Dimana kamu? 

V   : Di rumah. Oya lupa bilang, aku ijin kerja.

N   : *menghela nafas* Yaudah aku ke rumah ya?

V   : Nanti malem aja, Han.

N  : Oke cantik. 
       Oya Van.......

tuuutt....ttuuutt... terputus.

N  : Aku kangen.


~~~



"Sudah, Van. Jangan nangis lagi. Ga enak sama orang tua kamu"

Aku sungguh tidak ingin melihatnya seperti itu. Setelah banyak bertanya tentang kondisi kakinya yang sudah membaik. Dia juga bertanya tentang kesibukanku hari ini. Segala kisruh yang terjadi hari ini sudah aku ceritakan. Terlebih lagi tentang rencana kepergianku ke Kalimantan, satu atau dua bulan ini.

"Kemarin kamu bilang pernikahan ditunda apa karena ini, Han?"

Suara Vansa bergetar.

"Enggak, ini pure karena kerjaan, Van.  Gak ada hubungannya dengan kita. Udah, kamu jangan nangis gitu. Kan cuma sebentar"

Aku berusaha untuk membuatnya tetap tenang, walaupun aku tidak tahu pasti ada perubahan atau tidak setelah satu atau dua bulan ini.

"Jangan pergi jauh - jauh, Han. Kamu sibuk seharian aja aku bete"

"Iya, tapi kan udah ketemu sekarang. Senyum dong"

Vansa tersenyum. Oh Tuhan, terimakasih untuk lengkungan manis yang Kau ciptakan ini. Aku sungguh akan menjaganya, dimana pun.


~~~


*dua bulan kemudian*


LDR.

Long Distance Relationship. Bedebah. Kata itu sungguh menyebalkan bagiku. Bagaimana tidak? Aku adalah orang yang paling terdepan untuk menyela teman - temanku yang menjalani hubungan jarak jauh. Bagiku, itu bukan relation-ship tetapi rela'in-ship. Sekarang, tidak perlu kuberitahu. Aku menjalani LDR dengan Nehan. Sudah tidak perlu ditanya juga tentang bagaimana tanggapan beberapa temanku soal ini. Lebih banyak menertawakan daripada iba. Bahkan Nehan juga tertawa mendengar keluhanku tentang mereka.


Dua bulan terasa dua tahun. Setiap hari aku harus bergulat dengan rindu yang kadang memuncak. Aku dan Nehan sama sekali tidak pernah terpisah se-jauh ini. Tidak pernah. Pun juga tidak pernah se-lama ini. Sewaktu aku SMP, aku bisa melihatnya setiap hari. Ah, malu sekali jika mengingat masa - masa itu. Pura - pura membuang muka jika berpapasan. Namun, aku diam - diam mengamatinya dari kejauhan. Nehan semasa SMA sungguh menjadi buah bibir teman - temanku. Bukan karena parasnya, namun karena keterampilannya di lapangan basket. Nehan yang manis.


Aku SMA, juga tidak berjauhan dengan Nehan. Waktu itu aku dan Nehan semakin dekat, sangat dekat. Jika tidak ada jam kuliah siang, dia selalu menyempatkan diri untuk menjemputku sekolah. Terkadang tidak langsung pulang ke rumah. Menikmati waktu sore di bangku taman. Berdua, saling berebut es krim yang sudah di tangan masing - masing. Terkadang usil men-dubing pasangan lain yang terlihat bertengkar. Terkadang aku juga meminta dia membantu mengerjakan PR-ku, jujur saja aku kurang ahli masalah ini. Tapi untuk membuat Nehan rindu, tentu aku ahlinya.


Kedekatan kami terus berlanjut. Hingga pada suatu malam di bulan April tahun 2008, Nehan memintaku untuk menjadi kekasihnya. Sebenarnya tanpa status pun, aku yakin sekali bahwa aku dan Nehan tidak akan menyakiti satu sama lain. Ini karena Nehan sudah bosan dikatakan 'cemen' oleh teman - teman satu almamaternya. Sebab wanita yang paling dekat dengan Nehan, hanya aku. Begitu pula sebaliknya. Walaupun banyak teman laki - laki yang mendekat, entah mengapa aku tidak ingin selain Nehan. Padahal jika aku ingin, bisa saja kupilih satu orang saja di kampusku dari sekian yang mendekat. Sudah terlalu nyaman dengan Nehan. Mungkin itu alasannya.


Huuufhh. Mengingat masa - masa itu sungguh menyesakkan. Aku hanya bisa menatap semua foto di layar monitor. Baru kusadari di tahun 2012 kemarin, hanya sedikit kenangan yang bisa disimpan. Hanya tiga. Pertama saat tahun baru, kedua saat Nehan berulang tahun, ketiga saat aku berulang tahun. Aku menyadari, di tahun kemarin rasanya tidak banyak moment yang bisa diingat. Jika tahun - tahun sebelumnya aku masih aktif untuk memperbanyak moment dengan Nehan. Di tahun 2012, aku sudah lelah. Ah, mungkinkah karena itu Nehan memutuskan untuk menunda pernikahan? Sudahlah! Aku sudah tidak ingin memikirkan itu lagi. Yang terpenting sekarang adalah besok Nehan kembali. Nehan pulang!



~~~


Oh, No!

Aku tidak sabar menunggu hari ini. Ya, tentu. Mulai saat ini aku tidak mau lagi mencela siapapun yang pernah menjalani LDR. Aku sudah tau sekali rasanya menopang rindu berlama - lama sendirian. Hei, Nehan. Jangan coba - coba untuk pergi lagi. Walaupun sebenarnya aku berterimakasih kepada jarak. Tanpa jarak, bagaimana pun kalian tidak akan pernah menemukan indahnya rangkaian kata, bukan? Bahwa dengan jarak, pada akhirnya aku bisa merasakan dalamnya rindu. Iya, persis seperti dulu. Benar yang Nehan katakan, jangan terlalu cemas untuk kepergiannya saat ini. Kalau tidak dengan begitu, aku pasti sudah lupa rasanya rindu yang dulu itu seperti apa. 


From : Nehan [+628128034xxx]

Jangan tinggalin aku di ruang tunggu nanti sore ya, Van. I do love you.


Aaaakkk! Rasanya ingin melompat setelah membaca pesan dari Nehan. Lihat. Bagaimana aku bisa menolak satu permintaannya jika sikap yang dia berikan sangat membuatku melambung seperti ini. Nehan, iya, siapa juga yang mau meninggalkan laki - laki semacam kamu.

Tiba - tiba...

"Van, kamu sehat kan? Ngapain senyum - senyum?"

"Eh, Pak Dio. hehe..ini Pak..emm..." entah kenapa susah memberi alasan yang sebenarnya.

"Udah, iya, ngerti. Haha"

"Hehe. Ada apa, Pak?"

"Saya mau ngajak makan malam, bisa?"

Oh, No! Kenapa ini? Ada apa? Kenapa mendadak seperti ini?

"Aduh, ada apa ya Pak? Saya mau dipecat ya?"

"Enggak, Van. Haha. Bisa gak?"

"Aduh, maaf Pak. Saya udah ada janji duluan. Gimana Pak?"

"Yaudah gak apa - apa. Lain kali bisa kan, Van?"

"Siap, bos!"


Setelah Pak Dio meninggalkan meja kerjaku, semua orang kudapati sedang menatapku dengan tatapan heran. Mungkin seolah tak percaya dengan apa yang Pak Dio katakan. Entah apa yang ada dipikiran Pak Dio saat ini pun aku juga heran. Aku juga tak percaya. Mungkin saja ada masalah kantor yang pelik atau butuh saran seorang karyawan biasa, yah, mungkin. Aku tidak mau memikirkannya lagi. Sekarang yang jelas, aku akan cepat - cepat menyelesaikan pekerjaan hari ini dan bertemu dengan Nehan. 



~~~


Lalu aku? Bagaimana?

Akhirnya. Lama sekali menunggu sore. Entah sudah berapa kali aku menengok ke arah jam tangan. Seperti orang yang sedang terburu - buru. Kadang tersenyum sendiri, kadang melamun. Sungguh repot sekali aku hari ini.




                                                                                                                                    .....bersambung

3 komentar:

  1. Hmm...lumayan, Na...cuma bakal lebih oke kalau diksinya beragam. Taste of "showing" the decription-nya kurang greget, Na...ini lebih ke "telling". Tapi udah oke, kok. Keep on writing, beb.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha makasih loh beb udah mampir. iya, beb. masih banyak kekurangan memang diriku ini :) diperbaiki deh beb :*

      Delete
  2. Kyaaaaahahah jadi ini lanjutan ceritanya :D

    Scroll-scroll-scrolllllll

    ReplyDelete

kalo ada komentar yang bisa memunculkan amarah emosi jiwa raga nusa dan bangsa, jangan marah ya kalo dihapus. boleh juga tulis ide kalian untuk postingan berikutnya di sini.