Ketika Cermin 'Berkata' Dewasa PART 7


From: Vansa [08128043xxx]

Aku cuma pergi makan dengan Bos, ada urusan.


Melihat jawaban pesan dari Vansa, sedetik kemudian aku sudah hanyut dalam nada sambung yang terdengar teratur di sana. Tidak diangkat! Aneh sekali Vansa hari ini. Baiklah akan aku coba lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Dan sekarang aku sudah tidak tahu atau lupa pada hitungan ke berapa akhirnya aku menyerah. Sedikit kesal dan banyak heran. Mungkin itu adalah penggambaran tersingkat dan terjelas untuk saat ini. Bukankah seharusnya aku yang kesal jika dia tidak memberitahuku terlebih dahulu akan pergi dengan atasannya itu. Ah, siapa pula namanya aku lupa. Tetapi siapapun dia, aku yakin dialah penyebab keanehan semua ini. Bukan bermaksud menuduh, tapi aku laki – laki. Sangat tahu dan paham hal – hal seperti ini. Jika dulu dia masih terlihat wajar dengan mengantar Vansa pulang karena sakit, rasanya malam ini tidak ada hal yang wajar untuk meeting di malam hari. Berdua saja! Sudah pasti ada yang disembunyikan dari Vansa. Tapi untuk detailnya, aku tidak mau bertindak bodoh dengan menuduhnya dengan kata tak pantas. Vansa adalah wanitaku, calon ibu dari anak – anakku, bagaimana aku bisa berkata kasar dengan posisinya yang berharga seperti itu? Jelas aku tidak bisa.

Vansa, aku rindu. Sungguh kali ini aku bisa meredam kesal, marah, atau apapun itu. Asalkan kamu tahu aku kepayahan mengatur rindu yang sedari tadi menggodaku. Bukankah pernah juga kamu merasakannya, Van? Angkat telponnya. Sekali saja.



~~~



Jenuh


Bahkan bukan lagi jenuh saja, ini sungguh sudah teramat jenuh. Bukan aku sengaja menghindar, tapi lebih baik seperti ini saja. Aku sebenarnya ingin sekali memberitahu Nehan soal malam ini tapi sudahlah. Aku memang sudah bertunganan, namun apa salah jika pergi makan malam dengan laki – laki lain? Kalau iya, biarkanlah. Aku juga tidak peduli itu benar atau salah. Bukan soal Pak Dio, tapi ini soal Nehan. Berulangkali harus aku yang terlebih dahulu menyapa, selalu aku. Bisa dihitung dengan jari jika kalian bertanya peran Nehan soal siapa yang lebih dahulu menyapa. Baiklah, anggap saja sepele masalah ini. Tapi bukankah itu artinya jika aku tidak menyapa terlebih dahulu pun tidak masalah, kan? Katanya sepele. Biarkan saja malam ini Nehan tenggelam dengan banyak pertanyaan. Biarkan saja dia merasa aneh jika tahu aku pergi dengan laki – laki lain. Biarkan saja dia tahu rasanya tidak biasa. Biarkan saja dia merasakan bagaimana gundah menyerang bagaikan sembilu. Biarkan saja dia seperti malam ini. Sekali saja.



Setelah banyak kusingkirkan semua lamunan tentang Nehan, sekarang aku tidak sengaja menyelipkan satu pertanyaan tentang Pak Dio. Tepatnya aku sudah memanggilnya dengan Dio, seperti ada yang aneh dilidahku setelah memanggilnya dengan sebutan nama. Bagaimana bisa orang seperti Pak Dio bisa jatuh cinta denganku? Jelas ini pertanyaan paling mendasar untuk setiap orang. Tapi coba saja kalian bayangkan, Pak Dio tampan, mapan, atletis, dan hanya kurang senyum saja. Jatuh cinta denganku yang sudah jelas bertunangan, tidak tinggi, bukan fashionista, bukan juga model, bukan pebisnis, bukan orang yang banyak prestasi. Singkatnya, aku tidak pantas untuk Pak Dio. Kalian juga pasti setuju denganku jika Pak Dio lebih pantas dengan segala kelebihan wanita di muka bumi ini. Dan satu lagi, bukan juga sosok yang pantas merelakan rasa suka ke wanita yang sudah bertunangan. Apa jangan – jangan Pak Dio bercanda? Tapi tidak lucu. Ah, sudahlah. 



*keesokan harinya*




"Vansa! Nak, cepat! Itu Pak Dio sudah menunggu kamu di depan!"


APA? Ibu menyebut nama Pak Dio? Yang benar saja? Ah, kenapa harus menjemput segala? 


"Iya sebentar, Bu. Vansa selesai sebentar lagi!"


Iya, aku tahu Pak Dio mungkin masih berusaha mendekatiku. Tapi mengapa harus se-pagi ini? Yang benar saja? Aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk banyak bertanya, segera kukerahkan semua keahlianku merias wajah secepat kilat. Serasa terburu - buru sebab tidak sengaja muncul secara otomatis rasa hormatku juga kepada Pak Dio. Bagaimanapun kondisinya, ia adalah atasanku. Membuatnya terlalu lama menunggu tentu bukan diriku.


"Yuk, Pak!"


Jika kamu mau tahu, sejujurnya aku sangat ingin bertanya ke Pak Dio. Mengapa sampai menjemputku segala? Tapi kalimat itu sama sekali tidak keluar, kelu. Seolah lidahku sengaja membuat suasana agar tidak aneh, mungkin saja. 


"Bingung ya, Van? Kok aku jemput?" 


Pak Dio bertanya itu sambil tersenyum. Aku melihatnya dengan ekor mataku sendiri. Haduh. Bosku ini seharusnya sudah benar dengan sikap 'tidak peduli'-nya, jika tiba - tiba jadi perhatian rasanya sangat amat aneh bagiku. 


"He..iya, Pak"

"Eh, kok panggil itu lagi?"

"Aduh! Iya, lupa. Soalnya pake baju kantor. Hehe"

"Hahaha. Bisa saja kamu, Van. Em..aku sebenernya juga gak berniat untuk jemput kamu. Cuma sepanjang jalan menuju kantor, teringat kamu terus"

"HAAAH?" 

Aku sengaja pura - pura tuli.

"Iya, maksudnya karena semalam itu seharusnya milik kamu. Bukan malah diisi dengan cerita yang sudah terlajur kamu dengar. Aku cuma mau minta maaf dan semoga tidak menganggu pikiran kamu untuk fokus dengan pertunangan dan pekerjaan"

"Oooohhhh, iya gak apa - apa kok"

"Syukurlah"


Aku hanya bisa menjawab dengan kata - kata itu. Jika saja ada wanita lain yang bisa kukenalkan dengan Pak Dio, maka itu akan menjadi kabar gembira baginya. Terlebih lagi bagiku. Sayangnya, teman - teman seusiaku sudah banyak yang berkeluarga. Aku menyadari, bahwa di usiaku yang menginjak 26 tahun tentu bukan saatnya untuk gundah lalu semudah itu mengubah keputusan besar berupa pertunangan. Sama sekali bukan saatnya. Perjalanan cintaku dengan Nehan sudah bisa menjadi setebal kamus besar jika dituliskan ke dalam buku. Ah, Nehan. Sejak semalam aku tidak mau menghubunginya, rasanya itu sudah cukup. Sengaja kucari ponsel untuk sekedar melihat apakah Nehan menghubungiku atau tidak pagi ini. Tanganku semakin cepat mencari benda berukuran 4 inci itu. Ke kanan tidak ada. Ke kiri juga sama. Di setiap ruang kosong di dalam tas sudah kujamah. Celaka! Pasti tertinggal di rumah. Apalagi sebabnya kalau bukan karena terburu - buru. Sudahlah, Nehan pasti semakin banyak bertanya - tanya.


"Kenapa, Van?"

"Ini, hape ketinggalan. Tapi sudahlah gak apa - apa"

"Yaaah, kalau masih deket kita bisa puter balik. Tapi ini lumayan"

"Gak usah, Dio. Nanti malah kejebak macet"

"Oke gini aja, nanti pulang jangan naik angkutan umum. Biar kuantar, ya. Takut kenapa - kenapa di jalan"

"Aduuhh. Ngerepotin lagi saya nih. Gak apa - apa kok, kan, udah biasanya begitu"

"Van, aku cuma mau menawarkan bantuan kok. Gak berniat yang lain. Ini kan karena hape kamu ketinggalan"

Sebenarnya perkataan Pak Dio ada benarnya. Tapi aku juga merasa jadi semakin aneh jika dalam satu hari dijemput dan diantar oleh laki - laki yang bukan siapa - siapa. Aku juga khawatir jika kedua orang tuaku berpikir yang tidak - tidak. 

"Oke deh bos!"

"Nah gitu dong nurut sama bos. Hehe"



~~~


*dua bulan kemudian*



Wanita itu.


Adalah empat bulan lagi aku akan resmi menikahi Vansa. Ada rasa ingin segera menikahinya, tapi di sisi lain aku merasa ingin sekali lagi menundanya. Semenjak hari itu, Vansa lebih sulit untuk dihubungi. Dan permasalahan semakin meruncing karena aku baru bisa pulang ke rumah satu bulan lagi. Rencananya sekaligus akan memantapkan susunan acara pernikahanku dengan Vansa nanti. Namun rasanya itu sudah sangat sulit kubayangkan melihat keadaan yang semakin tidak bisa dianggap baik - baik saja. Ya, aku dan Vansa sudah selama satu bulan tidak berkomunikasi dengan baik. Entah ini karena faktor detik - detik pernikahan, sebab banyak sekali orang yang mengatakan demikian. Jika semakin dekat dengan pernikahan, maka akan semakin banyak pula godaan dan masalahnya. Ah, entahlah. Aku juga sempat mengira ini adalah ulah Dio. Siapa lagi jika bukan atasannya itu. Hanya Dio-lah satu - satunya orang yang dekat dengan Vansa akhir - akhir ini.


Kuputar bibir cangkir kosong di hadapanku. Duduk menyendiri sembari melepas pandangan ke arah jalanan. Kulihat segelintir orang berduyun - duyun menyebrangi jalan raya. Di sisi kiri jalan ada sepasang kekasih sedang bergurau, mungkin melepas kebosanan sampai bus yang mereka tunggu akhirnya datang. Di cafe ini aku memang sendiri, duduk terdiam menatap ke segala arah. Terkadang, mengamati kehidupan orang lain melalui sekilas pandang memang sedikit menghibur. Ya, hiburanku memang sangat jauh dari kebanyakan orang di dunia ini. Tetapi apapun itu, aku hanya bisa bersyukur dengan semua yang ada. Sejenak melepas penat dengan me time memang benar adanya.


Tiba - tiba ponselku berkedap - kedip. Terlihat nomor tidak kukenal di layarnya. Sempat ragu untuk menjawab. Namun, aku kira tidak ada salahnya. Siapa tahu ini telpon penting.

"Halo?"

"Nehan?"

"Iya benar, saya Nehan. Siapa ya?"

"Tidak penting. Gue cuma orang yang mau kasih kabar tentang Vansa"

"Vansa?"

"Iya, Vansa. Tunangan lo.

"Iya tapi......"

"Dia dekat dengan Dio. Bahkan ada kemungkinan Dio akan menikahinya. Gue kasih tau kin karena kita senasib. Kita adalah pihak yang dirugikan dari kedekatan mereka. Bukan gak mungkin jika Vansa akan menerima Dio. Dio punya segalanya, baik, dan sangat menghargai wanita, juga.........."

"Tunggu! Anda ini siapa?!"

Sungguh merusak suasana. Baru saja sejenak melupakan permasalahan soal Vansa, menikmati setiap gerak - gerik kehidupan di sekitarku. Suara wanita dari ponselku ini berhasil mengobrak - abrik suasana yang hangat menjadi panas. Terlebih lagi dengan mendengar nama Dio. Muak sekali rasanya.

"Gak perlu kau tahu siapa gue. Yang pasti gue juga ada dipihak yang dirugikan. Sekarang gini, apa lo ngerasa juga kedekatan mereka?"

"Sebentar, nona. Pertama, saya tidak tahu Anda siapa. Kedua, tiba - tiba Anda seolah berbicara bak seorang hakim yang bisa menjudge orang se-enaknya. Ketiga, Vansa adalah urusan pribadi saya dan Dio bukan urusan saya. Terakhir, jangan hubungi saya lagi dan saya juga sudah tidak ingin tahu siapa Anda dan darimana Anda mendapatkan nomor saya. Sekian."

"Tunggu....."


Klik! Sengaja kuputus sambungan teleponnya. Bayangkan, di tengah kerisauan seperti ini mengapa masih saja ada orang yang menambah beban? Terlebih lagi aku tidak mengenal orang itu. Setelah mendapat kabar yang tidak sedap untuk didengar, tentu sudah tidak ada lagi gairah untuk menikmati gerak - gerik kehidupan orang di sekitarku. Ah! Aku hubungi saja Vansa. Sekarang. Saat ini juga.


....


....


Vansa tidak menjawab telponku lagi. Sudah tidak bisa kuhitung berapa kali Vansa tidak mau atau tidak mendengar ponselnya berdering jika aku yang menghubunginya. Terkadang aku juga mendengar nada sibuk dari operator. Tetapi setiap pesan singkat yang kukirim, selalu dibalas. Aneh sekali bukan? Pikiranku sungguh tidak tahu bentuknya seperti apa sekarang. Carut marut. Vansaku bukan lagi orang yang mudah untuk dihubungi. Tingkat kesibukannya mungkin bertambah. Dua bulan terakhir, aku merasa Vansa menjauh. Dan aku hanya mengandalkan benda yang kugenggam saat ini. Ya, menyebalkan sekali.  Mungkinkah semua perkataan wanita itu benar adanya? Tetapi mengapa sangat detail bisa mengetahui aku dan Vansa sudah bertunangan? Sekarang, rasa penasaranku tentang wanita itu semakin kental. Apakah wanita itu orang yang sengaja mengarang cerita agar bisa menjauhkan aku dan Vansa? Tetapi mengapa dia juga dirugikan jika Vansa dekat dengan Dio? Siapa sebenarnya wanita itu? 





......bersambung

7 komentar:

  1. kalo kataku udah rapih banget mba bahasanya hehe
    mangattt !!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasihhh dekaaa. ini nulis dengan penuh perjuangan. nyicil kayak ngredit rumah hahaha

      Delete
  2. Lha itu yang telpon si Nehan siapa lagi? jangan-jangan mantan pacarnya si dio yang menyamar jadi cewek? Atau jangan-jangan yg nelpon itu si vansa sendiri? atau yg telpon itu beneran pelaku si mama minta pulsa? atau jangan-jangan yang telpon nehan itu kamu ya mbak? hahahahaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. kasih tau ga ya hahaha baru dapet sinyal buat bales komentarnya dek hahaha

      si mama minta pulsa udah gak punya hape jaman sekarang.

      Delete
  3. kirim pulsa dong mah!

    ReplyDelete
  4. Wuihh, Part 7 ini mantab banget deh Riana. lebih mengaduk - aduk perasaan pembaca daripada part - part sebelumnya. Dan akhirnya yang aku inginkan ada tokoh lain yang semakin memperuncing konflik diantara Nehan dan Vansa muncul, tebakanku bakal benar kalau itu nantinya bakal wanita hihihi, ya sapa tau nebak - nebak lagi ada hub masa lalu dengan pak Dio he :D. Good, keren buatku nih part 7.

    Baca juga cerpen perdanaku di www.cerpen-case.blogspot.co.id ya Riana, karena sebelumnya cuma tak isi cerbung, aku butuh masukan ma komentar sesama yang suka menulis fiksi. Makasih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha makasih ya mas Ari atas kunjungannya.

      Sorry baru sempat dibuka, nantiku kunjungi blognya mas.

      Delete

kalo ada komentar yang bisa memunculkan amarah emosi jiwa raga nusa dan bangsa, jangan marah ya kalo dihapus. boleh juga tulis ide kalian untuk postingan berikutnya di sini.