Tentang Memantaskan Diri

Iklim di lingkungan gue mulai berubah. Bukan, ini bukan tentang curah hujan atau kelembaban. Iklim yang gue maksud adalah tentang sebuah ikatan. Dimana - mana gue selalu ngeliat status yang mengarah ke pernikahan. Di twitter, facebook, bbm, path, IG, semua ke arah sana. Yaaa memang sih ini jadwalnya orang yang lahir dari taun 90an untuk masuk ke fase menjawab pertanyaan kapan nikah. Hal paling sensitif kedua di dunia setelah urusan duit =.=

Gue yakin, bukan cuma gue yang nyiapin jawaban singkat, padat, dan gak jelas untuk satu pertanyaan ini, seperti 'jawabnya ada di ujung langit' (wajib hukumnya dinyanyiin). Atau jawaban - jawaban yang lain lah yang bisa kamu tulis di kolom komentar di bawah tulisan ini. 

Tapi...

Semua itu bukan tentang seberapa keren jawaban kita, bukan juga seberapa lucu dan garingnya jawaban yang kita punya. Entah alasan apa yang bisa buat gue pada akhirnya mau nulis tentang ini. Setelah sekian lama gue gak nulis, bahkan cerita bersambung di blog ini pun masih gue taro di draft. Tapi di sisi lain, gue merasa perlu untuk menyimpan masa - masa ini untuk dibaca sama gue sendiri di waktu yang akan datang.

Tentang Memantaskan Diri

Ini yang sebenarnya kamu butuhkan untuk melewati fase ini. Tentang diri sendiri yang sebenarnya pantas gak sih berbicara tentang pernikahan? Untuk ukuran laki - laki mungkin jarang berbicara soal jodoh karena pantas tidaknya mereka diukur dari kesiapan dalam bentuk materi selain lahiriah dan batiniah. Logis aja sih, nikah memang butuh dana dan itu gak sedikit. Ukuran sedikit dan banyaknya dana itu tergantung cara pandang masing - masing. Oke. Clear

Tapi kalo perempuan? Hadeh. Parah. Hampir tiap status isinya jodoh, lelaki idaman, kode minta dilamar, apalagi? Girls, jangan gitu napa. Boleh sih boleh, gak dilarang tapi coba rem sedikit. Kalau maksudnya untuk menunjukkan bahwa kalian sudah nikahiable ya jangan di status. Tanya aja langsung ke orangnya, kapan mau ngelamar. Udah. Clear

Kalo belum ada orangnya? yah....susah gue mau bahasnya. He. Gini..gini, apa untungnya nunjukin ke orang lain yang lebih banyak ngurusin hidup masing - masing? Mungkin sudut pandang gue aja yang merasa risih liat kode bertebaran dimana - mana. Gue yakin tuh laki yang lagi ngerasa, begitu ngeliat kodenya bakalan lebih pusing daripada ngeliat kode html yang panjangnya kayak kabel listrik. Yakinlah, siap belom udah gituin. 




Urusan nikah itu banyak, ribet, tapi bikin seneng sekaligus deg-degan! Gue bisa bilang gini karena lagi proses untuk ke sana. Doakeun lancar ya! Mudah - mudahan yang doain dikasih kelancaran juga, yang masih nyiapin materi semoga cepet kumpul jangan sering - sering liat online shop, yang lagi pedakate semoga lebih banyak doa dan usaha daripada bikin status galau. Aaaaamiiin. 

YAAAAAH. Pada akhirnya kita semua bakalan ngelewatin fase ini kok. Fase dimana kita bukan cuma menyatukan satu orang, tapi banyak orang. Fase yang memang prosesnya harus benar - benar dinikmati. 

Pantas atau tidaknya, soal jodoh; Tuhan yang menilai. Soal jodoh yang baik atau tidak, Tuhan juga yang menilai. Bukan kamu.




riana. masih 24 th. lagi puasa. saur kesiangan. 3 bulan lagi dinikahin.

8 komentar:

  1. Ciyeeh yg bentar lagi mau nikahan

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyalah dateng yah! tak tinju kalo enggak.

      Delete
  2. Selain Tuhan yang menilai, pantas atau tidaknya itu dinilai dari sudut pandang orang lain juga. Kalau diri sendiri sih pastinya selalu bisa menemukan kekurangan yang menyebabkan jadi belum pantas. Tapi, ketika pasangan sudah bilang, "Ok, I'm fine with your weakness", ya jadinya pantas toh. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu mah udah pasti mas bro. sebelum jauh bicara soal serius, weakness udah bukan apa2 lagi. hehehe.

      but, thanks sudah mampir :D

      Delete
  3. kadang aku suka bingung dg anak sekarang yg negributin jodoh , banyak yang minta dicariin. menurutku, kalau kita bisa membaikan diri dan membuka jarinagn pertemanan seluasnya . Membaikan diri /memantaskan diri denagn eprtemanan yang luas, jodoh akan datang kok. Kadang banayk dari kita sendiri mepersempit pergaulan , hanya lingkunag tertentu , bagaimana kita bisa banyak bertemu dengan banyak orang

    ReplyDelete
    Replies
    1. setujaaaahhh sama mbak Tira! Hanya sekedar ribut di sosmed bicara ini itu, lebih baik bicara langsung sama yg siapin Jodohnya. hehehe. thanks for comment

      Delete
  4. pertanyaan sensitif "kapan nikah?" :')

    ReplyDelete

kalo ada komentar yang bisa memunculkan amarah emosi jiwa raga nusa dan bangsa, jangan marah ya kalo dihapus. boleh juga tulis ide kalian untuk postingan berikutnya di sini.