Ketika Cermin 'Berkata' Dewasa PART 6


Perbincangan kami menjadi serius, aku harus bisa menempatkan diri dengan baik. Setidaknya tidak terlalu menganggap dia sebagai 'teman' dan juga tidak terlalu memperlihatkan bahwa aku juga bawahannya. Membingunkan memang, dan jelas sekali aku tidak terbiasa dengan situasi seperti sekarang ini.


"Aku lanjutkan yah, Van"


"Iya...iya" Kali ini aku letakkan kedua tanganku di atas meja. Pertanda aku serius ingin tahu kelanjutan ceritanya.


"Dia bernama Niken. Cantik, memesona, menarik, dan pintar. Sempurna bukan? Sayangnya aku sudah tidak punya lagi foto atau apapun tentang dia"


"Gak apa - apa. Lanjutkan saja lagi"


"Niken adalah wanita satu - satunya yang saya inginkan, dulu. Aku dan Niken bertemu, berkenalan, dan memutuskan untuk menikah hanya dalam waktu satu tahun. Semua karena memang ingin segera menikah. Walaupun posisiku dulu masih belum seperti sekarang. Aku bekerja di divisi yang sama dengan denganmu, dulu"


"....."


"Saat itu umurku masih 27 tahun, dan lama hubunganku dengan Niken sudah 1,5 tahun. Artinya enam bulan kemudian aku akan menikahinya. Mungkin itu waktu yang sebentar, tapi aku mengagumi Niken dari sejak kami masih SMP. Hanya saja, aku kecil tidak berani mengungkapkannya, dan hingga kami sama - sama berusia 25 tahun aku baru berani mengungkapkannya"


"Kenapa?"


"Aku bukan tipe kekasihnya. Aku hanya dianggap sahabat, orang yang selalu ada dan selalu mendengarkan keluh kesahnya. Mendengar dan melihat tangisannya. Melihat dan mendengar semua laki - laki yang pernah menyakiti hatinya. Aku sungguh tidak ingin Niken menjauh, menyimpan semua perasaan adalah hobiku dulu, Van. Mungkin keahlian ini jadi terbawa hingga sekarang"


"......."


"Hmmmhh" Dio menarik nafas panjang.


"Lalu?"


"Suatu hari, Niken datang padaku. Usiaku masih 24 tahun. Niken dikhianati oleh kekasihnya. Entah sudah berapa laki - laki yang singgah di hatinya. Dan itu adalah laki - laki terbaik yang pernah dia punya. Di saat itulah aku masuk dan berani mengambil celah hatinya. Sampai akhirnya, aku berani mengungkapkan isi hatiku yang sejak lama kupendam dalam - dalam. Dia terharu. Niken menangis di pelukanku lama, sangat lama. Setelah itu dia mau menerimaku, mau menjadi kekasihku. Hmmmmhhh" Dio menarik nafas panjang lagi.


"......"


"Bukan main senangnya, Van. Hampir sepuluh tahun aku menunggu, sabar, diam, akhirnya aku bisa meraih hatinya. Entah sudah berapa banyak air mata yang pernah terjatuh, aku lupa. Entah sudah berapa banyak kepingan hati yang hancur, aku pun sudah lupa. Yang aku tahu saat itu, Niken adalah pacarku. Dan sebentar lagi kami akan menikah. Awalnya semua berjalan dengan baik, amat sangat baik. Aku sama sekali tidak pernah melakukan kesalahan. Sebab aku tahu persis apa yang akan membuat Niken marah, kecewa, atau bahkan menangis. Aku tahu semua cerita cinta Niken. Dan patah hati itu ternyata memang hebat. Lebih hebat dari usahaku untuk bisa bersama dengan Niken"


Aku semakin penasaran. Kulihat dia meneguk habis minumannya. Beberapa kali aku melihat ekor matanya berkaca - kaca. Aku sungguh tidak menyangka bahwa orang yang ada di depanku ini, atasanku ini, adalah orang yang pandai menyimpan perasaan. Sungguh sangat pandai.


"Hari itu adalah ulang tahun Niken. Saat itu aku sedang bertugas di Jogja. Tetapi aku sama sekali tidak mempersoalkan itu, rencananya aku akan memberi kejutan ke Niken tepat pukul 12 malam. Hari itu adalah hari terpadat yang aku lewati, Van. Resiko memang. Yang terpenting adalah Niken senang dengan kejutan yang aku berikan. Rencananya setelah aku memberi kejutan untuk Niken, pagi - pagi sekali aku akan berangkat lagi ke Jogja. Istirahat bisa di perjalanan. Setelah sampai di apartemennya, aku tidak bertemu dengan Niken. Mungkin dia sudah tidur, karena aku tiba tepat pukul 12 malam. Tidak apa - apa, jika keesokan harinya dia bangun dan melihatku itu sudah sama saja. Ternyata, Van. Pukul empat pagi, aku melihat Niken datang diantar oleh mantan kekasih terbaiknya. Saat itu, aku memberi kue tart dan ucapan selamat ulang tahun ke Niken dan langsung bergegas pergi"


"Itu saja, Dio?"


"Iya, Van. Aku hanya bilang 'selamat ulang tahun Niken, semoga kamu semakin bahagia'. Untuk apa aku bilang yang lain lagi, sudah bisa dimengerti jika dua orang, laki - laki dan perempuan pulang dini hari. Dan laki - laki itu adalah mantan kekasih terbaiknya. Aku bisa apa lagi?"


"Niken tidak mengejar?"


"Tidak. Dia hanya memanggil sekali dan aku tidak mau menoleh. Sejak saat itu aku memutuskan hubunganku sendiri dengan Niken. Tanpa kata - kata. Sejak itu aku terus membunuh waktuku dengan bekerja. Aku melanjutkan kuliah lagi. Sengaja menyibukkan diri dengan berbagai usaha sampingan. Jatuh bangun, untung rugi, sudah bukan hal yang menyakitkan. Semua itu aku lakukan agar tidak ada waktu lagi untuk memikirkan Niken"


"Sampai saat ini tidak ada kabar tentang Niken?"


"Aku sengaja untuk tidak mencari tahu semua tentang Niken. Semua akses baik keluarganya dan media sosial sudah kututup rapat. Benar apa yang kamu katakan, Van. Aku pun setuju dengan prinsip yang kamu katakan tadi, 'Terkadang sengaja untuk tidak tahu alasan yang membuat kita kecewa, justru bisa jadi cara untuk berdamai dengan diri sendiri'. Kamu wanita yang kuat, Van"



Aku tersenyum, Dio juga tersenyum.


"emm maaf ya, Van. Moment ini seharusnya untukmu, bukan untukku. Bercerita banyak soal Niken, membahas semua alasan pernikahanmu, itu semua di luar rencana adanya makan malam ini. Aku minta maaf. Maaf, jika sudah mencintaimu diam - diam".


"Iya, Dio. Aku gak keberatan sama sekali. Terima kasih atas ajakan malamnya"


Setelah banyak bercerita, Dio mengantarku pulang. Ada banyak perubahan yang sedari tadi aku jaga, baik dari sikap dan terutama panggilanku kepada Dio. Aku menyadari, pertama sekali aku memanggilnya dengan sebutan 'Pak'. Kemudian berani memanggil dengan sebutan 'kamu atau Dio'. Dan terakhir menyebut diriku dengan 'saya' menjadi 'aku'. Apakah ini tanda kami sudah dekat? Apakah aku salah dalam menjaga sikap? Ah, semoga saja ini bukan hal yang perlu ditakutkan. Semoga juga bukan awal dari sebuah permasalahan. Aku hanya ingin memfokuskan diriku dengan Nehan. Semata - mata hanya Nehan. Tapi mengapa saat ini Dio juga ikut dalam pikiranku. Mengapa?



~~~


Van, kemana?

Hari semakin gelap, tidak ada banyak bintang malam ini. Setelah seharian berkutat dengan berbagai rapat, sejenak kurebahkan badan. Kupejamkan mata, seolah menolak keras cahaya lampu yang langit - langit kamarku. Terkadang aku rindu sekali dengan kamar di rumahku. Rindu dengan Ayah dan Ibu. Pasti mereka merasa sepi sekali akhir - akhir ini. Sebab anak semata wayangnya terpaksa hijrah ke pulau lain demi profesionalitas kerja. Bayangan Ayah dan Ibu membuat mataku semakin lengket. Serta merta masuk kedalam mimpi, mimpi yang dalam. 



*tiga jam kemudian*



Aku terbangun. Kudapati diriku tertidur dengan pakaian lusuh, penuh keringat. Selepas mandi, aku langsung mengecek telepon genggamku. Tidak ada pesan dari siapapun, bahkan Vansa pun tidak memberi kabar. Ah, sedang apa dia? Tidak lama kemudian, kudengar nada sambung pertanda sibuk. Berkali - kali kucoba hasilnya tetap sama. Van, kamu kemana?


To : Vansa [08128034xxx]

Van, kemana? Aku kangen. Minggu depan aku pulang, sayang. Sabar ya. Tunggu aku, jangan pergi dengan yang lain.


Sebenarnya aku sangat rindu. Bukan hanya rindu. Pesanku juga tak kunjung dibalas. Setelah beberapa menit menunggu, aku putuskan untuk menelpon Ibunya. Sudah lama juga aku tidak mengobrol dengan Ibunya Vansa. 


"Malam, Bu. Sehat sekeluarga?"


"Sehat, Nak. Gimana kamu di sana? Betah?"


"Betah gak betah sih ini, hehe. Minggu depan pulang, Bu"


"Oh, ya? Vansa harus tahu nih"


"Haha iya, Bu. Oya, Vansanya mana, Bu? Mau sekalian ngobrol"


"Vansa kan belum pulang, Nak. Tadi pergi bukannya pergi dengan Pak Dio, ya?"


"Pak Dio? Siapa Bu?"


"Loh, Nak Nehan gak tahu, ya? Kan pergi pamitnya mau ada yang dibicarakan dengan Pak Dio. Penting katanya, dia itu atasan Vansa di kantor. Mungkin urusan kerjaan, Nak"


"Oh atasannya, ya. Yasudah tadi seharian Nehan juga sibuk banget, Bu. Jadi sampai gak tahu kabar Vansa hari ini. Makasih ya, Bu. Sehat ya, Bu"


"Iya, Nak"


Setelah menelpon, aku bukannya semakin tenang. Justru sekarang aku menjadi khawatir. Mengapa seperti tidak biasanya? Mengapa telponku tidak diangkat? Mengapa sampai jam sepuluh malam belum pulang? Apa yang dibicarakan? Sebenarnya aku juga sibuk, aku juga mengerti jika Vansa pun punya kesibukan sendiri. Apa sulitnya memberi kabar? Ah, sudahlah. Aku tunggu saja kabar darinya.



*satu jam kemudian*


Aku masih terjaga. Sengaja menanti kabar dari Vansa. Setidaknya aku juga ingin tahu apa yang sebenaranya dibicarakan hingga pulang selarut ini. Bagiku, ini memang tidak biasanya. Sungguh Vansa tidak pernah bepergian dengan laki - laki lain, semua teman dekatnya perempuan dan aku mengenal mereka. Sekalipun akan pergi dengan orang lain, Vansa akan memberitahu. Tidak seperti sekarang. Ada yang aneh, tapi apa?


Ah. Vansa membalas pesanku!



                                                                                                                                                                                                 .....bersambung

8 komentar:

  1. Ga ada typo, tapi kayaknya meneguk, bukan menengguk. Kalo menenggak ada.

    ReplyDelete
  2. Woy vansa, isi smsnya kamu itu apaan.. penasaran woy -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahahaha yang jelas bukan mama minta pulsa ya dek.

      Delete
  3. Ah, Nehan lagi galau. Kira2 ada tokoh perempuan lagi gak ya, misal anak bos di tempat Nehan bekerja? agar posisinya sebanding dengan jalinan hubungan Pak Dio kepada vansa. hihi. Ditunggu kelanjutannya Riana. Cerbungnya keren. jangan lupa singgah juga ke tempat aku : www.cerpen-case.blogspot.com mudah2an bisa saling berkunjung :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi makasih arif. haha itu masih jadi rahasia penulis gimana ada tokoh lain atau engga. oke meluncuuuurrr

      Delete

kalo ada komentar yang bisa memunculkan amarah emosi jiwa raga nusa dan bangsa, jangan marah ya kalo dihapus. boleh juga tulis ide kalian untuk postingan berikutnya di sini.