Pelajaran di Perjalanan Part 1

Sebelum mau curhat tentang pelajaran di perjalanan, gue mau cerita tentang kebetulan - kebetulan menyenangkan. Jadi kemarin tanggal 26 Februari 2015, gue emang berniat ke Tangerang. Di kota ini ada keluarga, 2 kakak gue menetap di sini. Alih - alih cari udara segar setelah satu tahun mengendap bagaikan bubuk kopi, eh pagi harinya gue dapet kabar gembira. Melebihi ekstrak kulit manggis atau kulit - kulit yang lain. Secara gue dapet kesempatan untuk mengikuti workshop tentang penyakit Tuberculosis (TB) di Bandung tanggal 3 - 5 Maret 2015. Untuk pembahasan ini ada di postingan selanjutnya yah, gaes ^^

Jadi, kembali ke judul ya. Kemarin gue berangkat sendirian. Iya, udah biasa kok jadi tidak perlu dikhawatirkan. Kenapa biasa? karena gue sering bolak - balik ke sini karena dulu sempet punya pacar di sini (elaaaaah sempet). Menempuh perjalanan sendiri itu memang mengasyikan sekaligus menegangkan. Oke, yang terakhir agak lebai. Ada beberapa poin penting yang epik dari perjalanan kali ini. Siap? Baiklah.


1. NADA DERING

Entah kenapa di bus ini ada berbagai macam nada dering yang terdengar aneh di telinga. Nada dering pertama adalah nada dering anak ayam. Bunyinya semacam ini 'piyek..piyek..piyek..piyek'. Ih, gila, gue udah melongo ke bawah kolong bangku mencari dimana sosok anak ayam itu. Gue udah memikirkan apa dia sudah makan atau belum. Gue juga sempat menyumpahi induk ayam yang udah tega membuang anaknya di bus AC seperti ini. Dan ternyata, itu hanyalah nada dering. Cialan~

Nada dering yang kedua adalah bunyi serigala di tengah kuburan. Gak tau pokoknya gue percaya kalo latar pengambilan suara itu adalah di kuburan. Kalian pura - pura percaya aja, aku rapopo. Dan bunyi itu terdengar dikala langit sudah gelap. Gue tengok kanan kiri, kok ada suara serigala di dalam bus AC? Apakah pemeran ganteng - ganteng serigala ada di dalam sini? AH JANGAN - JANGAN IYA! Gue udah horor duluan. Aseli, takut. Eh, kok bunyinya jadi berulang - ulang. Lalu diikuti oleh suara orang berkata; Halooo. Cialan lagi~


2. POSISI KAKU

Duduk di bangku paling belakang aja udah sesuatu. Ini ditambah lagi dengan dihimpit oleh dua ibu - ibu membawa batita. Iya, batita. Sebelah kiri gue, ibu - ibu muda (kayaknya sih usianya di bawah gue) dengan anaknya, cowok, bernama Dafa. Si Dafa ini anteng banget. Gak rusuh, gak banyak rewel, banyak tidur, ah pokoknya ini anak mengerti ibunya banget. Nah, sebelah kanan gue ini ibu - ibu paruh baya dengan anaknya, cewek, bernama Zahra. Ini anak rewel banget, banyak nangis, sempet jekpot, pokoknya dia beda banget sama Dafa. Di sini, gue jadi dapet wejangan dari mereka berdua. Kira - kira begini;

"Yah, kalo bisa mah kakak puas - puasin dulu ngapain gitu mumpung belum menikah. Nanti kalau sudah menikah, ya lihat, pasti seperti ini. Repot. Prioritas sudah ke anak. Diri sendiri udah gak terpikirkan."

Duh, gue udah ada pikiran mau nikah nih. Tapi iya juga sih, masih banyak hal yang menghantui otak gue. Masih banyak hal yang ingin gue lihat. Seenggaknya gue punya cerita untuk anak - anak gue tentang banyak hal. Bukan cuma dongeng sebelum tidur, tapi juga gambaran mimpi di dalamnya. Mimpi yang Ibunya raih, juga yang Ayahnya raih. Mimpi yang sesuai dengan karakternya, sesuai dengan hobinya. Duh, dengan posisi kaku seperti ini pikiran gue melayang. Malah lupa kalo tadi gue lagi mikirin perut gue yang teriak - teriak minta makan. Hvft.


3. MUKA PADANG, LOGAT SUNDA

"Orang Padang ya?

"BUKAN!" gue nyolot.

"Oh, Sunda. hehehe"

Ah, serah lo deh bang. Iya, dua hal itu yang dilontarkan oleh kondektur bus. Padahal gue ini asli jawa, ngapak pula. Muka manis gini kurang berbicara apalagi sih? *ditendangbloggerlain* Coba deh, gula jawa aja manis. Gimana cewek jawa coba deh. Coba kalian pikirin gimana perasaan kakek buyut gue? Sakit pasti kalo tau cucunya yang memesona ini dikira yang bukan - bukan. Hiks.

Ini sih, udah hal biasa. Pernah dikira orang Aceh, turunan Arab. Bukan mengada - ada sih gue, emang begitulah adanya. Padahal mah gue cuma gadis desa, polos, lugu, dan menggemaskan. Bisa apa coba? Hmmmh.


4. KANG RAMBUTAN MENYEBALKAN

Ceritanya lagi di dermaga, tiba - tiba dari arah luar ngetok - ngetok pintu bus. Penumpang lain mengira itu adalah kondektur. Kemudian dibukalah pintu surga bus, dan yang muncul adalah kang rambutan beserta jajarannya (re: pengamen dan pedangang makanan). Bener- bener keputusan yang salah. Udah deh, bus yang aman dan tentram tiba - tiba ramai. Setelah puas mencari nafkah, mereka dipaksa turun oleh sang sopir karena hendak menaiki kapal. Lalu bergegaslah mereka, dan musibah pun dimulai. Sepatu kets kesayangan gue diinjek kang rambutan doooong. Warna putih lagi. Dan itu sakit banget. Tolooooong :|

Kang rambutan menyebalkan. Tapi berkat dia, gue jadi nyuci sepatu hari ini. Makasih kang #LAH


5. BANGGA JADI BLOGGER

Mungkin orang pasti akan mengira seusia gue pasti sudah kerja. Ternyata salah, gue dikira masih kuliah  sama dua ibu - ibu muda ini *girang* Lalu gue jelaskan aja kalo gue udah lulus dan sekedar silaturahmi ke Tangerang. Ditanya soal pekerjaan, ehm. Gue bilang gue belum bekerja. Tapi gue pun punya kesenangan yang luar biasa dengan hobi gue yaitu menulis. Lalu gue jabarkan dengan kata - kata paling enteng tentang hobi gue ini. Sekaligus memberi tahu kalau tujuan gue ke Tangerang ini juga mempermudah akses gue untuk menghadiri workshop yang sudah gue jelaskan di atas. 

Gue anggap ini adalah hal yang membanggakan. Walaupun baru memulai langkah awal, ini adalah kesempatan yang gak semua orang bisa memilikinya. Pelajaran dan ilmu yang bersebrangan dengan background gue rasanya gak masalah. Gue akan belajar dengan serius untuk hal ini. Karen goal-nya bukan cuma untuk diri sendiri, tapi juga orang lain. Bahwa hidup pun kita tak sendiri, ada orang lain. Urusan lahir dan kembali kepada-NYA memang sendiri. Tapi tidak untuk alam yang ada diantara keduanya yaitu dunia. Dan menulis adalah dunia gue :)


...


Nah jadi itulah pelajaran di perjalanan gue kali ini. Emang ada yang aneh, nyebelin, atau nyenengin. Sama sih kayak perjalanan hidup sebenernya, ada yang aneh, nyebelin, atau nyenengin. Tapi yang membedakan cuma satu, yaitu sudut pandang. Gimana cara kita melihat dan menilainya. Semoga kalian yang membaca tulisan ini mendapatkan pelajaran yang baik dari setiap perjalanan, yah.

Eh sampai ketemu next posting ya, ini baru part 1 loh :D 





Riana. 23 tahun. Besok ikut kopdar region Tangerang. Padahal asalnya dari Lampung. Sekian.

Biru dan Rinai

Langit sedang melukis awan dengan warna hitam. Aku melihat matahari bersembunyi, malas membantu katanya. Biru menjauh perlahan, lalu seolah ingin menghilang. Aku mengikuti jejaknya, hanya ingin bertanya 'mengapa pergi?' 

Sudah terlambat. Langit gesit menyulap dirinya menjadi lebih gelap. Biru benar - benar jauh saat ini. Aku duduk termangu memangku tangan, memikirkan nasib keduanya. Berkelakar sendiri, mengusap wajah dan berhenti meratap. 

Berdiri di bawah langit yang sibuk memang berisik. Kencang di sana, pelan sesekali. Iya, itu halilintar berdegam sesuka hati. Alih - alih meramaikan suasana. Padahal aku sama sekali tak terhibur, suasana beku menyisakan gulita. Siapa yang suka? Kamu suka? Aku tidak.

Selesai bertanya - tanya sendiri, tiba - tiba Rinai memaksa kakiku bergerak ke depan. Satu dengan yang lainnya satu irama. Ritme yang cepat, kalau kamu mau tahu. Rinai jatuh bukan tak sendiri. Ia biasa seperti itu jika langit selesai dari pekerjaanya. Ia biasa seperti itu jika dentuman halilintar menggebu bahkan bunyinya sampai tak beraturan. Rinai juga biasa membuatku lencun. Ya, seperti perkiraanmu. Aku dibuat basah kuyup.

"Rinai, hentikan!"

Aku memekik. Rinai membisu.

"Rinai, apa kau juga menyumsum sepertiku? Apa kau juga kelu?"

Pertanyaan bodoh memang, mana mungkin ia juga menggigil. 

"Rinai, aku keliru. Bisa maafkan aku sebentar? Aku repot sekali melawanmu yang berjuta - juta. Aku di sini sendiri"

Sudah bodoh, memelas pula. Tapi aku tidak suka dikasihani. Itu hanya bernegosiasi dengan zat cair yang sedari tadi memukuli tubuhku berkali - kali. 

"Rinai, pernahkah kamu melihat Biru? Aku mencarinya. Apa ia bersembunyi dengan matahari? Tidak perlu dijawab, Rinai. Aku hanya ingin jawabanmu dalam bentuk yang lain. Kembalikan Biru. Ia dibalik punggungmu, bukan?"

Selesai dengan pertanyaan terakhir, gemuruh berhenti berderit. Langit kembali sibuk mematut wajahnya. Awan gelap berbaris mengisi kursi kepulangan. Aku yang menciut, memeluk kaki. Hentakan matahari membuat Rinai merangsek pergi. Aku gagap melihat salinan warna yang dikerjakan langit. Lukisan itu membuat awan menjadi kembar dengan salju. Putih, lembut, mugkin dingin. Ah, Biru! Ia kembali, kawan. Kalian harus melihat saat aku didekapnya nanti. Mungkin esok, lusa, atau sebentar lagi.

Biru memang punya khasiat meneduhkan, ia bisa sembunyi lagi kapan saja Rinai datang. Tak bisa ku bayangkan jika keduanya datang bersamaan. Apakah beku dan hangat bersamaan? Kelu dan riuh bersamaan? Mencari Biru tidak, berlari dari Rinai pun tidak. Diam saja kah? Aku juga belum tahu bagaimana kelanjutannya.

Lelucon Malam Hari

Ah, malam hari lagi. Lagi - lagi bertemu dengan akibat dari rotasi bumi. Bukan tak bersyukur, bukan juga mau menukarnya dengan matahari. Sejujurnya aku suka malam hari. Satu - satunya halaman gemintang di atas sana dengan bulan sebagai lampu taman. Indah, iya, aku sudah tahu itu.

Tapi bagaimana jika malam mendatangkan gulana, teman dari rasa gundah. Terkadang malah mereka bertamu bersama - sama. Kamu ingin berucap menyebalkan? Nah, seperti itulah rasanya. Jika sebelumnya jujur berkata suka, namun saat ini ingin berucap menyebalkan.

Malam hari memang memiliki sejuta firasat. Kadang ia datang dari mimpi yang terselip diantara pasukan pengantar tidur. Bisa juga datang di tengah kesibukan memejamkan mata. Jujur suka, tapi malah membawa mata jadi terjaga. Benar - benar menyebalkan.

Pernah merasakan yang seperti itu? Atau pernah juga merasakan suka dan sebal secara bersamaan? Bukan, bukan dengan malam. Tapi dengan dia yang juga ikut - ikut mendatangkan gundah gulana. Biar aku menebak, pasti pernah, bukan? Aku pun iya. Tak apa, mengaku saja. Ucapkan dalam hati jika tak ingin ada yang mendengar.

Percayalah, dia akan seperti malam hari. Setia pada rotasi bumi, menebar berjuta firasat, mengantar tidur, membelai mata, menelisik mimpi, atau sesekali menertawai muka sebal.

Dan malam ini, ia sepakat dengan malam. Berdua bersekongkol, berdua menyebalkan. Apa sekarang mereka tertawa? Mungkin. Anggap saja kita sumber lelucon. Hasil dari bercanda dengan sekumpulan rindu.

Ya, aku rindu. Sudah, jangan banyak tertawa.


Rasa yang satu ini

Kadang aku malas bersinggungan dengan rasa yang satu ini. Sesak, kadang mengganjal, malah sering pusing sendiri. Ingin mengangkatnya dalam suara, tapi berat. Ingin menelurkannya dalam tulisan, bobotnya malah bertambah. Ingin bergeming, tapi tak tabah. Untuk urusan ini aku memang bodoh. Rumus aksi - reaksi rasanya tak berhasil. Rumus kekekalan energi juga meleset. Malah rumus perpindahan kalor yang cocok sepertinya. Siapa yang fisikawan di sini? Bisa bantu aku?


Tapi sebentar, aku merasakan ada yang aneh dengan tabiat paru - paru. Jika bersentuhan dengan rasa yang satu ini, ia menggelembung seperti ingin loncat dari tubuh. Sesak, di tahan malah semakin sesak. Semakin ingin meloncat. Aku menahannya kepayahan. Bersandar sudah. Ah, dokter mana bisa mendiagnosis tanda dan gejala seperti ini.


Aku jadi semakin limbung. Bagaimana bisa pikiranku malah mengada - ada. Jangan - jangan aku salah memilih. Jangan - jangan aku salah melangkah. Jangan - jangan aku salah menerka. Ah, apalah itu terserah. Aku sibuk memarkir rasa yang satu ini di bawah rumbia, biar tak kehujanan air mata. Sayangnya, hanya ada rumbia. Tak ada seng atau besi yang kuat untuk dijadikan atap. Konstruksi yang buruk, bukan? Aku bukan arsitek, tapi semua orang yang bukan arsitek juga pasti tahu kalau atap rumbia tak sekokoh itu. 


Kalian lihat? Aku penat sekarang. Tapi aku masih punya satu yang mengganjal. Apa kalian sudah tahu maksud dari 'rasa yang satu ini'? Jika belum, mungkin kalian harus berkenalan dengan cinta. Katanya ia punya rasa pedas dari bumbu rahasia yaitu cemburu. Ya, benar. Aku sedang kepedasan. Lucu yah? Cinta itu memang punya selera humor tersendiri. Bayangkan saja jika aku benar - benar dibantu oleh fisikawan. Coba bayangkan jika aku benar - benar ke dokter. Atau aku meminta arsitek untuk khusus mengonstruksi atap. Bayangkan. 


Tapi hebatnya apa? Aku tidak melakukan apa yang kalian bayangkan tadi. Tapi aku bisa mengisolir rasa yang satu ini. Biarkan saja sesak, mengganjal, atau pusing tujuh keliling. Biarkan saja. Katanya itu bumbu rahasia, pasti istimewa, bukan? Biarkan saja, karena amarah hanya akan membuat kalor bepindah semakin cepat. Biarkan saja, nanti juga paru - paru kelelahan meloncat - loncat. Biarkan saja, nanti juga hujan air mata akan reda.


Biarkan saja, aku punya tabir bernama ketulusan; yang cukup membantu menangkis rasa yang satu ini. Rasa yang banyak orang bilang sebagai tanda cinta.

Are you real friend or fake friend?

Sumber dari sini


Itu adalah salah satu postingan gue dahulu kala, bisa dilihat itu ditulis hari sabtu, 17 Desember 2013 (ini gue masih jomblo). Terinspirasi dari film korea, Dae Jang geum. Satu - satunya film korea yang buat gue tergila - gila karena di film itu dibungkus apik dengan pesan moral terhadap orang tua, negara, passion, semangat belajar, kesabaran, dan yang pasti persahabatan. Ada 54 episode dan gue udah nonton belasan kali tanpa bosan. Nah, yang gue posting itu ada di episode 5 ketika Jang geum dimusuhi semua teman - temannya, dan hanya Youn seng yang bersedia menemani. Dengan resiko ikut dimusuhi oleh yang lainnya. Manis ya? :)


Jangan bingung karena arah tulisan gue menyangkut hal itu, kok. Tentang teman sejati dan teman KW. Hayo siapa yang pernah menemukan spesies yang KW? Ketika kita sudah tulus ingin berteman baik, tapi justru dia pergi saat dibutuhkan dan datang saat membutuhkan. Mari bersama - sama kita mengucapkan; Di situ kadang saya merasa sedih

tambahan dari real friend gue nih :D


Tapi tenang! Gue di sini akan membongkar ciri - ciri mana teman yang asli dan mana yang palsu. Dilihat, di raba, dan diterawang aja gak cukup gaes. Pokoknya kalian harus mengingat dengan baik apa yang gue jabarkan di bawah ini. Gimana sudah siap? Oke langsung saja.


CIRI PERTAMA

Fake Friend : Never ask for food
Real Friend  : The reason you have no food

Misal kalian udah lama banget gak makan batagor goreng dari jaman baru lahir, misalnya. Udah ngantri panjaaaaang banget. Terus pas udah dapet, kalian baru makan satu gigitan. Eh, teman kalian datang tiba - tiba mungkin jatuh dari surga dihadapanmu #EIIYAA. Terus dia main samber aja batagor goreng itu sampai sisa satu mili diameter batagor goreng. Khusus buat lo seorang. Keliatannya emang gak tahu diri sih ya? Tapi inilah yang gue maksud dengan Real Friend. Dia gak akan sungkan gangguin kalian makan. Entah karena laper juga mungkin atau memang udah niat dari rumah mau ngerjain pas ketemu. Tujuannya apa? Supaya dapet moment menyenangkan bersama kalian. Bisa aja kan di tengah kelaparan itu kalian bisa rebutan batagor goreng. Kemudian bisa dingat sepanjang masa, cuma karena batagor goreng kalian jadi adu panco, misalnya. Daripada gak pernah nanya apalagi peduli mau makan apa. Ya kan? Bahkan kalian bisa saling gak tahu kalau misalnya salah satu diantara kalian ada yang alergi batagor goreng. Itulah bedanya. Fake friend biasanya jaim mau minta. Padahal bunyi perutnya dari 5 meter aja udah kedengeran.

Sementara itu.....

*nulis ini gue jadi laper*


CIRI KE DUA

Fake Friend Call your parents Mr/Mrs
Real Friend  Call your parents Dad/Mom

Jadi mau kalian anak bapak sama emak kandung di rumah masing - masing. Tapi ketika menyapa orang tua teman dengan sebutan yang sama. Bukan Om atau Tante, Pakde atau Bude. Tapi persis sama dengan panggilan sehari - hari yang kita gunakan. Bukan buat menjilat supaya terlihat lebih akrab. Tapi memang begitulah kalian nyaman memanggilnya. Bukan dibuat - buat. Atau malah kalian menganggap 'gue anak kesayangan bapak sama emak lo'. Saking udah nyamannya. Beda sama teman yang masih manggil Om atau Tante. Berasa keren sih, tapi ya....berasa aja bedanya. Ya gak?


CIRI KE TIGA

Fake Friend Never seen you cry
Real Friend  Cry with you

Ada temannya yang lagi sedih, malah sibuk sama gadget sendiri. Temannya lagi curhat, malah balik curhat. Lebih banyak lagi curhatnya, sampe lo sendiri lupa mau cerita apa. Gak jadi sedih itu mah, yang ada malah KZL (re: kesel). Pas lagi dibutuhiiiiiiin banget, butuh banget sampai ke ubun - ubun. Eh, adaaaaa aja alasannya untuk gak bisa ketemu. Jangankan ketemu, sekedar chat pun, gak dibaca. Telpon gak diangkat. Dengan berbagai alasan selain tangannya patah dua - duanya sampe gak bisa bales chat atau angkat telpon. Beda dengan teman yang ketika dibutuhkan langsung datang tanpa ba bi bu, tanpa bertanya ini itu. Cukup menyediakan pundak, lalu diam dan menangis bersama. Setelah selesai menangis, ia pun tidak memaksakan kalian untuk bercerita saat itu juga. Ia menunggu waktu kalian akan siap bercerita. Kapanpun itu.


CIRI KE EMPAT

Fake Friend Know about you
Real Friend  Write a book about you

Nah, ada yang menarik di sini. Teman yang palsu biasanya jika ditanya tentang kita. Cuma bilang dia suka warna merah, suka makan coklat, suka sama beruang, gak suka dibohongi, makanan favoritnya jengkol, dan seterusnya yang umum - umum saja. Beda sama teman yang bisa menjawab dengan panjang lebar sampe bisa dibuat buku. Ketika ditanya tentang kita dia bisa jawab, misalnya gini: "Riana itu cantik, cakep, anggun, kalem, manis, tapi kalo udah kenal sama orangnya kalian bisa mencoret semua yang gue ucapkan tadi. Lihat aja coba dari dia kalo ngomong, udah nyakitin telinga, cempreng kayak kaleng rombeng".

Nah jadi, biasanya teman yang asli itu akan 'bercerita', bukan menjabarkan per poin. Bahkan gak peduli mau orang yang bertanya itu dengerin apa gak, kalian tetep nyerocos aja gak berenti - berenti. Hvft.


CIRI KE LIMA 

Fake Friend : Are around for a while 
Real Friend  : Are for life

Mau kalian masih miskin - udah kaya, masih oon - udah pinter, masih jelek - udah cakep. Semua gak ngaruh bagi teman yang sejatinya teman. Dia akan tetap di sekeliling ketika semua orang menjauh. Dia akan tetap di samping kita sekalipun kita dalam kesusahan, keterpurukan, dan apapun itu yang menyebalkan. Dia berteman untuk seumur hidup. Bukan dia orangnya, jika cuma berada di saat kalian senang. Kalian banyak uang. Kalian terkenal. Tapi begitu kalian jatuh, berada di kondisi terbawah, dia pergi. Dan ketika kalian sudah bisa bangkit, pastikan orang yang seperti ini kita titipkan saja dengan alien. Letakkan di lubang hitam yang paling hitam dari yang pernah ada. Karena orang yang kayak gini, ngelebihin tuna netra. Penglihatan yang rusak bukan cuma matanya, tapi juga hatinya. 


CIRI KE ENAM 

Fake Friend Say 'I love you' in a joking manner
Real Friend  Say 'I love you' and they mean it

Pas lagi becanda biasanya si KW bilang 'gue kan peduli sama lo' atau 'gue kan sayang sama lo'. Beda sama yang pas lagi becanda bilang 'ngapain gue peduli sama lo, dih kayak gak ada kerjaan lain aja'. Padahal prilaku yang ditunjukkan jelas - jelas memberi tanda bahwa ia peduli. Eh, pas diledek malah gak mengakui. 

Teman sejati gak akan mudah bercanda dengan kata - kata itu. 'Peduli' dan 'sayang' adalah dua kata yang seharusnya ditunjukkan, bukan diucapkan. Apalagi saat sedang bercanda. Dia akan mengeluarkan kata - kata itu pada porsi yang tepat. Bukan di sembarang tempat.


CIRI KE TUJUH

Fake Friend : Will read this post
Real Friend  : Will steal this post

Gue percaya, kalian yang memiliki teman sejati akan mencuri beberapa kata atau kalimat dari postingan ini. Bukan diam saja, hanya membaca, dan gak memberi satu kata pun untuk orang yang kalian anggap teman. Postingan ini dibuat pun dari hasil curian. Dan buat gue, ilmu adalah hasil curian yang bermanfaat. Apapun jenis ilmunya, dimanapun kita mendapatkannya, dan kapanpun kita memperolehnya. 

...


Semua kembali ke pribadi masing - masing. Jika setelah membaca postingan ini lalu masih ragu dengan 'teman'. Coba cek mereknya, asli atau KW. Cek juga, sudah dianggap sejati atau malah sendirinya yang KW. Tapi mau gue tambahin juga nih, teman gue bilang: terkadang yang kita pikir KW bisa juga berubah seiring berjalannya waktu dan keadaan.

"Bercermin, bukan cuma dengan cermin. Bisa bercermin dengan alam. Bercermin dengan anak kecil. Bercermin dengan orang - orang yang kurang beruntung. Bercermin dengan orang sukses. Tapi, jangan lupa bercermin dengan diri sendiri."



So, are you real friend or fake friend?

jangan pernah lelah

Bukan sekali atau dua kali aku berdiri menatap punggungmu pergi. Bukan hal yang bisa membuatku takut atau bahkan sendu. Aku sudah biasa seperti ini. Kamu pergi bukan sekali atau dua kali. Kamu pergi bukan untuk satu atau dua bulan. Tepatnya kamu pergi untuk satu atau dua tahun, atau lebih dari itu.

"Kamu baik - baik, yah. Jangan sampai tenggelam di lautan."

Satu pesan rutin yang ku layangkan melalui pesan singkat. Dia pasti akan menjawab akan baik - baik saja seperti biasanya. Dia kekasihku sejak masih berseragam abu - abu. Dia laki - laki yang sama sekali tak pernah menyakiti hatiku dengan wanita lain. Dia menjaga hatinya dan hatiku secara bersamaan. Tanpa pernah menyayangkan jauhnya jarak yang terbentang saat ini. Pesan singkat balasannya masuk, aku buru - buru membukanya.

"aku akan baik - baik saja. Masih sama seperti 6 tahun lalu. Tunggu aku, jangan pernah lelah. Jangan pernah."

Aku tak menyangka ia membalasnya dengan kalimat yang berbeda. Tidak seperti biasanya. Ah, biarkan saja.

....

Satu tahun berlalu.


Dua tahun berlalu.


Tiga tahun berlalu.


Empat tahun berlalu.


Saat ini, sudah lima tahun berlalu. Aku saat ini 28 tahun, sedang menanti kekasih yang berpesan untuk jangan pernah lelah. Jangan pernah. Bagaimana mungkin aku masih bisa menunggu? Sementara sebayaku sudah menimang anak satu bahkan dua. Sedangkan aku?

Bahkan aku sudah tidak memikirkan bagaimana keadaanku.  Apakah dia baik - baik saja? Apakah dia tenggelam? Apakah pelayarannya terhenti di tengah jalan? Bagaimana bisa tak ada kabar hingga hari ini? Bagaimana jika ia tidak kembali? Tapi...lagi - lagi aku ingat. Dia hanya berpesan untuk jangan pernah lelah. Aku percaya itu. Bahkan bukan hanya 5 tahun. Mungkin saja 1000 tahun. Ah, entah lah. Aku hanya ingin ingat 'jangan pernah lelah' darinya. Entah sampai kapan.


~



Bukan dari Sebelah Kiri

"Jika saja aku bisa memutarbalikkan waktu, aku dulu tak akan pernah mau menerima cintamu. Mungkin juga aku terlalu munafik jika bicara tak cinta. Atau mungkin aku terlalu bodoh pernah mengatakannya. Bisa saja orang atau kamu sekalipun mengira aku gila..."

Seharusnya kata - kata itu aku ucapkan, namun kenyataannya aku tak pernah bisa mengungkapkannya hingga hari ini aku menyaksikan dua orang di hadapanku dengan pakaian serba putih. Wajah mereka berseri - seri. Lihatlah aku, aku di sini berada diantara para undangan lain. Berjejer rapi menyaksikan satu janji yang mereka ucapkan. Hampir bisa ku dengar semua bisikan - bisikan rasa ingin tahu di sini. Aku tak keberatan jika yang mereka lakukan hanya sebatas itu. Aku yang masih berusaha tegar dan mematung sendiri, tiba - tiba salah satu undangan menghampiriku.

"Kak Sania, aku tidak tau harus mengucapkan apa padamu. Berbahagia atau...."

"Aku berbahagia, Ras."

"Emm..aku ikut berbahagia atas kebahagiaan kak Sania"

Dia Rasti, adik tingkatku dulu sewaktu kuliah. Dialah yang mengenalkan aku dengan pengantin pria di pelaminan itu. Ya, dia suamiku. Aku menikah dengannya hampir sepuluh tahun. Aku pernah di sebelah kirinya dulu. Tak pernah terbayangkan olehku jika suatu hari aku akan melihat suamiku di pelaminan. Bukan dari sebelah kirinya, tapi di depannya. Jauh di depannya. Aku tak pernag membayangkan akan terjadi penandatangan surat ijin pernikahan, tandatanganku. Iya, bahkan setelah ini aku harus rela berbagi. Rela berbagi apa saja selain raga dan perhatian suami. Rela berbagi kebahagiaan yang sejujurnya tidak pernah aku rasakan lagi tujuh tahun terakhir. Aku harus rela...

Sekali lagi aku melihat suamiku bukan dari sebelah kirinya, semakin aku merasakan sakitnya. Sakit yang teramat dalam. Bahkan sakit yang ku bawa selama ini, penyakit yang membawa suamiku menikah lagi. Bahkan melebihi itu. Sangat sakit rasanya.

Biarkan aku sekali lagi melihat suamiku bukan dari sebelah kiri. Biarkan. Ku anggap ia sedang berbahagia, biarkan aku nanti akan mengucapkan hal yang sama seperti Rasti padaku.

"Aku turut berbahagia atas kebahagiaanmu"


...

Setelah itu, jangan biarkan aku melihat suamiku bukan dari sebelah kiri. Biarkan aku menyepi dari semua keramaian ini.


~

Jadi mau pilih cowok yang begini?

Lelaki itu memang bukan pilihan. Kata - kata itu menandakan kalo cowok itu gak suka dijadikan pilihan diantara dua. Harusnya buat cewek juga dong, wanita juga bukan pilihan. Ya gak? Tapi tenang gaes, yang mau gue bahas di sini bukan tentang pilihan - pilihan sulit diantara dua orang. Gue cuma mau berbagi pengalaman seputar cowok dengan spesiesnya yang 'gak' banget. Buat cowok, coba pikirkan apakah kalian pernah seperti ini? Dan buat para gadis - gadis yang masih jones ataupun galau butiran debu, bingung menentukan arah jalan pulang. Apakah kalian pernah menemukan yang modelnya begini?


PERHITUNGAN

Sejatinya cowok memang harus berkorban dengan pengeluaran. Yakali gak modal kan. Nah, tanda - tanda cowok perhitungan itu bukan dia yang kemana - mana bawa kalkulator ngitungin orang lewat. Bukan juga yang abis belanja lalu menghitung berapa pengeluaran. Bukan. Tapi cowok ini yang modelnya membahas semua pengeluaran yang pernah ia berikan. Contohnya gini;

"Kamu ya yang bayar nonton? Aku kan udah pernah bayarin 2 abad yang lalu"

Duh. Apa - apa yang udah dikasih ke kita dibahas. Dikit - dikit syaratnya "kamu yang bayar ya? Aku kan dah pernah". Malu dong ya. Coba kalau emang gak punya tinggal bilang aja. Kita kan yang cewek juga ngerti dan gak menuntut (buat yang ngerti aja sih). Kalo bisa sih jangan sampai satu hal yang dirasa wajar gitu malah jadi dinilai buruk oleh orang lain apalagi gebetan. 


JELALATAN

Entah kenapa lalat yang jadi korban. Bukan jegajahan, jesingaan, jeburunghantuan, atau jedinasaurusan. Mungkin karena lalat suka menclok sana menclok sini. Gitu juga sama mata cowok. Liat sana liat sini. Jelas itu gak bagus ya, men. Harusnya orang yang kayak gini kita colok aja pake cabe ya.

Jaga matanya aja gak bisa, gimana mau jagain ceweknya. Hvft.


JAGO SILAT.....LIDAH

Gue gak tahu kenapa masih banyak di dunia ini titisan - titisannya F*rha* Ab*as. Banyak oceh, gak mau ngalah, kalo berantem maunya menang sendiri. Kita yang cewek ngomong sekali, dia yang cowok ngomong semilyar kali. Ahli banget kalo yang namanya silat lidah. Khawatir gue, jangan - jangan nih cowok yang modelnya begini kalo tidur pake daster.


HOBI CERAMAH 

Salah dikit, ceramahnya satu jam. Salah agak banyak, ceramahnya 6 jam. Salah banyak, ceramahnya 12 jam. Salah banyak banget, ceramahnya 24 jam. Salah amat banyak banget sekali, ceramahnya 3600 jam. Ceramah di sini bukan yang kayak di masjid - masjid atau yang biasa dilakuin ustadz atau ustadzah ya, gaes. Maksudnya yang kalo kita (re: cewek) ada diposisi bersalah, dan cowok diposisi yang benar. Ceramah maksudnya petuah - petuah penting supaya cewek gak mengulangi hal yang sama. Sebenernya cukup pesan 'jangan ulangi hal yang sama' sudah mewakili segalanya. Kebanyakan malah jadi eneg dan bosen banget dengernya.

Sebaliknya, kalo kamu mudah memaafkan malah akan semakin sulit bagi kita (re:cewek) untuk membuat kesalahan yang sama.


PAKE JURUS; 'GAK BOLEH - AKU GAK SUKA' 

Ada loh cowok yang demennya nyuruh ceweknya ini - itu dalam hal sepele. Semisal;

"Beb, ganti bajunya. Aku gak suka!"

Semua - semua pake alasan 'gak suka'. Gak boleh main ke mall, alasannya gak suka. Gak boleh temenan sama si anu, alasannya gak suka. Gak boleh gendut, alasannya gak suka. Gak boleh kekurusan, alasannya gak suka. Pokoknya apa - apa gak boleh, apa - apa gak suka. HIH. KEZEL. ZEBEL.


TERLALU CUEK

Yah namanya juga cewek, paling kelepek - kelepek sama yang namanya dikasih perhatian. Gak masalah deh mau kamu jauh dimana pun, cewek bakalan komitmen banget sama orang yang ngasih dia perhatian super duper banyak. Percuma jarak dekat kalo perhatiannya nol. Ceweknya sakit, tetep cuek. Ceweknya ngomong panjang lebar, tetep cuek (biasanya sibuk sendiri sama gagdet). Ceweknya udah kode - kode sampe mukanya keriput, tetep cuek. Beda banget sama waktu dulu pas pedekate, perhatiannya....beuh! Sampe jumlah tahi lalat ceweknya aja diitungin saking perhatiannya. Duh, pusing pala megatron.

Kalo udah gini nih, tandanya dia udah ada yang lain. Lepasin aja yang modelnya begini. Caya deh~


SI LEBAY

Entah karena takut ceweknya pindah ke lain hati, takut kehilangan, takut disamber orang atau apalah ya. Tapi menurut gue sih, cowok yang udah lebay gitu biasanya dia udah gak pede sama diri sendiri. Loh kenapa? Ya, secara dia takut ceweknya ngelirik orang lain. Merasa kalo ada orang lain yang lebih pantas mendampingi kita (re: cewek) dibanding dirinya. Nah, kalo udah begini biasanya muncul bumbu - bumbu pengekangan alias over protective. Ada cowok yang main ke rumah langsung, dicurigain. Padahal itu cowok cuma kucing. Ada cowok yang lewat depan rumah langsung dicemburuin. Padahal itu cowok cuma babang tekwan. Kalo udah gitu, langsung aja keluarin kata - kata di bawah ini;

Ah sudahlah, aku udah gak ngerti deh jalan pikiran kamu kemana ~


Memang sih gak ada yang sempurna di dunia ini, cuma beberapa hal yang gue sebutin di atas itu bener - bener ada di dunia ini. Buat yang cowok, kalo bisa sih jangan kayak gitu ya. Bukan apa - apa, tuh cewek pasti ngenes idupnya. Kalo udah gak cinta ya bilang. Kasih penjelasan se-masuk akal mungkin. Kalo emang cinta itu bener - bener gak bisa dipaksakan. Tapi kalo masih bisa diperbaiki, kenapa gak. Ubah satu persatu yang buruk jadi lebih baik. Kurangi hal - hal yang memicu keributan. Buat yang cewek, boleh sih kasih kode. Cuma ya gak terus - terusan juga kali. Cowok juga manusia, bukan program komputer. Cowok gak bisa pecahin semua kode yang kalian tebar di sana - sini. Coba katakan semua yang mengganjal di hati.

Ada poin penting yang mesti dicatat yaitu tentang komunikasi. Jika itu tersambung dengan baik, dijamin gangguian sebesar apapun bisa kalian lewati. Kalo ada spesies yang kalian temukan selain di atas, boleh share di kolom komentar.

..

Jadi, mau pilih cowok yang begini?







Semua Tentang Ibu

Tahukah engkau, bu? Aku tidak punya kata pengantar yang syahdu untuk mengawali tulisanku. Padahal aku sudah puluhan kali menulis berbagai hal. Aku bisa mengemasnya dengan apik. Kali ini, anggap saja sama seperti dulu ketika aku menjamah dunia. bahwa tak ada suara merdu yang terdengar. Hanya tangisku. Ibu, surat ini pun di awali dengan tangisku. Tangis yang berbeda. Sesekali aku menyeka ujung mata, lalu melanjutkan tulisan ini. Tidak, bukan sesekali tetapi berkali - kali. Ibu, dulu tangisku bisa kau dengar. Tapi tidak untuk saat ini. Jangan, jangan sampai Ibu mendengar.
...

Aku ingat, Bu. Semua pesan tentang pelajaran hidup; tentang cara bertata krama, cara menghargai pendapat orang lain, cara menghadapi masalah, dan cara berlatih dengan kesabaran. Semua pesan tentang kepribadian, agama, budaya, hingga kesehatan. Ibu, aku merasa memiliki semua jenis pekerjaan dalam dirimu. Ibu bisa menjadi koki terhebat, semua masakan ibu tidak ada yang tidak enak. Ibu bisa menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, bahkan aku tak perlu duduk di ruangan kelas. Dimana saja Ibu bisa mengajariku. Kapan saja Ibu bisa membimbingku. Ibu bisa menjadi penegak hukum terbaik, membela dan memberi sanksi dengan bijak atas semua kesalahanku. Ibu juga bisa menjadi psikolog paling canggih, bisa menerka dan memberi solusi penyebab semua kegundahan. Ibu juga penerjemah tak terbantahkan, bukan cuma bahasa lisanku yang bisa Ibu artikan, tetapi juga bahasa tubuh. Ibu pun bisa jadi dokter spesialis terakurat, mengobati luka ketika aku terkilir dalam menjejak dunia. 

Sudah ku bilang, Ibu bisa menjadi apa saja. Bukan hanya menjadi koki terhebat, pahlawan tanpa tanda jasa, penegak hukum terbaik, psikolog paling canggih, atau penerjemah tak terbantahkan, bahkan dokter spesialis terakurat sekalipun. Masih banyak, Ibu. Banyak sekali. 

...

Ibu, aku malu. Apa Ibu sudah tahu kalau aku sedang malu saat ini? Aku belum bisa membahagiakan Ibu. Aku malu. 

Ibu, aku rindu. Apa Ibu sudah tahu kalau aku sedang rindu saat ini? Aku menulis tentang Ibu. Setiap satu huruf ini adalah secuil rindu, Bu. Hanya secuil. 

Ibu, aku cinta. Apa Ibu sudah tahu kalau aku sedang mencintai saat ini? Aku mendoakan Ibu. Setiap hela nafas di setiap doaku itu terselip cinta, Bu. Begitu besar. Sangat besar.

Ibu, aku menangis. Apa Ibu sudah tahu kalau aku sedang menangis saat ini? Aku pernah membantah Ibu. Aku pernah berkata kasar, Bu. Aku pernah pura - pura tidak mendengar panggilan Ibu. Aku pernah malas membantu pekerjaan Ibu di rumah. Aku pernah sesekali membuat Ibu marah. Aku pernah melakukan apa yang Ibu tidak suka. Maafkan aku.

Tetapi.....

Aku tidak pernah berdusta, Bu. Aku bukan tidak mau berdusta, aku hanya tidak bisa. Ibu tahu segalanya. Setiap jengkal tubuhku, Ibu tahu. Setiap jejak langkahku, Ibu tahu. Ibu tahu apa saja tentangku. 


Ibu, aku pun tak pernah bisa berdusta tentang ini. 
Tentang aku yang mencintai Ibu.


Semua tentang Ibu.








Tulisan ini aku sertakan dalam blogging project #ILoveMom ~ "Hari Cinta untuk Ibu" oleh Penerbit @Bukune 

(BUKAN) Sang Pemimpi

Lepas dari #1Day1Dream memang banyak banget yang gue dapet. Ada banyak perbaikan dalam diri gue (terutama) dan terhadap orang lain. Bukan berniat untuk endorse ya. Ini semata - mata untuk membantu sesama. Bahwa di postingan terakhir tentang Brigita  Laura yang ini, gue merasa gak total. Ada sesuatu yang harus gue selesaikan di sini.  Selain karena waktu itu tulisan gue tanpa wawancara, tapi saat ini niat gue untuk membantu menyebarkan kebaikan atau apapun bentuknya yang pasti ini bagus untuk kalian baca.  Kalian harus membaca ini, entah sekali dua kali, atau sesuka hati kalian.

Sesuai janji, hari Senin tanggal 2 Februari 2015 lalu Lola sudah bisa meluangkan waktunya untuk gue wawancara. Mungkin terlihat sia - sia karena blogging project sudah selesai. Tapi gue punya rasa penasaran yang jauh lebih besar yang mendorong gue untuk tetap menuliskannya. Hai gaes, betapa beruntungnya gue punya kesempatan itu. Kesediaan Lola yang baru pulang malam itu, mungkin hanya beberapa jam. Tapi efeknya ke gue pribadi, mungkin melekat selamanya.

Obrolan kami mulai dari perbincangan soal cita - cita sewaktu kecil, ya seperti biasanya. Lola bermimpi ingin menjadi bidan. Tapi mimpi itu pupus karena akhirnya dia mengambil kuliah di IPB Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata. Tahun pertama adalah tahun dimana ia merasa benar - benar jatuh cinta dengan kehutanan. Banyak hal yang ia pelajari di sana, dari mulai jadi photographer, guide, bekerja di dapur, hingga membuatkan kopi Menteri Kehutanan.


Salah satunya dari inisiatifnya membantu korban bencana gempa bumi. di salah satu desa yang indahnya seperti surga dengan hamparan sawah yang hijau membentang. Desa ini berada di kaki Gunung Halimun Salak. Di sana lah ia mendirikan Sekolah Rimbawan Kecil berbasis non formal, hal ini karena tidak adanya TK atau  PAUD di desa tersebut. Kecintaannya dengan anak - anak melahirkan pembelajaran yang sangat luar biasa. Dalam segi apa saja, terutama pengabdiannya kepada Indonesia.

Perjalanan menuju Sekolah Rimbawan Kecil

Potret desa di kaki Gunung Halimun Salak

Sekolah Rimbawan Kecil

anak - anak di Sekolah Rimbawan Kecil

"ada wanita asal Papua yang berkunjung ke Sekolah Rimbawan Kecil, dan sekarang dia berhasil mendirikan Sekolah Rimbawan Kecil juga di sana. Aku harus membuktikan bahwa kita bisa bermanfaat walaupun tidak punya uang. Aku berbisnis apa saja; donat, tabulapot, kaos, anggrek. Apa saja asal sekolah tetap berjalan. Kiriman uang hanya 800 ribu/ bulan, sedangkan pengeluaranku 500 ribu seminggu. Bahkan aku pernah jalan kaki ke Sekolah Rimbawan Kecil"

Oya, tentang bisnis Krama Kuno itu juga berawal dari hobi, tentang kecintaannya dengan kain nusantara dan barang - barang kuno. Berkaitan dengan itu, ia bertekad untuk bagaimana caranya membantu para penenun di pelosok negeri sana bertahan hingga sekarang. 


Di Pulau Sumba, mereka dikubur pun dengan puluhan lembar kain tenun


mereka adalah guru bagi Lola
benang - benang sebelum ditenun

Potret kehidupan penenun butuh waktu  bulan untuk 1 kain. Harganya hanya 2 juta rupiah.

"Ijazahku tidak berguna, tapi aku bersyukur bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain. Krama Kuno ada karena kecintaanku terhadap barang kuno. Sekolah Rimbawan Kecil ada karena kecintaanku terhadap anak - anak. Mereka ada karena hobiku, hobi yang menghasilkan karya. 


Ini juga karya Lola;





"Aku seperti ini karena INDONESIA terus memotivasiku. Aku tidak pernah bermimpi akan menjadi entrepreneur atau traveller. Aku menganggap pekerjaanku yang sebenarnya adalah kehutanan dan lingkungan. Hidupku terlalu spontan, aku memutuskan apapun akan aku lakukan tanpa pikir panjang. Selagi aku bisa, kenapa tidak? Aku hidup untuk hari ini. Aku selalu membuat hari ini sebaik - baiknya. Teman - teman bilang, aku bukan sang pemimpi. Aku peraih mimpi."


Brigita Laura adalah satu dari sekian banyak generasi muda yang ingin negara kita maju, tidak ada lagi yang putus sekolah, tidak ada lagi yang menikah di usia muda tanpa memikirkan pentingnya pendidikan. Bagaimana budaya tetap lestari. Bagaimana berkarya dan bermanfaat untuk sesama. Semoga menginspirasi. 

Efek Stalking bagi Kehidupan




Coba fokus ke tulisan ini dulu ya, itu saking cerdasnya otak gue sampe meme pun bikin sendiri. Hahaha. Udah jangan dipandang - pandang, nanti naksir mah repot sendiri. Jadi tulisan ini akan bercerita tentang alkisah dari negeri berbendera tengkorak. Yuk merapat!

Pada suatu hari, seorang gadis bernama Nurlela (Ela) sedang duduk menunggu kekasihnya tiba, ia bernama Turino (Ino).

Setengah abad kemudian....
Ela : kamu lama amat sih?
Ino : Maaf beb, tadi aku sambil ngepelin aspal.
Ela : oke fine. Muka kamu gak di pel juga?
Ino : Aku serius, beb. Aku ke sini mau ngomong sesuatu.
Ela : Apa? nyam..nyam.. (sambil nyemilin nasi)
Ino : Kita putus!
Ela : aaaggh...aaakkkhh..(keselek) APA? KENAPA? KAPAN? DIMANA? BAGAIMANA?
Ino : Aku udah gak ngerti lagi ya jalan pikiran kamu tuh kemana. Berulang kali aku dah ngasih tau.
Ela : Apa? Kan aku yang ngasih tau kamu terus pas ujian.
Ino : Ini beda. Aku dah ngasih tau; Jangan STALKING mantan kamu lagi!
Ela : Kamu tau darimana?
Ino : Aku tau dari ramalan zodiak!

....


Oke gaes, gue gak mau nerusin obrolan mereka. Terlalu bahaya bagi kesehatan. Ehm. Contoh salah satu kasusnya mungkin seperti itu. Kenapa gue angkat judul ini? Karena gue salah satu korban stalker, dan pernah jadi stalker juga. Haha hebat kan? Jadi gue mau bahas apa - apa aja sih efeknya bagi kehidupan dilihat dari ke dua sisi tersebut.

PERTAMA; Sisi Tersangka

Efeknya ada suka ada duka. Sukanya kalo ternyata orang yang bersangkutan sesuai dengan harapan, banyak hal yang membuat kita pada akhirnya bilang: ih untung gue kepo. Untung. Itu kata kuncinya. Dukanya kalo ternyata orang yang bersangkutan gak sesuai sama harapan. Misalnya ngarep dia belom move on, padahal dia sama pacar barunya lagi bahagia - bahagianya. Udah tau bakalan sakit tapi diulang - ulang terus. Satu kali...dua kali..tiga kali. Gitu terus sampe burung kakak tua jadi burung kakak muda. Apalagi kalo suasananya mendukung; lagi ujan, malem - malem, gak bisa tidur, jomblo pula. Haduh. Nasibmu, Nak. Udah gitu pas lagi asik kepo, eh kepencet like/favorite. Kiamat sudah.

KE DUA; Sisi Korban

Efeknya juga suka dan duka. Sukanya kalo pas si tersangka ketauan kepo. Itu bisa jadi hiburan yang tak lekang oleh waktu. Bagi korban, itu ibarat mencolek arang ke muka stalker. Cemong - cemong deh lo. Orang yang tau abis dikepoin malah seneng, merasa orang yang kepo itu tingkat kebahagiaannya malah meningkat drastis. Terbang tinggi ke awan dengan cepat. Secepat naik odong - odong di atas roket Rusia. Sedangkan dukanya cuma satu. Jadi risih, seolah ada monster yang tak terlihat tapi bisa dengan seenaknya melihat aktivitas kita di media sosial.


Memang sih, semua balik lagi ke pribadi masing - masing. Hak semua orang mau gimana kan terserah. Cuma saran gue sih, kalo mau tetep kepo ya jadilah stalker yang bijak. Yang bisa menahan sakit, sesakit apapun kenyataan yang kalian dapat. Tapi akan lebih cakep sih kalo sebaiknya jangan mau jadi korban 'bunuh diri'. Udah tau sakit, tapi masih aja dilakuin. Gue sih bukan bermaksud melarang, cuma yaahh...udah 2015 loh. Stalking lah sebelum stalking itu dilarang (mengingat katanya Selfie sudah dilarang). Tapi yang bermanfaat aja. Tinggalin semua hal yang buat pedih di mata, pedih juga di hati. Kadang ketidak-tahuan malah akan menentramkan dibanding sengaja mencari tahu tapi menyakitkan.

Gitu.


Jadi kalian masih mau stalking? Yakin? Gak nyesel? Gak mau pensiun dari prilaku menyebalkan itu? Hehehe. Kalo dari kalian punya pengalaman serupa boleh tinggalkan komentar di bawah ini ya.





Riana. 23 Tahun. Kekenyangan.


sosmed-mu harimau mu

Tadinya gue udah selesai nulis ini, tapi karena kesabaran lagi menguji gue. Tulisan ini terhapus. Hvft. Apeu banget deh ah. Sabar...sabar karena sabar itu gak ada batasnya. Jadi harus sabar terus. Demi kalian nih gue mau nulis lagi. Kata salah satu temen blogger, ini gue lagi diuji dan katanya cobaan blogger itu emang berat. Gue makin merasa masih ingusan di dunia ini #NgomongApaEntah

Oke lanjut ke judul, beberapa hari kemarin, gue dibuat bingung dengan status dua temen gue. Mereka seolah sedang perang dunia ke 65,7095 rupiah. Sebagai teman dari kedua orang ini, gue diem aja. Abis gue bingung mau gimana, jadi ya biarin aja lah. Nanti disangka gue ikut campur urusan mereka. Atau bisa jadi nanti gue jadi sasaran. Oke, satu jam berlalu mereka masih begitu. Dua jam berlalu mereka masih begitu juga. Tiga jam masih begitu. Sampe besok ternyata masih begitu. Sampe pada akhirnya salah satu diantara mereka ada yang frontal menyebutkan nama, nama lengkap pula. Gue udah punya alasan buat kepo, karena nama lengkap itu sahabat gue dari TK sampe se-tua ini. Ternyata masalahnya karena kesalahpahaman dari status salah satu media sosial. Si A maksudnya baik sih katanya, tapi Si B menafsirkan hal yang sebaliknya. Dan itu semakin diperparah dengan operator yang membuat pesan dari kedua orang ini jadi telat masuk alias pending. Maka keduanya semakin menjadi - jadi hingga memutuskan untuk tidak berteman lagi di dunia maya, dan itu akan otomatis berlaku di dunia nyata...katanya.

See? Masalahnya sepele. Teramat sepele malah. Tapi karena pertengkaran sering terjadi berkali - kali. Atau kesalahpahaman juga datang silih berganti. Lama - lama salah satu dari keduanya jengah. Padahal pertemanan mereka terbilang cukup lama lho. Semoga gak lama deh mereka begitu. Tapi biasanya sih kalo cewek sama cewek udah marahan, biasanya lama. Kenapa? Karena gue pernah mengalaminya #Tjurhat.

Pengalaman memang guru yang baik. Ada yang bilang terbaik. Tapi kala
u pengalaman soal ini gue bilang, ini pengalaman terpahit yang pernah ada. Gue dan kalian yang membaca pasti juga pernah mengalami hal yang sama. Fase kesalahpahaman di sosmed memang seolah jadi fase wajib setelah fase alay. Mungkin besarnya efek ke pribadi masing - masing juga berbeda. Ada yang mungkin ekstrim, ada yang sangat ekstrim, ada juga yang cuek bebek. Kalo gue? Oke tjurhat dikit gak apa - apa ya?

Memang sih, ini juga kesalahan datang dari diri gue juga. Kita sebagai manusia harus punya mental ksatria, yaitu bisa mengakui kesalahan diri sendiri. Tapi karena gue dulu too much dalam mengakui, jatuhnya malah menyalahkan diri sendiri. Ceritanya, gue membuat satu status yang bisa bermakna dua alias ambigu. Gue juga comot dari quote orang yang entah siapa, dan gue mengakui perkataannya itu benar. Menurut gue pribadi. Namun dibalik itu, gue gak berpikir ulang kalo ada orang lain yang kemungkinan akan salah menafsirkan. Yah, itu lah cerobohnya. Hingga hal ini membuat semua yang baik - baik saja jadi babalatak, berantakan, bahkan sulit buat diperbaiki lagi. Bisa gue gambarkan, seolah diantara kami ada tembok besar, tinggi, panjang, dan lebar. Tembok itu namanya gengsi. Wanita emang paling juara soal ini.


....


Tapi semua itu dulu. Gue udah beranjak jauh meninggalkan fase bedebah itu. Sendiri memaafkan semua yang sudah lewat. Memulai hal yang baru dengan segala mimpi - mimpi. Menyemangati diri sendiri seolah tak pernah terjadi apa - apa. Berdamai dengan masa lalu, sampai berani menuliskan hal ini mungkin kalian menganggap ini biasa saja. Tapi biarlah, gue gak bermaksut mengangkat kisah yang pilu. Tapi gue cuma ingin siapa pun yang mungkin lagi melewati fase ini, coba belajar untuk memaafkan semuanya. Mulai dari memaafkan diri sendiri, baru orang lain. Walaupun itu gak diminta oleh yang bersangkutan. Sekarang gue lagi berjuang untuk merobohkan 'tembok' itu. Dan sekarang semua sudah baik - baik saja. Memang sulit, tapi pertemanan yang sudah terjalin lama seharusnya jadi kekuatan untuk memaafkan. Bukan menggurui, gue pun sudah mengalaminya. Gue cuma mau menunjukkan bahwa keadaan gak akan bisa mengubah tulusnya pertemanan. Semua orang pernah salah, hanya kapasitasnya yang berbeda. Kita mungkin merasa sia - sia, tapi niat baik tidak ada yang sia - sia.

Gaes. Menghargai lebih bersahaja ketimbang menghakimi. Hati - hati, karena saat ini kita sedang berada di jaman sosmed-mu harimau mu. Memaafkan gak harus menunggu lebaran, kan? Hehe