Ketika Cermin 'Berkata' Dewasa PART 5



Akhirnya. Lama sekali menunggu sore. Entah sudah berapa kali aku menengok ke arah jam tangan. Seperti orang yang sedang terburu - buru. Kadang tersenyum sendiri, kadang melamun. Sungguh repot sekali aku hari ini. Kali ini aku lebih berhati - hati menuruni anak tangga. Tidak ingin merusak moment dengan terpeleset untuk yang ketiga kalinya. 


"Nehaaaaaaaan!" Aku menjerit sesuka hati begitu melihat Nehan. Masa bodoh dengan telinga orang lain.

"Kamu kayak anak ABG baru pacaran aja sih, Van", reaksinya datar. Menyebalkan.

"Ih. Kamu kok biasa aja sih? Ini apa?" selorohku sembari menunjuk bungkusan yang dia bawa.

"Oleh - oleh, buat keluarga kamu"

"Buat aku?"

"Ini. Gede banget kan?" katanya sambil menunjuk dirinya sendiri. Ah, Nehan.


Setelah mengantarku pulang ke rumah. Malam harinya, Nehan mengajakku ke taman. Hitung - hitung mengenang masa - masa sewaktu aku masih SMA dan Nehan masih duduk dibangku perkuliahan. Sepanjang perjalanan, kupeluk Nehan erat. Seakan tidak ingin dia pergi lagi. Sungguh sudah lama sekali rasanya menanti saat - saat seperti ini. Mengenang hal - hal semacam ini memang sepertinya tidak penting. Tapi bagiku, justru inilah yang menjadi penguat suatu hubungan. Mengingat dan mengenang masa - masa yang sudah terlewat, baik senang ataupun sedih, adalah hadiah. Hadiah untuk masa depan. 


"Han, kamu ga capek?" tanyaku memulai percakapan di malam ini.

"Enggak, Van. Sini, deket" satu detik kemudian aku sudah duduk merapat ke Nehan. Sengaja langsung memeluk lengannya, bersandar dipundaknya.

"Kangen?" pertanyaan Nehan sungguh sangat tidak perlu dijawab. Dan sengaja tidak kujawab saja sekalian.

"Hehe. Iya, Van. Aku juga"

"Apa?" aku mendongak.

"Kangen"

"Kata siapa?"

"Kamu, barusan"

"Ih, aku diem aja kok"

"Kamu kan bilangnya dalam hati. Aku aja denger, kamu gak denger?"

"Ih. Ngarang deh. Mulai lagi sok taunya"


Obrolan kami terus berlanjut. Sudah entah apa saja yang dibicarakan aku saja lupa. Lalu, sampai sejauh manapun aku dan Nehan berbicara. Tetap saja berujung dengan pembicaraan serius. Ya, ini serius bagiku.


"Van, kalau misalnya aku dipindahtugaskan, bagaimana?"

Satu pertanyaan, seolah menohok leherku. 

"Jangan mau dong, Han. Cari cara pokoknya usaha dulu supaya tidak perlu dipindah, yah?"

"Kenapa, Van?"

"Aku gak mau ah, LDR-LDR an. Di sini aja yah"

"Iya, nanti aku usahakan ya. Tapi aku gak bisa janji karena sepertinya tanggung jawab untuk penjaminan mutu di sana akan diserahkan ke aku, Van. Isu yang berkembang gak main - main. Titik fokus perusahaan masih di sana"

"..........."

"Van, aku hanya bicara supaya nanti kamu sudah siap jika ada hal - hal yang tidak kita inginkan terjadi. Aku juga berat jika memang harus berjauhan"

".........."

"Vansa, tenang yah. Jangan cemas"


Seribu kali pun Nehan berkata seperti itu, aku sudah pasti akan cemas. Beruntunglah usapan tangan Nehan di kepalaku mampu meredamkan suasana. Setidaknya, aku mampu memberi ruang untuk Nehan berbicara. Walaupun sungguh aku tidak ingin berkomentar soal itu. Toh semua itu belum tentu terjadi. Aku juga tidak mau berpura - pura membesarkan hati soal itu. Karena aku memang tidak rela jika dia pergi. Lagi.



~~~


*dua bulan kemudian*



Ternyata, lagi.


Malam semakin larut, suara mesin kendaraan di jalanan satu - persatu mulai berkurang. Nyanyian malam juga semakin merdu, ikut memeriahkan suasana. Di sini, aku sendiri memeluk kaki. Terpekur lama sembari membenamkan wajah. Bukan lagi soal penundaan pernikahan. Bukan lagi soal apa penyebab Nehan melakukan itu. Tapi ini soal lain. Bukan aku dan Nehan yang mengharapkannya, tetapi keadaanlah yang memegang kendalinya.


Jangan ditanya bagaimana beratnya hatiku saat ini. Jangan juga ditanya sudah berapa lembar tisu yang kuhabiskan malam ini. Kalian tau? Nehan benar soal pindah tugas malam itu. Satu tahun, katanya. Ya Tuhan, apalagi ini? Soal penundaan pernikahan apakah tidak cukup? Sekarang justru ditambah dengan berjauhan dengan Nehan. Bagaimana bisa aku melakukannya? Apakah bisa aku bertahan se-lama itu? Menangis memang tidak menyelesaikan masalah. Tapi hanya itulah yang ingin aku lakukan saat ini. Hanya itu saja. Cukup itu saja.


Besok Nehan berangkat, aku tidak bisa mengantar keberangkatannya karena tentu saja aku juga bertanggung jawab dengan pekerjaanku. Biarlah. Itu juga bisa membantuku untuk merelakannya pergi. Aku takut jika nanti ikut justru malah semakin tidak ingin berjauhan. Nehan, aku sedih. 



~~~


*enam bulan berlalu*



Bos (?)



Perlu aku ceritakan, bahwa sampai saat ini hubunganku dengan Nehan masih bisa dikatakan baik. Setiap bulannya Nehan selalu menyempatkan diri untuk pulang. Bertemu dengan keluarganya, keluargaku, dan yang pasti bertemu denganku. Setiap hari bertukar cerita. Setiap hari merindu. Tidak ada masalah yang berarti. Ternyata LDR tidak terlalu menakutkan bagiku. Aku sudah mulai terbiasa untuk menjalaninya. Walaupun terkadang seperti ada sesuatu yang hilang. Entah apa. 

Terkadang ketika berjalan sendiri ditengah keramaian, bukan lagi dirasa kesepian. Justru malah menjadi obat untuk membunuh rasa sepi itu. Terkadang aku baru menyadari bahwa kesepian yang sebenarnya adalah ketika salah satu dari kami (aku ataupun Nehan) sengaja untuk tidak menyapa. Biasa, selalu komunikasi yang menjadi titik permasalahannya. Beruntunglah Nehan selalu bisa mengerti. Hubunganku dengan Nehan tidak terlalu buruk bukan? Jika boleh aku jujur, permasalahan bukan lagi soal Nehan. Ya, dia adalah Pak Dio. Masih ingatkah dengan ajakan makan malamnya beberapa bulan yang lalu? Ya, baru malam ini aku akan menuruti ajakannya. Perasaan tidak enak dan canggung sebenarnya sudah bisa terbaca dari raut wajahku. Sungguh aku hanya ingin menghargai ajakannya, tidak lebih. Dan letak penyesalanku adalah Nehan tidak tahu - menahu soal ini. 




~~~


Kalian harus tahu dimana aku duduk sekarang. Harus aku akui bahwa ini adalah kali pertama aku merasa diperlakukan bak putri di negeri dongeng. Restoran kelas satu di ibukota. Ya, di sanalah aku menepati ajakan Pak Dio. Ada sedikit rasa aneh, oh tidak, banyak. Dari semua perlakuannya kepadaku, tentu sudah bisa ditebak bagaimana perasaanya. Aku tidak bermaksud besar kepala, tapi cobalah, anak SMA juga pasti mengerti bahasa tubuhnya. Harusnya seperti itu, namun raut wajah Pak Dio tetap datar. Sama sekali tidak terlihat mata yang berbinar atau sedikit merayu. Beliau tetap Pak Dio yang friendly, tidak berlebihan. Ah, kalian harus satu meja denganku agar tahu persis bagaimana cara beliau berbicara kepadaku. Sungguh membuatku tersipu.


"Gimana makanannya, Van? Enak, kan?" 

Aku tidak langsung menjawab, sedikit memberi sepersekian detik untuk lidahku merasakannya

"emmm..sesuai ekspektasi, Pak. Saya baru pertama kali ke sini, Pak. Hehe"

"Oh, ya? Sesekali coba dong, Van. Tapi jangan setiap mau makan ke sini"

"Kenapa emang, Pak?"

"Bosan! Mau seenak apapun makanan, mau senyaman apapun tempat, kalau di situ - situ aja, gak dinamis pasti bosan. Coba aja"

"Hmmmm...iya ya" kataku sembari menganggukkan kepala beberapa kali.

.....

"Van?" 

Kali ini wajah Pak Dio berubah, maksudku tidak seperti sebelumnya.

"Vansa?"

"Ah, iya, Pak" 

"Kamu sudah mantap dengan tunanganmu?"

Tuhan! Aku hampir tersedak mendengar pertanyaan Pak Dio. To the point!

"Iya, sejauh ini sih sudah mantap, yah, walaupun sebenarnya pernikahan kami seharusnya di bulan April yang lalu, Pak"

"Ditunda maksudmu?"

"Iya, bulan April tahun depan, Pak"

"Berarti enam bulan lagi?"

"Iya, doakan saja ya, Pak. Semoga tidak ada halangan lagi"

"Iya, Vansa. Kalau boleh tahu, apa alasan kamu menunda pernikahan itu?"

Hmmmhhhh. Sungguh aku sebenarnya tidak ingin membahas hal ini. Namun jika kalian berada diposisiku sekarang, membahas masalah ini bisa menjadi keuntungan dan kerugian. Satu keuntungan bahwa dia mengerti aku sudah sangat serius dengan Nehan. Namun di sisi lain, aku takut Pak Dio malah mencari kesempatan dari setiap perbincangan kami. Aku takut sekali salah menjawab, bagaimanapun aku harus pintar - pintar agar tidak ada celah baginya. Sekecil apapun itu.

"Bukan saya yang menunda, Pak. Tapi dari Nehan sendiri yang menginginkan itu. Saya sebagai orang yang menyayanginya hanya bisa mengerti, apapun alasannya. Dan sampai detik ini, saya sendiri juga tidak tahu persis alasannya"

"Kenapa sampai tidak tahu?"

"Em...waktu itu saya sudah sangat kalut, Pak. Setelah itu, saya sudah bisa menerimanya. Terkadang sengaja untuk tidak tahu alasan yang membuat kita kecewa, justru bisa jadi cara untuk berdamai dengan diri sendiri. Saya pun tidak ingin membahas masalah itu lagi dengan Nehan"

"Maaf ya, Van. Saya hanya ingin tahu dan mengenal kamu. Kamu pasti sudah bisa membaca apa yang ada dalam pikiran saya dengan mengajak kamu ke sini"

"......."

"Saya hanya melihat beberapa bulan ini, kamu jarang bahkan hampir tidak pernah dijemput oleh tunanganmu itu. Sudah lama sekali, saya menunggu malam ini. Tapi saya juga tidak bisa memaksa kamu untuk mau. Yang bisa saya lakukan hanya menunggu"

"....."

"Saya sudah lama suka kamu, Vansa. Tidak ada yang tahu soal ini. Saya sengaja merahasiakannya agar semua orang di kantor tetap profesional. Saya sendiri pun menginginkan itu. Tetapi saya sadar, walaupun seperti itu saya juga tidak bisa lagi membendung semua perasaan ini"

"....."

"Mungkin ini pertama kali kamu mendengar saya berbicara sebanyak ini. Hehe"

"......"

"Saya hanya tidak bisa menghindar lagi, Van. Sudah waktunya saya untuk memiliki pendamping hidup. Tiga tahun lalu, saya mengalami patah hati terhebat. Jauh lebih dari apa yang kamu rasakan ketika pernikahanmu tertunda"

"Kenapa Pak?"  Aku baru bersuara, sejak tadi aku hanya merasa lidahku seolah kelu. Dan aku juga merasa tidak ada pertanyaan yang harus kujawab. 

"Haruskah kuberitahu, Van?"

"Iya Pak!!!" Aku tiba - tiba bersemangat kali ini.

"Tapi ada syaratnya, Van"

"Apa itu?"

"Tidak boleh dilanggar ketika di luar kantor"

"Iya!! Apa itu, Pak?"

"Jangan panggil saya dengan sebutan 'Pak', saya malu! Lihat itu pramusaji di sini daritadi melihat saya seperti saya ini mau interview kamu aja, panggil 'Pak' 'Pak' terus"

"Hahahaha oke deh! Pak! Ehhhh...apa dong ini manggilnya?"

"Dio aja, Van" ia tersenyum. Silakan menebar pesona, Pak Dio. Batinku.

"Oke. Hai, Dio" kataku sambil melambaikan tangan. Dia tertawa lebar. Sangat lebar bagiku yang tidak pernah melihatnya tertawa.

"Hai, Vansa" dia tersenyum lagi. Ah, sial.

Oh, ya. Aku hampir lupa dengan kelanjutan cerita Pak Dio tadi.

"Jadi tadi kenapa?"

"Kenapa apa?"

"Iya. Alasan kenapa bisa mengalami patah hati terhebat itu Dio?"

"Nah, gitu dong manggilnya. Hehe. Oke dilanjut yah"

"Iyah"








............bersambung

7 komentar:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Typo tuh say...pramunaga harusnya pramuniaga. Tapi setau gue, di resto itu pramusaji (waiter dan waitress) bukan pramuniaga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah iya. Hahaha. Kamu baik sekali sayang :*

      Delete
    2. Hahaha gara-gara gue lagi riset buat novel juga nih...jadi sotoy ngebenerin hahaha

      Delete
    3. gapapa sist, malah seneng hahahahah

      Delete
  3. lanjutannya ntar dio mau curhat kalo dia sebenarnya dulu adalah LB ya haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. LB terus lah. elu jgn2 mantan LB ya? hahahaha

      Delete

kalo ada komentar yang bisa memunculkan amarah emosi jiwa raga nusa dan bangsa, jangan marah ya kalo dihapus. boleh juga tulis ide kalian untuk postingan berikutnya di sini.