Ketika Cermin Berkata Dewasa Part 8

 



Kafe semakin ramai seiring dengan langit yang sibuk melukis senja. Meja - meja mulai terisi dengan sepasang manusia. Jalanan di kota ini tak begitu menyesakkan dada. Tidak terasa sudah dua jam berlalu dengan justru menambah satu keganjalan. Lamunan yang membawaku ke Vansa sudah bisa dibilang gila. Rindu yang menghasut kini semakin menjadi - jadi. Empat bulan lagi, ku harap dia memang benar jodoh yang Tuhan berikan untukku. Bukankah ini sebentar lagi, Van? Aku mencintainya melebihi apapun. Senyumnya yang tak pernah berbeda. Manjanya yang bisa membuat kaki lemas seketika. Sungguh idamanku tiada tara.

Baiklah. Ini sudah semakin gila. Dua jam melamunkan Vansa memang tidak cukup. Aku yakin sampai kapanpun tidak akan cukup. Setelah pergi dari kafe ini, aku putuskan untuk pulang saja ke Jakarta. Kejutanmu datang, Vansaku.





***



Biar kuceritakan kepadamu tentang rasa yang mungkin dirasa berlebihan ini. Tapi aku sungguh senang dan sama sekali tidak keberatan atas apa yang kulakukan. Tidak ada yang tahu persis apa yang aku rasakan kecuali diriku sendiri. Karena bahkan aku pun sampai tidak bisa menyampaikannya. Jangankan ke orang lain, ke Vansa pun sampai tidak bisa.

Vansa. Sungguh, tidak pernah ada wanita lain.

Aku sudah tiba di Jakarta, sangat kebetulan karena ada evaluasi komprehensif dan pelayanan atas kinerjaku beberapa bulan lalu. Mungkin bisa memakan waktu cukup lama di Jakarta. Kudengar dari beberapa rekan akan ada pelatihan dan motivasi untuk karyawan. Walau sebenarnya adanya evaluasi saja sudah lebih dari cukup untuk bisa lebih mudah mengurus persiapan pernikahanku dengan Vansa. Syukurlah, jarak sudah bukan lagi masalah.

Jakarta masih tetap sama seperti saat aku tinggalkan. Wajah – wajah kendaraan tidak mau mengalah satu sama lain, jalanan penuh sesak, pemandangan yang mungkin akan tetap sama di masa yang akan datang atau bahkan lebih. Kupacu motorku lebih cepat, kadang juga lambat, dan lebih sering berhenti karena macet. Jauh dari lubuk hati terdalam, sungguh aku ingin Vansa tahu jika aku sudah di Jakarta hari ini. Tapi entah mengapa aku lebih suka melihat matanya berbinar dan lengkingan suaranya begitu melihatku. Aku sudah tidak sabar. Bagaimana dia hari ini? Aku juga tidak tahu.


***

Apa kamu bisa menebak aku sedang dimana, Van?

Kurasa tidak.

Apa kamu melihatku di sini, Van?

Kurasa juga tidak.

Jika iya, mana mungkin aku melihatmu dengan Dio lagi. Lagi.

Awalnya aku ingin sekali melajukan motorku ini entah sampai mana, terserah! Tapi niat itu kuurungkan karena rasa penasaranku dan aku berhak tahu kemana pacarku dibawa oleh Dio sialan itu! Semua orang tahu dia pacarku kenapa dia?!! ARRGGHH!!

-o-o-o-

Malam ini, entah mengapa jadi semakin aneh rasanya. Kadang rindu sekali dengan Nehan, tapi kenapa Dio masih gak bisa paham juga kalau aku sudah mau menikah dengan Nehan. Empat bulan lagi dan aku masih belum menyiapkan apa – apa. Seharusnya Nehan sudah harus pulang, tapi mengapa dia belum pulang juga. Sementara Dio terus – menerus seperti ini. Duduk diam, sengaja untuk tidak menanyakan kabar karena menunggu Nehan yang memulai. Selalu saja seperti ini. Sebenarnya aku kenapa? Biasanya mudah untuk menolak, sama seperti biasanya. Tapi sekarang susah dan amat susah saat Dio yang mendekat.

Hhhhh! Biarlah. Ikuti saja alurnya. 

Nehaaaaaaaaan......


Kenapa tidak menelpon hari ini? Hampir satu jam kupandangi handphone, sambil sesekali menatap keluar jendela. Karena rinduku semakin banyak, kuputar mp3 dan semakin rindu saja ketika lagu ini yang terdengar sambil memejamkan mata….



Tonight will be the night that I will fall for you
Over again
Don't make me change my mind
Or I won't live to see another day
I swear it's true
Because a girl like you is impossible to find
You're impossible to find


***


“VAAAAANSA!!”

Aku hampir lompat dari tempat dudukku saat ini. Terdengar suara Ibu seperti tidak biasanya. Aku segera lari keluar kamar, takut Ibuku kenapa – napa.

“Iyaaaa, bu. Ada apa kok teriak?”

“Itu, Nak Nehan...” suara Ibuku hampir tidak terdengar. Setengah berbisik dan melirik ke arah ruang tamu dan…..

NEHAAAAAAAAAAAAANNNN!!!”

Aku tidak bisa menahan ini, tidak pernah bisa. Seketika langsung kupeluk dia sangat erat. Dia tidak bereaksi. Lalu kutatap wajahnya dengan penuh manja, baru dia mau memelukku. Mungkin malu, Ayah dan Ibuku ada di sana. Kulepaskan pelukanku, kulihat Nehan tersenyum.

“Nehan kebiasaan! Selalu gak kasih kabar kalo pulang!”

“Iya, maaf”

Nehan mengusap kepalaku. Meleleh sudah.

“Kita ngobrol di luar ya?”

“Oh, oke”

“Ke taman yang biasa ya, Van?”

“Hah? Okeeeeeyyy! Aku siap – siap dulu”



***


Sepanjang perjalanan, aku sebenarnya takut sekali untuk ke sana. Bukan karena horor atau apapun. Terakhir kali aku dan Nehan ke sana, dia memutuskan untuk menunda pernikahan dengan waktu yang sama seperti sekarang ini; empat bulan lagi. Setelah satu tahun ditunda, dengan alasan yang masih bisa belum bisa kucerna. Apa karena sikapku selama ini yang terlalu cuek? Aku sungguh tidak mau kehilangan Nehan.

Nehan sengaja memperlambat kurasa, mungkin dia juga rindu kupeluk seperti ini. Aku pun juga sama. Hai, malam. Biarkan aku memeluk Nehan lebih erat lagi.


***


Vansa…..”

“Yahh? Nah, gitu dong ngomong. Aku aus nih daritadi ngomong banyak banget”

Kulihat Nehan tersenyum kecil. Aneh dilihat.

“Kamu sakit ya?”

“Oh, enggak. Enggak kok. Nih pegang jidatku”

Kuletakkan punggung tanganku, ternyata memang tidak. Jika bukan fisiknya, mungkinkah…..hatinya? Aduh. Celakanya aku tidak tahu kapan dia tepatnya tiba di Jakarta.

Emm..Han. Kamu sebenernya kapan sampai di Jakarta?”

Semalam, Van”

“Oh, kasih tau aku dong makanya. Ih…”

Nehan hanya tersenyum kecil. Ah, lagi.

Kamu pasti kenapa – napa ya?”

Huh. Aku sebenarnya takut sekali untuk memakai topik ini.

“Iya, sedikit. Eh, aku boleh tanya sesuatu?”


AAAAAKKKK! >.<


“oke, gini ya Nehan. Aku kayak dejavu lho di tempat yang sama dengan mimik wajah kamu yang sama juga. Daripada aku syok denger pertanyaan kamu, mending kamu langsung bilang aja; kamu kenapa?”


….


….


Kami diam sejenak.

“Han…”

Kulihat ia berkaca – kaca. Entah ini naluri atau bagaimana, tanganku sekarang sudah menggenggam tangan Nehan. Dingin.

Han…aku minta maaf jika ada sesuatu yang membuat kamu jadi seperti ini. Aku…….”

Van!”

“Yah?”

“Tolong jauhi Dio. Aku mohon. Bisa, kan?”

GLEK!!!!!! Kelu. Sangat kelu sampai – sampai aku tidak bisa menjawab.

Van, harus dengan cara apalagi aku tunjukkan kalau aku cuma mau kamu. Sudah. Kamu saja, Vansa. Kenapa kamu begini? Kenapa kamu bisa – bisanya pergi dengan Dio ketika aku gak di sini? KENAPAAA!!?”

Nehan menangis.

Aku tidak tahan.

Aku pun jadi menangis. Bukan karena ia berteriak, tapi karena baru sekali ini aku lihat dia menangis di depanku. Dengan mataku sendiri. Dengan sekuat tenaga aku usahakan untuk menjawab apa yang Nehan tanyakan.

“Aku……”

“Kamu kenapa? Hm? Apa Dio sudah menjadi penting buatmu? Oke. Kita singkirkan saja Dio. Sekarang aku mau tau, apakah kamu sudah tahu apa alasanku menunda pernikahan kita 8 bulan yang lalu?”




Aku terdiam.


Nehan pun demikian.


Aku benar - benar tidak bisa menjawab pertanyaan Nehan. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Takut salah.

"Vansa, jawabannya ada di hati kamu, sama satu lagi, di sini (menunjuk kepalaku)".

Aku masih menangis, dan Nehan sejak tadi sudah berusaha untuk mengatur emosinya. Aku yakin dia pasti melihatku pulang dengan Dio tadi sore. Ini memang salahku. Benar - benar salahku. 

"Nehan, aku minta maaf...."

"Sudah. Hapus sini air mata kamu"

Aku malah semakin menjadi - jadi. 

"Vansa. Setidaknya aku tidak pernah meminta kamu untuk peduli denganku. Setidaknya aku tidak pernah meminta kamu untuk menungguku. Aku hanya merasa jika memang kamu cinta, kamu pasti peduli denganku. Kamu juga pasti menungguku. Tapi.....emm rasanya aku salah. Begitu sulit untukku mendapat rasa peduli, bahkan kamu pun tidak bisa bersabar sedikit saja untuk menungguku. Aku memang mencintaimu, Van. Tidak ada yang bisa mengubah rasa itu hingga detik ini."

Aku masih menangis, kata - kata Nehan sungguh melesak hebat di relung hatiku hingga terasa perih. Entah ini apa...

"Van....kita sudahi saja......."

Kurasakan tubuhku hangat, semakin hangat. Nehan memelukku, dan kami menghabiskan malam itu tanpa kosakata. 




***



3 tahun kemudian



Malam itu, Nehan mengajarkanku sesuatu bahwa cinta bukan tentang keberadaan. Tapi cinta adalah tentang kepastian, pasti akan ada, pasti akan datang, pasti akan menunggu, dan pasti akan bersama. 

Malam ini bintang gemintang terpampang jelas di langit. Aku selalu merasa bahwa setiap jengkalnya menyimpan kenangan, berjuta kenangan mungkin. Angin berembus membawa hawa dingin yang cocok untuk pasangan berkendara roda dua. Bukan bermaksud iri, hanya saja dulu aku pernah berterima kasih pada angin seperti malam ini. Diantara potongan dua puluh empat jam sehari, aku memilih malam sebagai waktu paling nyaman. Ketika pundak - pundak lelah merebahkan peluhnya seiring dengan munculnya gemintang di atas sana. Ketika hiruk pikuk kesibukan di tempat kerja luntur bersamaan dengan menghitamnya langit. Malam, berarti waktu dimana kerinduan mencuat tak tertahankan bahkan terkadang menyesakkan. Namun bagiku, hanya senyapnya malam lah waktu paling nyaman untuk mengingat seseorang. 

Ada alasan mengapa aku duduk menunggu seseorang di sini. Hanya embusan udara dingin yang menelisik lembut. Beberapa bangku mulai kosong, hanya sesekali diisi oleh daun yang tertiup angin. Mataku masih tertuju ke langit, rasanya sudah lama. Bukan, bukan tentang kedatangannya tetapi situasinya. Biasanya menunggu selalu sukses mengalahkan kata sabar. Kali ini aku sungguh menikmatinya. 

Di sini, aku mengingat semua potongan kenangan tanpa sesak ataupun beban perasaan menyesal yang banyak orang keluhkan. Setiap baris kenangan kini terasa indah, bukan karena aku hebat menata hati. Aku hanya menyadari sisi baik itu dari setiap kali bercermin. Di sana, ia 'berkata' dewasa.




Tiba - tiba...


"Vansa?"

.....

"NEHAAAAAAAAAN?"



selesai

2 komentar:

  1. Lanjutannya gimana mbak ? -___- itu setelah 3 tahun si nehan dan si vansa ketemu lagi, apakah ada kasus CLBK ataukah kasus century terbongkar ? eh kok jadi bahas kasus century?

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu kan dah ketebak ujungnya Nehan sm Vansa gimana. Ah gak baca pake tenaga dalem neh 😒

      Delete

kalo ada komentar yang bisa memunculkan amarah emosi jiwa raga nusa dan bangsa, jangan marah ya kalo dihapus. boleh juga tulis ide kalian untuk postingan berikutnya di sini.