Ketika Cermin 'Berkata' Dewasa

Malam ini bintang gemintang terpampang jelas di langit. Aku selalu merasa bahwa setiap jengkalnya menyimpan kenangan, berjuta kenangan mungkin. Angin berembus membawa hawa dingin yang cocok untuk pasangan berkendara roda dua. Bukan bermaksud iri, hanya saja dulu aku pernah berterima kasih pada angin seperti malam ini. Diantara potongan dua puluh empat jam sehari, aku memilih malam sebagai waktu paling nyaman. Ketika pundak - pundak lelah merebahkan peluhnya seiring dengan munculnya gemintang di atas sana. Ketika hiruk pikuk kesibukan di tempat kerja luntur bersamaan dengan menghitamnya langit. Malam, berarti waktu dimana kerinduan mencuat tak tertahankan bahkan terkadang menyesakkan. Namun bagiku, hanya senyapnya malam lah waktu paling nyaman untuk mengingat seseorang. 

Ada alasan mengapa aku duduk menunggu seseorang di sini. Hanya embusan udara dingin yang menelisik lembut. Beberapa bangku mulai kosong, hanya sesekali diisi oleh daun yang tertiup angin. Mataku masih tertuju ke langit, rasanya sudah lama. Bukan, bukan tentang kedatangannya tetapi situasinya. Biasanya menunggu selalu sukses mengalahkan kata sabar. Kali ini aku sungguh menikmatinya. Di sini, aku mengingat semua potongan kenangan tanpa sesak ataupun beban perasaan menyesal yang banyak orang keluhkan. Setiap baris kenangan kini terasa indah, bukan karena aku hebat menata hati. Aku hanya menyadari sisi baik itu dari setiap kali bercermin. Di sana, ia 'berkata' dewasa. Ya, dua puluh delapan tahun.


~~~

Dia benar.

Seseorang yang pernah mengisi hari - hariku tiga tahun lalu. Dia sempat berkata alasannya sesaat sebelum hubungan kami berakhir. Tepatnya itu terakhir kali aku menjalin hubungan dengan seseorang. Dia laki - laki yang baik, teramat baik. Saat itu usiaku 25 tahun, setengah mati aku berkilah tentang alasan yang dia ucapkan kala itu. Oh Tuhan. Apakah itu hanya alasan saja untuk bisa mengakhiri hubungan yang sudah tidak bisa dikatakan bercanda? 

Dulu aku begitu keras kepala bahwa dia telah salah mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan ini. Tapi setelah tiga tahun kemudian, aku menyadari bahwa dia benar. Aku tidak mau menyalahkan siapa - siapa lagi untuk hal ini. Banyak sekali orang menyayangkan berakhirnya hubungan kami waktu itu. Hal yang paling terpenting saat itu adalah tentang keseriusan. Satu jenjang lagi adalah harapan dari setiap pasangan di dunia ini. Satu jenjang lagi kami bersama memulai kehidupan. Tapi semua memang sudah benar - benar selesai. Semua sudah tidak bisa diputar kembali. Selalu ada yang terluka dari setiap kata berpisah. Siapapun yang mengalami hal ini pasti setuju denganku. Aku bukan tidak benar - benar mencintainya, dia juga bukan tidak benar - benar mencintaiku. Aku sangat yakin akan hal itu. Jikalau tidak, mana mungkin hubungan yang telah terjalin bisa dipertahankan hingga saat itu usiaku menginjak quarter kedua kehidupan.

Sebelum aku menceritakan semua yang kuingat di malam ini. Aku berharap dia (orang yang ku anggap benar saat ini) sudah berbahagia entah dengan siapa pun. Merajut setiap hari dengan tawa, tubuh yang sehat, mungkin juga anak yang lucu dan menggemaskan. Harapan dan doa baik tidak pernah pudar walau kadang terselip rindu yang payah diantara keduanya. Inilah aku dengan segala kenangan yang memaksa mata untuk berhenti menangisi apa yang telah berakhir di tahun pertama. Di tahun ke dua, aku memaksa bibir untuk tersenyum dengan apa yang telah selesai. Kali ini, aku sedang memaksa hati untuk terbuka dengan istilah yang katanya cinta. Ya, cinta lagi.


~~~


Dia pergi.

Desember 2012 di tempat yang sama. Senyap. Malam di hari itu tidak sedang berbaik hati. Tidak ada bintang. Terdengar sayup - sayup gemuruh dari arah kejauhan. Barangkali langit sudah menumpahkan hujan di sana. Mataku sejak lima menit yang lalu tidak terlepas ke arah Nehan. Laki - laki yang melingkarkan cincin pertunangan di jari manisku. Ku lihat, dia hanya sesekali menatap langit lalu sekejap kemudian memandang sekitar. Tidak ke arahku yang tepat di depannya. Aku sudah menunggu dia berbicara sedari tadi. Sepertinya usahaku gagal lagi kali ini. 

"Han, apa yang mau kamu bicarakan?" aku sudah tidak sabar bertanya.

"Aku sudah memikirkannya, Van"

Suara Nehan terdengar sangat berat. Aku mulai khawatir.

"Memikirkan apa?"

"Pernikahan kita ditunda, mungkin satu tahun lagi" dia menatapku kali ini.

Aku membuang tatapanku ke segala arah. Terasa panas dipelupuk mataku, namun harus tetap ku tahan air mata ini hingga mendengar semua alasan yang dia katakan.

"Vansa, aku sudah memikirkan ini matang - matang" dia menggenggam tanganku sangat erat. Hangat seperti biasa. Sangat pas untuk situasi seperti ini. Tetapi aku melepaskan genggamannya dengan kasar.

"Kenapa Nehan? Kalau biaya masih kurang bisa kita usahakan sama - sama kan? Atau soal tata acaranya bisa kita ubah? Atau cukup di rumah saja tidak perlu mewah? Kenapa tiba - tiba seperti ini? Aku harus tau alasannya Nehan! K..kkaa..mu.." 

Satu tahun? Air mataku sudah tak tertahan lagi. Aku menangis untuk yang kesekian kalinya di depan Nehan. Entah apa yang dipikirkan olehnya aku pun tidak bisa menebaknya. Sudah sangat jelas bahwa aku menolak untuk menunggu. Sepengetahuanku tidak ada masalah dengan semuanya, apapun itu. Keluargaku baik - baik saja, begitu pula dengan keluarganya. Aku merasa tidak ada yang salah dengan apapun itu. Usia Nehan pun terpaut tiga tahun dariku. Aku sungguh tidak mengerti apapun alasannya. Sedari tadi aku sudah menunggu apa yang akan dia katakan. Bersabar untuk tidak merusak suasana. Gemuruh semakin kencang terdengar. Biarlah. Aku menutup wajahku lama. Menunggu apalagi yang akan dia katakan setelah ini.

"Van, jangan menangis. Aku mohon, kita akan baik - baik saja"

Aku hampir tidak mendengar apa yang barusan dia katakan. Sungguh. Jika mendengarkan pun rasanya aku tidak butuh kata - kata seperti itu. 

"Van...Vansa..." dia tepat disampingku sekarang.

Aku masih diam, sengaja tidak menjawab apapun. Sungguh aku sangat mengenal orang yang ada di sampingku saat ini. Sungguh aku amat menyayanginya. Mengapa dia harus berkata hal yang menyakitkan bagiku. Teramat menyakitkan malah. Bukankah ini yang ditunggu - tunggu? Bukankah dia yang melamarku? 

"Dengarkan dulu, Van. Aku bukan memikirkan soal biaya atau tata acara atau lokasinya. Aku hanya...."

Ku dengar dia seperti tercekat. Enggan berbicara atau entahlah. Kulepaskan kedua tangan yang menutup wajahku sedari tadi. Ku tatap dia dengan penuh hati - hati. Ku perhatikan detil sekali gerak - gerik yang dia lakukan. Arah tatapannya berpaling ke segala arah ketika kubalas menatapnya. Ini ada apa Nehan? 


"Hanya apa Nehan? Katakan!"



"Katakan!"


Semilir angin berhawa dingin semakin menusuk persendian. Sedikit membuat suasana menjadi lebih dingin dari biasanya. Semakin dingin. Semakin tidak sabar aku mendengar alasan yang akan dia katakan. Aku tahu betul siapa Nehan. Dia tidak akan seperti ini jika memang kondisinya sungguh tidak dapat tertahankan. Ku tatap dia lamat - lamat, kali ini aku sungguh tidak bisa membaca bahasa mata dan caranya berbicara. Dia Nehan! Orang yang sangat aku tahu kemana arah pembicaraannya. Mengapa malam ini dia terasa berbeda? Setiap permasalahan yang muncul diantara kami, hampir tak pernah membuatnya gelisah seperti yang kulihat sekarang. Dia tenang. Ah, Tidak! Dia selalu tenang. Selalu. Aku baru menyadarinya.

"Katakan, Han" kataku pelan, bergetar. 

"Aku hanya...hanya perlu satu tahun lagi" Nehan menunduk. 

Apakah dia menahan tangis? Aku pun tak tahu. Itu tak lagi penting sekarang, yang terpenting adalah alasan mengapa aku harus menunggu lagi. Satu tahun bukan lah waktu yang sebentar. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bergelayut menghantui pikiranku saat ini.

"Untuk apa?" kali ini suaraku semakin parau.

"Untuk meyakinkan niat, aku sudah memikirkan ini. Bisa kan, Van?"

Aku tidak menjawab. Pertanyaan bodoh macam apa ini? Bagaimana bisa setelah empat tahun pada akhirnya mundur dengan empat bulan lagi? 

"Vansa, perbaiki diri kita dulu masing - masing. Aku sungguh menyayangimu. Karena itu aku ingin kita sama - sama introspeksi. Apakah selama ini kita baik - baik saja? Adakah sesuatu yang terasa kurang? Aku tidak ingin saat kita sudah bersama, diri kita yang belum baik ini sudah dipaksa menghadapi masalah di depan mata. Aku ingin memperbaiki setiap hal - hal kecil yang mungkin tidak pernah aku, atau kamu sadari bahwa itu lah penyebabnya. Aku ingin....."

Seketika kulepaskan cincin itu dari jariku. Kali ini sudah kugenggamkan ditangan kanannya. Sedetik kemudian aku berdiri dan bergegas pergi meninggalkan Nehan di sana. Sendiri. Tidak ada kata selamat tinggal atau larangan jangan pergi dari Nehan. Semakin membuatku penuh dengan kesal. Aku sengaja tidak mau membahasnya lebih jauh karena menurutku itu hanya alasan main - main. Bayangkan saja, empat bulan lagi! Aku sungguh tidak mengenal Nehan malam ini. 

Malam yang tidak pernah kubayangkan. Terlebih lagi dengan sikap Nehan yang tak biasa. Ada apa ini? Apa yang salah denganku? Apa yang kurang? Bukankah dia yang akhir - akhir ini sering sekali membuatku kesal? Ada saja alasan untuk menolak setiap ajakanku. Lebih sering tidak mendengarkan apa yang aku katakan. Bosan kah? Ada lebih banyak lagi pertanyaan di kepalaku saat ini. Aku benar - benar ingin sekali di rumah sekarang. Saat ini juga!


5 komentar:

  1. kelanjutannyaaaa mbak hahaa, skarang udah nikah blmm? :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha besok yah. gw sih belom do hahaha kalo si vansa mah rahasiaaaa lah hahaha

      Delete
  2. Mana kelanjutannyaaaa? No comments, ah. Tulisanmu memang selalu bagus dan mengalir. Aku suka, kok biarpun kata kamu nggak jelas, ini oke :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti malem jam 8 Uniiiiiiii hahahahaha makasih ya Uni dah mau baca :D :D

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

kalo ada komentar yang bisa memunculkan amarah emosi jiwa raga nusa dan bangsa, jangan marah ya kalo dihapus. boleh juga tulis ide kalian untuk postingan berikutnya di sini.