Saat Saya Bilang Cinta

Saat saya bilang cinta.
Pertama, saya tidak tau apa maknanya, apa akibatnya, apa dampaknya, pun juga apa sebabnya. Saya menebak - nebak dan seolah sok tau bahwa ini lah cinta. Namun nyatanya, bukan.

Saat saya bilang cinta.
Kedua, saya percaya itu datang dari pandangan pertama. Cinta tidak perlu tau pemiliknya. Cinta hanya sebatas melihat, cinta hanya sekedar berpapasan, cinta hanya seonggok bayangan lalu. Tidak pernah terucap. Bertahun, berganti purnama akhirnya cinta nyata dalam lisan. Dan ternyata, cinta hanya sebatas lisan.

Saat saya bilang cinta.
Ketiga, saya berpegang pada kebaikan seseorang yang rela menunggu dan membuang waktu. Bertahun yang saya tau. Saya menerima dengan penuh balas budi. Padahal cinta sangat kontras dengan balas budi. Akhirnya saya pun tau. Cinta bukan seperti ini.

Saat saya bilang cinta.
Ke empat, saya amat kacau, saya merasa banyak hati yang terpikat. Kabarnya menunggu, tapi nyatanya mengganggu. Saya bilang cinta, bukan semata saya mau. Lebih kepada pura - pura mau.

Saat saya bilang cinta.
Kelima, saya percaya cinta tak terhalang jarak. Saya percaya bahwa semua akan terlewati. Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Abu - abu bukan lagi masanya. Saya bertahan walaupun sesak. Saya tunggu walaupun jenuh. Saya berkorban banyak waktu. Saya senang hanya dengan suara. Namun, cinta yang saya bilang ternyata tak punya iba. Saya lelah, saya jatuh, saya patah hati untuk yang pertama kali.

Saat saya bilang cinta.
Kali ini, saya tidak mau berhitung, atau lebih tepatnya saya tidak akan berhitung. Saya mau cinta ini yang terakhir dalam hidup saya. Cinta yang sudah pernah saya bilang, seolah tak ada. Saya perempuan yang pernah bilang saya cinta berkali - kali. Tapi saya tidak pernah jatuh cinta sedalam ini, sekalipun. Saya rela menunggu hujan berlama - lama asal dia ada. Saya rela tetap ada saat dia butuhkan, sekalipun saya dalam hal yang sulit. Saya rela memberi sandaran saat dia lelah. Saya rela bersahabat dengan masa lalunya, yang padahal saya sendiripun belum tentu bisa bersahabat dengan masa lalu sendiri. Saya rela tidak serta merta saat dia pergi berlibur dengan orang lain yang pernah menyakiti hati saya. Saya rela bersolek wajah ketika dia datang. Saya rela sesak setiap hari menahan rindu yang membelenggu. Saya rela membuatkan makanan yang dia mau, padahal saya tidak ahli sama sekali. Saya rela berlari ketika dia menelfon. Saya rela bersabar dan hanya menanyakan sekali saja, kapan dia akan datang melamar.

Dan..pada akhirnya, saya pun rela menemani hidupnya hingga nanti maut yang memisahkan.

Saat saya bilang cinta untuk hari ini, esok, nanti, saya cuma ingin mengucapkan itu setiap hari, setiap pagi, setiap malam. Agar cinta yang pernah saya bilang lebih banyak, dan lebih berkali - kali.

Saya cinta kamu, azanu.


0 komentar:

Post a Comment

kalo ada komentar yang bisa memunculkan amarah emosi jiwa raga nusa dan bangsa, jangan marah ya kalo dihapus. boleh juga tulis ide kalian untuk postingan berikutnya di sini.