Kenapa Cewek Demen Posesif?

Mungkin sebagian dari kamu bertanya - tanya kemana perginya yang punya blog ini? Karena memang udah lama banget gak melanjutkan tulisan di cerita bersambung yang masih ada di Part 7. Sejenak mengumpulkan sisa - sisa tenaga sambil pemanasan untuk lanjut ke Part berikutnya yah!

Entah kenapa pas buka dashbor blog itu kangen dengan tulisan - tulisan absurd seperti tahun 2014 kemarin. Kangen aja meracuni otak - otak yang lagi sibuk baca tulisan ini. HAHA. Tapi gue berterimakasih karena dari sebagian banyak orang yang punya kuota internet, kamu adalah orang yang rela sedikit membaginya dengan mampir ke blog yang gue anggap rumah ini.

Oke. Awalnya gue lagi baca tulisan mas Alitt Susanto, ibaratnya blog dia adalah sumber inspirasi paling ngena di hati gue dari awal ngeblog. Dan bener, tulisan pertama yang gue baca adalah berjudul tentang Api Cinta Itu Hanya Ada Saat Hati Belum Memiliki. Bisa kamu klik aja tulisannya kalau mau baca. Di tulisan itu rasanya gue jadi tahu kenapa cowok bisa dengan mudah bosan. Dan secara gak langsung menyudutkan sikap cewek yang bisa dibilang Posesif. Oke itu poin yang akan gue tulis kali ini.

pict by www.nyunyu.com


Kenapa Cewek Demen Posesif?

Gue cewek jadi wajar ya kalau gue nulis begini. Dan gue yakin sebagian besar cewek - cewek yang baca tulisan ini abis itu langsung ada di barisan gue, syukur - syukur ngasih tulisan ini ke pasangannya hihhi. Mungkin ada juga jenis cowok yang deket demen posesif, yah anggep aja cowok - cowok demen drama ya. Karena persentase perasaan cewek lebih besar dibandingkan logika. Maka jadilah drama - drama bertebaran di muka bumi ini. Kurang lebih gitu pembelaan gue mewakili para wanita. uehem.

1. Takut Kehilangan

Ini adalah alasan paling amat sangat mewakili hei para pejantan. Bukan karena dia takut sama genduruwo, tapi takut kalo kamu hilang ditelan wanita - wanita perebut pacar orang. halah. Sebenernya gini, mungkin cowok atau cewek punya rasa yang sama yaitu takut kehilangan. Cuma terkadang, aksi cewek akan perasaan takut itu dirasa berlebihan. Padahal rasa yang berlebih itu berbanding lurus dengan bertambahnya rasa sayang. Maafkan rasa takut berlebih itu dengan ikhlas, bukan dengan kebosanan.

2. Cemburu 

Gais, tau gak siapa yang pertama kali bilang cemburu itu tandanya cinta? Kalo kata gue, cemburu itu tandanya minder.  Iya, minder. Gak pede sama dirinya sendiri. Gak pede untuk bisa dipertahankan. Makanya, gak usah cemburu terus - terusan kalo gak mau dibilang minder. Cemburu itu dikit aja, satu sendok teh takarannya. Misal, cemburu liat cowoknya senyum ke cewek lain. Cemburu liat cowoknya lirik cewek lain. Cemburu liat cowoknya chatting sama cewek lain. Uhuk! Tapi nih ya, tapi kadang - kadang jiwa melindungi cewek ini memang ngalahin superhero di film - film deh. Saking gedenya jadi kelebihan lagi. Harusnya 2 sendok teh, malah jadi 2 baskom. Nah, sikap itu yang mungkin bikin cowok jadi ngerasa banyak aturan. Jadi gak bebas gerak kayak cewek lagi dapet banyak - banyaknya. Kan kasian, mana gak bisa dipakein pembalut.

Jadi men, harusnya bersyukur sih punya cewek cemburuan daripada yang gak cemburu sama sekali (Gak gitu juga ya? haha). Kalo cewek udah gak mau cemburu, itu artinya udah males ngurusin hidup cowoknya lagi. Pasti udah pengen nyari yang lebih pantes untuk dilindungin hatinya, daripada hati kamu.

Gitu.

3. Marah

Kenapa ditaro poin ketiga? Karena kalo udah satu kesalahan dimaafkan, dua kali dimaklumi, maka yang ketiga dieksekusi. Marah! Itu alesannya kenapa cewek demen posesif men. Makanya kalo jadi laki jangan bandel napa sih, gak mau diposesifin tapi bandel. Gak mau diputusin, tapi selingkuh. Heuh, capek deh. Kalo mau dipertahanin ya ikutin aja aturan mainnya. Kalo gak mau ikut aturan yaudah keluar aja, Itu prinsip cewek kalo udah gemez. Abis dimaafin, abis dibaik - baikin, cowoknya bosen. Yailah men. Cakit auk!

Mempertahankan itu memang lebih sulit daripada mendapatkan. Itulah kenapa kebanyakan cowok maunya yang enak - enak aja, maunya yang mudah - mudah aja. Pas pedekate dunia penuh cinta, pas jadian dunia penuh tekanan. Giliran udah putus, dikejar - kejar lagi biar ngerasain cinta lagi. Egois :(

Padahal kalo cewek fasenya beda. Pas pedekate belom cinta, pas jadian cinta banget, pas putus mah ilfeel gak ketulungan. Mau sampe kapan sih kayak gitu men? Sampe duit kumpul buat nikah? Iya semoga cepet kumpul ya, tapi jangan sedih kalo si cewek udah direbut sama yang lebih menghargai.

Yap. Cinta itu sebenernya sama. Hanya saja, ia pindah ke orang yang lebih menghargai. Penghargaan cinta itu gak ada yang jualan, adanya di kamu. Cuma kamunya aja yang susah berkorban sedikit. Coba deh rela untuk memaafkan, rela untuk menerima, dan rela untuk menjaga. Kalo nerima, memaafkan, tapi gak menjaga ya buat apa? Kalo menerima, menjaga, tapi gak memaafkan juga untuk apa? Gak perlu saling memojokkan siapa yang salah. Cowok gak selalu salah, dan cewek gak selalu benar. Yang ada itu, cowok yang selalu gak peka dan cewek selalu baper.

Kalo kata gue sih, posesif itu diperuntukkan untuk yang takaran rasa takut kehilangan, cemburu, dan marah yang berlebihan. Selagi cewek masih bisa memaafkan, memaklumi, dan kamu rela mengikuti aturan mainnya tanpa keterpaksaan itu BUKAN posesif. Itu cara dia menjagamu, sedikit memberi jarak namun tetap kembali ke sisimu lagi. Setiap hubungan memang selalu ada bosan, cinta, rindu, marah, senang, dan sedih.

pict by kelascinta.com

Udah segitu aja postingan absurd gue yang udah lama terpendam. Semoga bisa menambah bacaan kamu untuk tetap berani mempertahankan apa yang sudah terjalin, dan waktu yang telah berlalu. Selalu ingat, ada kenangan di sana. Jangan mau dikalahkan dengan kebosanan. Merdekaaaa!

Ketika Cermin 'Berkata' Dewasa PART 7


From: Vansa [08128043xxx]

Aku cuma pergi makan dengan Bos, ada urusan.


Melihat jawaban pesan dari Vansa, sedetik kemudian aku sudah hanyut dalam nada sambung yang terdengar teratur di sana. Tidak diangkat! Aneh sekali Vansa hari ini. Baiklah akan aku coba lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Dan sekarang aku sudah tidak tahu atau lupa pada hitungan ke berapa akhirnya aku menyerah. Sedikit kesal dan banyak heran. Mungkin itu adalah penggambaran tersingkat dan terjelas untuk saat ini. Bukankah seharusnya aku yang kesal jika dia tidak memberitahuku terlebih dahulu akan pergi dengan atasannya itu. Ah, siapa pula namanya aku lupa. Tetapi siapapun dia, aku yakin dialah penyebab keanehan semua ini. Bukan bermaksud menuduh, tapi aku laki – laki. Sangat tahu dan paham hal – hal seperti ini. Jika dulu dia masih terlihat wajar dengan mengantar Vansa pulang karena sakit, rasanya malam ini tidak ada hal yang wajar untuk meeting di malam hari. Berdua saja! Sudah pasti ada yang disembunyikan dari Vansa. Tapi untuk detailnya, aku tidak mau bertindak bodoh dengan menuduhnya dengan kata tak pantas. Vansa adalah wanitaku, calon ibu dari anak – anakku, bagaimana aku bisa berkata kasar dengan posisinya yang berharga seperti itu? Jelas aku tidak bisa.

Vansa, aku rindu. Sungguh kali ini aku bisa meredam kesal, marah, atau apapun itu. Asalkan kamu tahu aku kepayahan mengatur rindu yang sedari tadi menggodaku. Bukankah pernah juga kamu merasakannya, Van? Angkat telponnya. Sekali saja.



~~~



Jenuh


Bahkan bukan lagi jenuh saja, ini sungguh sudah teramat jenuh. Bukan aku sengaja menghindar, tapi lebih baik seperti ini saja. Aku sebenarnya ingin sekali memberitahu Nehan soal malam ini tapi sudahlah. Aku memang sudah bertunganan, namun apa salah jika pergi makan malam dengan laki – laki lain? Kalau iya, biarkanlah. Aku juga tidak peduli itu benar atau salah. Bukan soal Pak Dio, tapi ini soal Nehan. Berulangkali harus aku yang terlebih dahulu menyapa, selalu aku. Bisa dihitung dengan jari jika kalian bertanya peran Nehan soal siapa yang lebih dahulu menyapa. Baiklah, anggap saja sepele masalah ini. Tapi bukankah itu artinya jika aku tidak menyapa terlebih dahulu pun tidak masalah, kan? Katanya sepele. Biarkan saja malam ini Nehan tenggelam dengan banyak pertanyaan. Biarkan saja dia merasa aneh jika tahu aku pergi dengan laki – laki lain. Biarkan saja dia tahu rasanya tidak biasa. Biarkan saja dia merasakan bagaimana gundah menyerang bagaikan sembilu. Biarkan saja dia seperti malam ini. Sekali saja.



Setelah banyak kusingkirkan semua lamunan tentang Nehan, sekarang aku tidak sengaja menyelipkan satu pertanyaan tentang Pak Dio. Tepatnya aku sudah memanggilnya dengan Dio, seperti ada yang aneh dilidahku setelah memanggilnya dengan sebutan nama. Bagaimana bisa orang seperti Pak Dio bisa jatuh cinta denganku? Jelas ini pertanyaan paling mendasar untuk setiap orang. Tapi coba saja kalian bayangkan, Pak Dio tampan, mapan, atletis, dan hanya kurang senyum saja. Jatuh cinta denganku yang sudah jelas bertunangan, tidak tinggi, bukan fashionista, bukan juga model, bukan pebisnis, bukan orang yang banyak prestasi. Singkatnya, aku tidak pantas untuk Pak Dio. Kalian juga pasti setuju denganku jika Pak Dio lebih pantas dengan segala kelebihan wanita di muka bumi ini. Dan satu lagi, bukan juga sosok yang pantas merelakan rasa suka ke wanita yang sudah bertunangan. Apa jangan – jangan Pak Dio bercanda? Tapi tidak lucu. Ah, sudahlah. 



*keesokan harinya*




"Vansa! Nak, cepat! Itu Pak Dio sudah menunggu kamu di depan!"


APA? Ibu menyebut nama Pak Dio? Yang benar saja? Ah, kenapa harus menjemput segala? 


"Iya sebentar, Bu. Vansa selesai sebentar lagi!"


Iya, aku tahu Pak Dio mungkin masih berusaha mendekatiku. Tapi mengapa harus se-pagi ini? Yang benar saja? Aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk banyak bertanya, segera kukerahkan semua keahlianku merias wajah secepat kilat. Serasa terburu - buru sebab tidak sengaja muncul secara otomatis rasa hormatku juga kepada Pak Dio. Bagaimanapun kondisinya, ia adalah atasanku. Membuatnya terlalu lama menunggu tentu bukan diriku.


"Yuk, Pak!"


Jika kamu mau tahu, sejujurnya aku sangat ingin bertanya ke Pak Dio. Mengapa sampai menjemputku segala? Tapi kalimat itu sama sekali tidak keluar, kelu. Seolah lidahku sengaja membuat suasana agar tidak aneh, mungkin saja. 


"Bingung ya, Van? Kok aku jemput?" 


Pak Dio bertanya itu sambil tersenyum. Aku melihatnya dengan ekor mataku sendiri. Haduh. Bosku ini seharusnya sudah benar dengan sikap 'tidak peduli'-nya, jika tiba - tiba jadi perhatian rasanya sangat amat aneh bagiku. 


"He..iya, Pak"

"Eh, kok panggil itu lagi?"

"Aduh! Iya, lupa. Soalnya pake baju kantor. Hehe"

"Hahaha. Bisa saja kamu, Van. Em..aku sebenernya juga gak berniat untuk jemput kamu. Cuma sepanjang jalan menuju kantor, teringat kamu terus"

"HAAAH?" 

Aku sengaja pura - pura tuli.

"Iya, maksudnya karena semalam itu seharusnya milik kamu. Bukan malah diisi dengan cerita yang sudah terlajur kamu dengar. Aku cuma mau minta maaf dan semoga tidak menganggu pikiran kamu untuk fokus dengan pertunangan dan pekerjaan"

"Oooohhhh, iya gak apa - apa kok"

"Syukurlah"


Aku hanya bisa menjawab dengan kata - kata itu. Jika saja ada wanita lain yang bisa kukenalkan dengan Pak Dio, maka itu akan menjadi kabar gembira baginya. Terlebih lagi bagiku. Sayangnya, teman - teman seusiaku sudah banyak yang berkeluarga. Aku menyadari, bahwa di usiaku yang menginjak 26 tahun tentu bukan saatnya untuk gundah lalu semudah itu mengubah keputusan besar berupa pertunangan. Sama sekali bukan saatnya. Perjalanan cintaku dengan Nehan sudah bisa menjadi setebal kamus besar jika dituliskan ke dalam buku. Ah, Nehan. Sejak semalam aku tidak mau menghubunginya, rasanya itu sudah cukup. Sengaja kucari ponsel untuk sekedar melihat apakah Nehan menghubungiku atau tidak pagi ini. Tanganku semakin cepat mencari benda berukuran 4 inci itu. Ke kanan tidak ada. Ke kiri juga sama. Di setiap ruang kosong di dalam tas sudah kujamah. Celaka! Pasti tertinggal di rumah. Apalagi sebabnya kalau bukan karena terburu - buru. Sudahlah, Nehan pasti semakin banyak bertanya - tanya.


"Kenapa, Van?"

"Ini, hape ketinggalan. Tapi sudahlah gak apa - apa"

"Yaaah, kalau masih deket kita bisa puter balik. Tapi ini lumayan"

"Gak usah, Dio. Nanti malah kejebak macet"

"Oke gini aja, nanti pulang jangan naik angkutan umum. Biar kuantar, ya. Takut kenapa - kenapa di jalan"

"Aduuhh. Ngerepotin lagi saya nih. Gak apa - apa kok, kan, udah biasanya begitu"

"Van, aku cuma mau menawarkan bantuan kok. Gak berniat yang lain. Ini kan karena hape kamu ketinggalan"

Sebenarnya perkataan Pak Dio ada benarnya. Tapi aku juga merasa jadi semakin aneh jika dalam satu hari dijemput dan diantar oleh laki - laki yang bukan siapa - siapa. Aku juga khawatir jika kedua orang tuaku berpikir yang tidak - tidak. 

"Oke deh bos!"

"Nah gitu dong nurut sama bos. Hehe"



~~~


*dua bulan kemudian*



Wanita itu.


Adalah empat bulan lagi aku akan resmi menikahi Vansa. Ada rasa ingin segera menikahinya, tapi di sisi lain aku merasa ingin sekali lagi menundanya. Semenjak hari itu, Vansa lebih sulit untuk dihubungi. Dan permasalahan semakin meruncing karena aku baru bisa pulang ke rumah satu bulan lagi. Rencananya sekaligus akan memantapkan susunan acara pernikahanku dengan Vansa nanti. Namun rasanya itu sudah sangat sulit kubayangkan melihat keadaan yang semakin tidak bisa dianggap baik - baik saja. Ya, aku dan Vansa sudah selama satu bulan tidak berkomunikasi dengan baik. Entah ini karena faktor detik - detik pernikahan, sebab banyak sekali orang yang mengatakan demikian. Jika semakin dekat dengan pernikahan, maka akan semakin banyak pula godaan dan masalahnya. Ah, entahlah. Aku juga sempat mengira ini adalah ulah Dio. Siapa lagi jika bukan atasannya itu. Hanya Dio-lah satu - satunya orang yang dekat dengan Vansa akhir - akhir ini.


Kuputar bibir cangkir kosong di hadapanku. Duduk menyendiri sembari melepas pandangan ke arah jalanan. Kulihat segelintir orang berduyun - duyun menyebrangi jalan raya. Di sisi kiri jalan ada sepasang kekasih sedang bergurau, mungkin melepas kebosanan sampai bus yang mereka tunggu akhirnya datang. Di cafe ini aku memang sendiri, duduk terdiam menatap ke segala arah. Terkadang, mengamati kehidupan orang lain melalui sekilas pandang memang sedikit menghibur. Ya, hiburanku memang sangat jauh dari kebanyakan orang di dunia ini. Tetapi apapun itu, aku hanya bisa bersyukur dengan semua yang ada. Sejenak melepas penat dengan me time memang benar adanya.


Tiba - tiba ponselku berkedap - kedip. Terlihat nomor tidak kukenal di layarnya. Sempat ragu untuk menjawab. Namun, aku kira tidak ada salahnya. Siapa tahu ini telpon penting.

"Halo?"

"Nehan?"

"Iya benar, saya Nehan. Siapa ya?"

"Tidak penting. Gue cuma orang yang mau kasih kabar tentang Vansa"

"Vansa?"

"Iya, Vansa. Tunangan lo.

"Iya tapi......"

"Dia dekat dengan Dio. Bahkan ada kemungkinan Dio akan menikahinya. Gue kasih tau kin karena kita senasib. Kita adalah pihak yang dirugikan dari kedekatan mereka. Bukan gak mungkin jika Vansa akan menerima Dio. Dio punya segalanya, baik, dan sangat menghargai wanita, juga.........."

"Tunggu! Anda ini siapa?!"

Sungguh merusak suasana. Baru saja sejenak melupakan permasalahan soal Vansa, menikmati setiap gerak - gerik kehidupan di sekitarku. Suara wanita dari ponselku ini berhasil mengobrak - abrik suasana yang hangat menjadi panas. Terlebih lagi dengan mendengar nama Dio. Muak sekali rasanya.

"Gak perlu kau tahu siapa gue. Yang pasti gue juga ada dipihak yang dirugikan. Sekarang gini, apa lo ngerasa juga kedekatan mereka?"

"Sebentar, nona. Pertama, saya tidak tahu Anda siapa. Kedua, tiba - tiba Anda seolah berbicara bak seorang hakim yang bisa menjudge orang se-enaknya. Ketiga, Vansa adalah urusan pribadi saya dan Dio bukan urusan saya. Terakhir, jangan hubungi saya lagi dan saya juga sudah tidak ingin tahu siapa Anda dan darimana Anda mendapatkan nomor saya. Sekian."

"Tunggu....."


Klik! Sengaja kuputus sambungan teleponnya. Bayangkan, di tengah kerisauan seperti ini mengapa masih saja ada orang yang menambah beban? Terlebih lagi aku tidak mengenal orang itu. Setelah mendapat kabar yang tidak sedap untuk didengar, tentu sudah tidak ada lagi gairah untuk menikmati gerak - gerik kehidupan orang di sekitarku. Ah! Aku hubungi saja Vansa. Sekarang. Saat ini juga.


....


....


Vansa tidak menjawab telponku lagi. Sudah tidak bisa kuhitung berapa kali Vansa tidak mau atau tidak mendengar ponselnya berdering jika aku yang menghubunginya. Terkadang aku juga mendengar nada sibuk dari operator. Tetapi setiap pesan singkat yang kukirim, selalu dibalas. Aneh sekali bukan? Pikiranku sungguh tidak tahu bentuknya seperti apa sekarang. Carut marut. Vansaku bukan lagi orang yang mudah untuk dihubungi. Tingkat kesibukannya mungkin bertambah. Dua bulan terakhir, aku merasa Vansa menjauh. Dan aku hanya mengandalkan benda yang kugenggam saat ini. Ya, menyebalkan sekali.  Mungkinkah semua perkataan wanita itu benar adanya? Tetapi mengapa sangat detail bisa mengetahui aku dan Vansa sudah bertunangan? Sekarang, rasa penasaranku tentang wanita itu semakin kental. Apakah wanita itu orang yang sengaja mengarang cerita agar bisa menjauhkan aku dan Vansa? Tetapi mengapa dia juga dirugikan jika Vansa dekat dengan Dio? Siapa sebenarnya wanita itu? 





......bersambung

Ketika Cermin 'Berkata' Dewasa PART 6


Perbincangan kami menjadi serius, aku harus bisa menempatkan diri dengan baik. Setidaknya tidak terlalu menganggap dia sebagai 'teman' dan juga tidak terlalu memperlihatkan bahwa aku juga bawahannya. Membingunkan memang, dan jelas sekali aku tidak terbiasa dengan situasi seperti sekarang ini.


"Aku lanjutkan yah, Van"


"Iya...iya" Kali ini aku letakkan kedua tanganku di atas meja. Pertanda aku serius ingin tahu kelanjutan ceritanya.


"Dia bernama Niken. Cantik, memesona, menarik, dan pintar. Sempurna bukan? Sayangnya aku sudah tidak punya lagi foto atau apapun tentang dia"


"Gak apa - apa. Lanjutkan saja lagi"


"Niken adalah wanita satu - satunya yang saya inginkan, dulu. Aku dan Niken bertemu, berkenalan, dan memutuskan untuk menikah hanya dalam waktu satu tahun. Semua karena memang ingin segera menikah. Walaupun posisiku dulu masih belum seperti sekarang. Aku bekerja di divisi yang sama dengan denganmu, dulu"


"....."


"Saat itu umurku masih 27 tahun, dan lama hubunganku dengan Niken sudah 1,5 tahun. Artinya enam bulan kemudian aku akan menikahinya. Mungkin itu waktu yang sebentar, tapi aku mengagumi Niken dari sejak kami masih SMP. Hanya saja, aku kecil tidak berani mengungkapkannya, dan hingga kami sama - sama berusia 25 tahun aku baru berani mengungkapkannya"


"Kenapa?"


"Aku bukan tipe kekasihnya. Aku hanya dianggap sahabat, orang yang selalu ada dan selalu mendengarkan keluh kesahnya. Mendengar dan melihat tangisannya. Melihat dan mendengar semua laki - laki yang pernah menyakiti hatinya. Aku sungguh tidak ingin Niken menjauh, menyimpan semua perasaan adalah hobiku dulu, Van. Mungkin keahlian ini jadi terbawa hingga sekarang"


"......."


"Hmmmhh" Dio menarik nafas panjang.


"Lalu?"


"Suatu hari, Niken datang padaku. Usiaku masih 24 tahun. Niken dikhianati oleh kekasihnya. Entah sudah berapa laki - laki yang singgah di hatinya. Dan itu adalah laki - laki terbaik yang pernah dia punya. Di saat itulah aku masuk dan berani mengambil celah hatinya. Sampai akhirnya, aku berani mengungkapkan isi hatiku yang sejak lama kupendam dalam - dalam. Dia terharu. Niken menangis di pelukanku lama, sangat lama. Setelah itu dia mau menerimaku, mau menjadi kekasihku. Hmmmmhhh" Dio menarik nafas panjang lagi.


"......"


"Bukan main senangnya, Van. Hampir sepuluh tahun aku menunggu, sabar, diam, akhirnya aku bisa meraih hatinya. Entah sudah berapa banyak air mata yang pernah terjatuh, aku lupa. Entah sudah berapa banyak kepingan hati yang hancur, aku pun sudah lupa. Yang aku tahu saat itu, Niken adalah pacarku. Dan sebentar lagi kami akan menikah. Awalnya semua berjalan dengan baik, amat sangat baik. Aku sama sekali tidak pernah melakukan kesalahan. Sebab aku tahu persis apa yang akan membuat Niken marah, kecewa, atau bahkan menangis. Aku tahu semua cerita cinta Niken. Dan patah hati itu ternyata memang hebat. Lebih hebat dari usahaku untuk bisa bersama dengan Niken"


Aku semakin penasaran. Kulihat dia meneguk habis minumannya. Beberapa kali aku melihat ekor matanya berkaca - kaca. Aku sungguh tidak menyangka bahwa orang yang ada di depanku ini, atasanku ini, adalah orang yang pandai menyimpan perasaan. Sungguh sangat pandai.


"Hari itu adalah ulang tahun Niken. Saat itu aku sedang bertugas di Jogja. Tetapi aku sama sekali tidak mempersoalkan itu, rencananya aku akan memberi kejutan ke Niken tepat pukul 12 malam. Hari itu adalah hari terpadat yang aku lewati, Van. Resiko memang. Yang terpenting adalah Niken senang dengan kejutan yang aku berikan. Rencananya setelah aku memberi kejutan untuk Niken, pagi - pagi sekali aku akan berangkat lagi ke Jogja. Istirahat bisa di perjalanan. Setelah sampai di apartemennya, aku tidak bertemu dengan Niken. Mungkin dia sudah tidur, karena aku tiba tepat pukul 12 malam. Tidak apa - apa, jika keesokan harinya dia bangun dan melihatku itu sudah sama saja. Ternyata, Van. Pukul empat pagi, aku melihat Niken datang diantar oleh mantan kekasih terbaiknya. Saat itu, aku memberi kue tart dan ucapan selamat ulang tahun ke Niken dan langsung bergegas pergi"


"Itu saja, Dio?"


"Iya, Van. Aku hanya bilang 'selamat ulang tahun Niken, semoga kamu semakin bahagia'. Untuk apa aku bilang yang lain lagi, sudah bisa dimengerti jika dua orang, laki - laki dan perempuan pulang dini hari. Dan laki - laki itu adalah mantan kekasih terbaiknya. Aku bisa apa lagi?"


"Niken tidak mengejar?"


"Tidak. Dia hanya memanggil sekali dan aku tidak mau menoleh. Sejak saat itu aku memutuskan hubunganku sendiri dengan Niken. Tanpa kata - kata. Sejak itu aku terus membunuh waktuku dengan bekerja. Aku melanjutkan kuliah lagi. Sengaja menyibukkan diri dengan berbagai usaha sampingan. Jatuh bangun, untung rugi, sudah bukan hal yang menyakitkan. Semua itu aku lakukan agar tidak ada waktu lagi untuk memikirkan Niken"


"Sampai saat ini tidak ada kabar tentang Niken?"


"Aku sengaja untuk tidak mencari tahu semua tentang Niken. Semua akses baik keluarganya dan media sosial sudah kututup rapat. Benar apa yang kamu katakan, Van. Aku pun setuju dengan prinsip yang kamu katakan tadi, 'Terkadang sengaja untuk tidak tahu alasan yang membuat kita kecewa, justru bisa jadi cara untuk berdamai dengan diri sendiri'. Kamu wanita yang kuat, Van"



Aku tersenyum, Dio juga tersenyum.


"emm maaf ya, Van. Moment ini seharusnya untukmu, bukan untukku. Bercerita banyak soal Niken, membahas semua alasan pernikahanmu, itu semua di luar rencana adanya makan malam ini. Aku minta maaf. Maaf, jika sudah mencintaimu diam - diam".


"Iya, Dio. Aku gak keberatan sama sekali. Terima kasih atas ajakan malamnya"


Setelah banyak bercerita, Dio mengantarku pulang. Ada banyak perubahan yang sedari tadi aku jaga, baik dari sikap dan terutama panggilanku kepada Dio. Aku menyadari, pertama sekali aku memanggilnya dengan sebutan 'Pak'. Kemudian berani memanggil dengan sebutan 'kamu atau Dio'. Dan terakhir menyebut diriku dengan 'saya' menjadi 'aku'. Apakah ini tanda kami sudah dekat? Apakah aku salah dalam menjaga sikap? Ah, semoga saja ini bukan hal yang perlu ditakutkan. Semoga juga bukan awal dari sebuah permasalahan. Aku hanya ingin memfokuskan diriku dengan Nehan. Semata - mata hanya Nehan. Tapi mengapa saat ini Dio juga ikut dalam pikiranku. Mengapa?



~~~


Van, kemana?

Hari semakin gelap, tidak ada banyak bintang malam ini. Setelah seharian berkutat dengan berbagai rapat, sejenak kurebahkan badan. Kupejamkan mata, seolah menolak keras cahaya lampu yang langit - langit kamarku. Terkadang aku rindu sekali dengan kamar di rumahku. Rindu dengan Ayah dan Ibu. Pasti mereka merasa sepi sekali akhir - akhir ini. Sebab anak semata wayangnya terpaksa hijrah ke pulau lain demi profesionalitas kerja. Bayangan Ayah dan Ibu membuat mataku semakin lengket. Serta merta masuk kedalam mimpi, mimpi yang dalam. 



*tiga jam kemudian*



Aku terbangun. Kudapati diriku tertidur dengan pakaian lusuh, penuh keringat. Selepas mandi, aku langsung mengecek telepon genggamku. Tidak ada pesan dari siapapun, bahkan Vansa pun tidak memberi kabar. Ah, sedang apa dia? Tidak lama kemudian, kudengar nada sambung pertanda sibuk. Berkali - kali kucoba hasilnya tetap sama. Van, kamu kemana?


To : Vansa [08128034xxx]

Van, kemana? Aku kangen. Minggu depan aku pulang, sayang. Sabar ya. Tunggu aku, jangan pergi dengan yang lain.


Sebenarnya aku sangat rindu. Bukan hanya rindu. Pesanku juga tak kunjung dibalas. Setelah beberapa menit menunggu, aku putuskan untuk menelpon Ibunya. Sudah lama juga aku tidak mengobrol dengan Ibunya Vansa. 


"Malam, Bu. Sehat sekeluarga?"


"Sehat, Nak. Gimana kamu di sana? Betah?"


"Betah gak betah sih ini, hehe. Minggu depan pulang, Bu"


"Oh, ya? Vansa harus tahu nih"


"Haha iya, Bu. Oya, Vansanya mana, Bu? Mau sekalian ngobrol"


"Vansa kan belum pulang, Nak. Tadi pergi bukannya pergi dengan Pak Dio, ya?"


"Pak Dio? Siapa Bu?"


"Loh, Nak Nehan gak tahu, ya? Kan pergi pamitnya mau ada yang dibicarakan dengan Pak Dio. Penting katanya, dia itu atasan Vansa di kantor. Mungkin urusan kerjaan, Nak"


"Oh atasannya, ya. Yasudah tadi seharian Nehan juga sibuk banget, Bu. Jadi sampai gak tahu kabar Vansa hari ini. Makasih ya, Bu. Sehat ya, Bu"


"Iya, Nak"


Setelah menelpon, aku bukannya semakin tenang. Justru sekarang aku menjadi khawatir. Mengapa seperti tidak biasanya? Mengapa telponku tidak diangkat? Mengapa sampai jam sepuluh malam belum pulang? Apa yang dibicarakan? Sebenarnya aku juga sibuk, aku juga mengerti jika Vansa pun punya kesibukan sendiri. Apa sulitnya memberi kabar? Ah, sudahlah. Aku tunggu saja kabar darinya.



*satu jam kemudian*


Aku masih terjaga. Sengaja menanti kabar dari Vansa. Setidaknya aku juga ingin tahu apa yang sebenaranya dibicarakan hingga pulang selarut ini. Bagiku, ini memang tidak biasanya. Sungguh Vansa tidak pernah bepergian dengan laki - laki lain, semua teman dekatnya perempuan dan aku mengenal mereka. Sekalipun akan pergi dengan orang lain, Vansa akan memberitahu. Tidak seperti sekarang. Ada yang aneh, tapi apa?


Ah. Vansa membalas pesanku!



                                                                                                                                                                                                 .....bersambung

Ketika Cermin 'Berkata' Dewasa PART 5



Akhirnya. Lama sekali menunggu sore. Entah sudah berapa kali aku menengok ke arah jam tangan. Seperti orang yang sedang terburu - buru. Kadang tersenyum sendiri, kadang melamun. Sungguh repot sekali aku hari ini. Kali ini aku lebih berhati - hati menuruni anak tangga. Tidak ingin merusak moment dengan terpeleset untuk yang ketiga kalinya. 


"Nehaaaaaaaan!" Aku menjerit sesuka hati begitu melihat Nehan. Masa bodoh dengan telinga orang lain.

"Kamu kayak anak ABG baru pacaran aja sih, Van", reaksinya datar. Menyebalkan.

"Ih. Kamu kok biasa aja sih? Ini apa?" selorohku sembari menunjuk bungkusan yang dia bawa.

"Oleh - oleh, buat keluarga kamu"

"Buat aku?"

"Ini. Gede banget kan?" katanya sambil menunjuk dirinya sendiri. Ah, Nehan.


Setelah mengantarku pulang ke rumah. Malam harinya, Nehan mengajakku ke taman. Hitung - hitung mengenang masa - masa sewaktu aku masih SMA dan Nehan masih duduk dibangku perkuliahan. Sepanjang perjalanan, kupeluk Nehan erat. Seakan tidak ingin dia pergi lagi. Sungguh sudah lama sekali rasanya menanti saat - saat seperti ini. Mengenang hal - hal semacam ini memang sepertinya tidak penting. Tapi bagiku, justru inilah yang menjadi penguat suatu hubungan. Mengingat dan mengenang masa - masa yang sudah terlewat, baik senang ataupun sedih, adalah hadiah. Hadiah untuk masa depan. 


"Han, kamu ga capek?" tanyaku memulai percakapan di malam ini.

"Enggak, Van. Sini, deket" satu detik kemudian aku sudah duduk merapat ke Nehan. Sengaja langsung memeluk lengannya, bersandar dipundaknya.

"Kangen?" pertanyaan Nehan sungguh sangat tidak perlu dijawab. Dan sengaja tidak kujawab saja sekalian.

"Hehe. Iya, Van. Aku juga"

"Apa?" aku mendongak.

"Kangen"

"Kata siapa?"

"Kamu, barusan"

"Ih, aku diem aja kok"

"Kamu kan bilangnya dalam hati. Aku aja denger, kamu gak denger?"

"Ih. Ngarang deh. Mulai lagi sok taunya"


Obrolan kami terus berlanjut. Sudah entah apa saja yang dibicarakan aku saja lupa. Lalu, sampai sejauh manapun aku dan Nehan berbicara. Tetap saja berujung dengan pembicaraan serius. Ya, ini serius bagiku.


"Van, kalau misalnya aku dipindahtugaskan, bagaimana?"

Satu pertanyaan, seolah menohok leherku. 

"Jangan mau dong, Han. Cari cara pokoknya usaha dulu supaya tidak perlu dipindah, yah?"

"Kenapa, Van?"

"Aku gak mau ah, LDR-LDR an. Di sini aja yah"

"Iya, nanti aku usahakan ya. Tapi aku gak bisa janji karena sepertinya tanggung jawab untuk penjaminan mutu di sana akan diserahkan ke aku, Van. Isu yang berkembang gak main - main. Titik fokus perusahaan masih di sana"

"..........."

"Van, aku hanya bicara supaya nanti kamu sudah siap jika ada hal - hal yang tidak kita inginkan terjadi. Aku juga berat jika memang harus berjauhan"

".........."

"Vansa, tenang yah. Jangan cemas"


Seribu kali pun Nehan berkata seperti itu, aku sudah pasti akan cemas. Beruntunglah usapan tangan Nehan di kepalaku mampu meredamkan suasana. Setidaknya, aku mampu memberi ruang untuk Nehan berbicara. Walaupun sungguh aku tidak ingin berkomentar soal itu. Toh semua itu belum tentu terjadi. Aku juga tidak mau berpura - pura membesarkan hati soal itu. Karena aku memang tidak rela jika dia pergi. Lagi.



~~~


*dua bulan kemudian*



Ternyata, lagi.


Malam semakin larut, suara mesin kendaraan di jalanan satu - persatu mulai berkurang. Nyanyian malam juga semakin merdu, ikut memeriahkan suasana. Di sini, aku sendiri memeluk kaki. Terpekur lama sembari membenamkan wajah. Bukan lagi soal penundaan pernikahan. Bukan lagi soal apa penyebab Nehan melakukan itu. Tapi ini soal lain. Bukan aku dan Nehan yang mengharapkannya, tetapi keadaanlah yang memegang kendalinya.


Jangan ditanya bagaimana beratnya hatiku saat ini. Jangan juga ditanya sudah berapa lembar tisu yang kuhabiskan malam ini. Kalian tau? Nehan benar soal pindah tugas malam itu. Satu tahun, katanya. Ya Tuhan, apalagi ini? Soal penundaan pernikahan apakah tidak cukup? Sekarang justru ditambah dengan berjauhan dengan Nehan. Bagaimana bisa aku melakukannya? Apakah bisa aku bertahan se-lama itu? Menangis memang tidak menyelesaikan masalah. Tapi hanya itulah yang ingin aku lakukan saat ini. Hanya itu saja. Cukup itu saja.


Besok Nehan berangkat, aku tidak bisa mengantar keberangkatannya karena tentu saja aku juga bertanggung jawab dengan pekerjaanku. Biarlah. Itu juga bisa membantuku untuk merelakannya pergi. Aku takut jika nanti ikut justru malah semakin tidak ingin berjauhan. Nehan, aku sedih. 



~~~


*enam bulan berlalu*



Bos (?)



Perlu aku ceritakan, bahwa sampai saat ini hubunganku dengan Nehan masih bisa dikatakan baik. Setiap bulannya Nehan selalu menyempatkan diri untuk pulang. Bertemu dengan keluarganya, keluargaku, dan yang pasti bertemu denganku. Setiap hari bertukar cerita. Setiap hari merindu. Tidak ada masalah yang berarti. Ternyata LDR tidak terlalu menakutkan bagiku. Aku sudah mulai terbiasa untuk menjalaninya. Walaupun terkadang seperti ada sesuatu yang hilang. Entah apa. 

Terkadang ketika berjalan sendiri ditengah keramaian, bukan lagi dirasa kesepian. Justru malah menjadi obat untuk membunuh rasa sepi itu. Terkadang aku baru menyadari bahwa kesepian yang sebenarnya adalah ketika salah satu dari kami (aku ataupun Nehan) sengaja untuk tidak menyapa. Biasa, selalu komunikasi yang menjadi titik permasalahannya. Beruntunglah Nehan selalu bisa mengerti. Hubunganku dengan Nehan tidak terlalu buruk bukan? Jika boleh aku jujur, permasalahan bukan lagi soal Nehan. Ya, dia adalah Pak Dio. Masih ingatkah dengan ajakan makan malamnya beberapa bulan yang lalu? Ya, baru malam ini aku akan menuruti ajakannya. Perasaan tidak enak dan canggung sebenarnya sudah bisa terbaca dari raut wajahku. Sungguh aku hanya ingin menghargai ajakannya, tidak lebih. Dan letak penyesalanku adalah Nehan tidak tahu - menahu soal ini. 




~~~


Kalian harus tahu dimana aku duduk sekarang. Harus aku akui bahwa ini adalah kali pertama aku merasa diperlakukan bak putri di negeri dongeng. Restoran kelas satu di ibukota. Ya, di sanalah aku menepati ajakan Pak Dio. Ada sedikit rasa aneh, oh tidak, banyak. Dari semua perlakuannya kepadaku, tentu sudah bisa ditebak bagaimana perasaanya. Aku tidak bermaksud besar kepala, tapi cobalah, anak SMA juga pasti mengerti bahasa tubuhnya. Harusnya seperti itu, namun raut wajah Pak Dio tetap datar. Sama sekali tidak terlihat mata yang berbinar atau sedikit merayu. Beliau tetap Pak Dio yang friendly, tidak berlebihan. Ah, kalian harus satu meja denganku agar tahu persis bagaimana cara beliau berbicara kepadaku. Sungguh membuatku tersipu.


"Gimana makanannya, Van? Enak, kan?" 

Aku tidak langsung menjawab, sedikit memberi sepersekian detik untuk lidahku merasakannya

"emmm..sesuai ekspektasi, Pak. Saya baru pertama kali ke sini, Pak. Hehe"

"Oh, ya? Sesekali coba dong, Van. Tapi jangan setiap mau makan ke sini"

"Kenapa emang, Pak?"

"Bosan! Mau seenak apapun makanan, mau senyaman apapun tempat, kalau di situ - situ aja, gak dinamis pasti bosan. Coba aja"

"Hmmmm...iya ya" kataku sembari menganggukkan kepala beberapa kali.

.....

"Van?" 

Kali ini wajah Pak Dio berubah, maksudku tidak seperti sebelumnya.

"Vansa?"

"Ah, iya, Pak" 

"Kamu sudah mantap dengan tunanganmu?"

Tuhan! Aku hampir tersedak mendengar pertanyaan Pak Dio. To the point!

"Iya, sejauh ini sih sudah mantap, yah, walaupun sebenarnya pernikahan kami seharusnya di bulan April yang lalu, Pak"

"Ditunda maksudmu?"

"Iya, bulan April tahun depan, Pak"

"Berarti enam bulan lagi?"

"Iya, doakan saja ya, Pak. Semoga tidak ada halangan lagi"

"Iya, Vansa. Kalau boleh tahu, apa alasan kamu menunda pernikahan itu?"

Hmmmhhhh. Sungguh aku sebenarnya tidak ingin membahas hal ini. Namun jika kalian berada diposisiku sekarang, membahas masalah ini bisa menjadi keuntungan dan kerugian. Satu keuntungan bahwa dia mengerti aku sudah sangat serius dengan Nehan. Namun di sisi lain, aku takut Pak Dio malah mencari kesempatan dari setiap perbincangan kami. Aku takut sekali salah menjawab, bagaimanapun aku harus pintar - pintar agar tidak ada celah baginya. Sekecil apapun itu.

"Bukan saya yang menunda, Pak. Tapi dari Nehan sendiri yang menginginkan itu. Saya sebagai orang yang menyayanginya hanya bisa mengerti, apapun alasannya. Dan sampai detik ini, saya sendiri juga tidak tahu persis alasannya"

"Kenapa sampai tidak tahu?"

"Em...waktu itu saya sudah sangat kalut, Pak. Setelah itu, saya sudah bisa menerimanya. Terkadang sengaja untuk tidak tahu alasan yang membuat kita kecewa, justru bisa jadi cara untuk berdamai dengan diri sendiri. Saya pun tidak ingin membahas masalah itu lagi dengan Nehan"

"Maaf ya, Van. Saya hanya ingin tahu dan mengenal kamu. Kamu pasti sudah bisa membaca apa yang ada dalam pikiran saya dengan mengajak kamu ke sini"

"......."

"Saya hanya melihat beberapa bulan ini, kamu jarang bahkan hampir tidak pernah dijemput oleh tunanganmu itu. Sudah lama sekali, saya menunggu malam ini. Tapi saya juga tidak bisa memaksa kamu untuk mau. Yang bisa saya lakukan hanya menunggu"

"....."

"Saya sudah lama suka kamu, Vansa. Tidak ada yang tahu soal ini. Saya sengaja merahasiakannya agar semua orang di kantor tetap profesional. Saya sendiri pun menginginkan itu. Tetapi saya sadar, walaupun seperti itu saya juga tidak bisa lagi membendung semua perasaan ini"

"....."

"Mungkin ini pertama kali kamu mendengar saya berbicara sebanyak ini. Hehe"

"......"

"Saya hanya tidak bisa menghindar lagi, Van. Sudah waktunya saya untuk memiliki pendamping hidup. Tiga tahun lalu, saya mengalami patah hati terhebat. Jauh lebih dari apa yang kamu rasakan ketika pernikahanmu tertunda"

"Kenapa Pak?"  Aku baru bersuara, sejak tadi aku hanya merasa lidahku seolah kelu. Dan aku juga merasa tidak ada pertanyaan yang harus kujawab. 

"Haruskah kuberitahu, Van?"

"Iya Pak!!!" Aku tiba - tiba bersemangat kali ini.

"Tapi ada syaratnya, Van"

"Apa itu?"

"Tidak boleh dilanggar ketika di luar kantor"

"Iya!! Apa itu, Pak?"

"Jangan panggil saya dengan sebutan 'Pak', saya malu! Lihat itu pramusaji di sini daritadi melihat saya seperti saya ini mau interview kamu aja, panggil 'Pak' 'Pak' terus"

"Hahahaha oke deh! Pak! Ehhhh...apa dong ini manggilnya?"

"Dio aja, Van" ia tersenyum. Silakan menebar pesona, Pak Dio. Batinku.

"Oke. Hai, Dio" kataku sambil melambaikan tangan. Dia tertawa lebar. Sangat lebar bagiku yang tidak pernah melihatnya tertawa.

"Hai, Vansa" dia tersenyum lagi. Ah, sial.

Oh, ya. Aku hampir lupa dengan kelanjutan cerita Pak Dio tadi.

"Jadi tadi kenapa?"

"Kenapa apa?"

"Iya. Alasan kenapa bisa mengalami patah hati terhebat itu Dio?"

"Nah, gitu dong manggilnya. Hehe. Oke dilanjut yah"

"Iyah"








............bersambung