Jangan Ngaku Anti-mainstream Kalo Masih Begini

Hoooaam. Serasa bangun dari tidur yang panjang nih karena gue menyadari kalo di bulan Maret ini tulisan gue yang absurd jarang banget atau malah gak pernah muncul ke permukaan. Gue pun kangen sendiri sama tulisan gue. Itu normal apa gak ya? Biasanya orang - orang kangen sama pacarnya, atau sama gebetannya, atau sama mantannya. Ini gue ngerasa gue kangen sama diri gue sendiri. Anti mainstream. 

Sesuai sama judul, kali ini gue mau bahas tentang  anti mainstream. Sebagian orang yang punya jiwa ingin berbeda dari sebagian yang lain akan menyebut dirinya sebagai si pelawan arus. Intinya orang yang memiliki predikat anti mainstream adalah orang - orang yang punya pemikiran gak seperti 'orang' kebanyakan. Mungkin akan lebih jelasnya begini, jika dikotakkan dengan bahan pikiran semisal "FASE HIDUP"

Si mainstream :  

Lahir - Bocah - Remaja - Alay - Dewasa - Kerja - Nikah - Punya Anak - Tua - Mati

Si Anti mainstream

Lahir - Bocah - Nikah - Remaja - Dewasa - Alay - Punya Anak - Tua - Mati - Gak usah kerja

Yaudah. Itu cuma contoh aja, jangan ditiru. Pokoknya orang - orang yang punya jiwa anti mainstream bakalan bertindak sesuai dengan arah pemikirannya sendiri dan berbeda dengan orang kebanyakan. Nah, kalo kamu udah merasa seperti itu coba jangan buru - buru melabelkan diri sebagai pelawan arus sejati. Simak dulu poin - poin di bawah ini;


Jangan Ngaku Anti-mainstream Kalo Masih Begini

1. Follower Musiman

Kamu mungkin gak sadar, atau niatmu adalah untuk gegayaan. Padahal itu mencerminkan kalo pribadimu ya gak punya sisi anti mainstream. Dan yang gue heran nih, atmosfer musim di Indonesia itu gak cuma musim hujan sama musim kemarau aja. Entah lah, gue juga pusing mikirinnya. Musim punya banyak akun sosmed; ikutan. Dan semua akun itu disambung - sambungin. Misal; Path ke Twitter, Instagram ke Twitter, Instagram ke Facebook, Twitter ke BBM, BBM ke Neraka. 

Entahlah gue masih gak maksud banget sama orang yang begini. Mungkin sih ya mungkin, intinya menghemat energi karena sekali pencet langsung ter-apdet semua. Tapi yang ngeliat itu loh berasa -nge-junk banget. Karena banyak orang yang menggunakan cara simple tersebut maka bertebaranlah sampah - sampah di dunia maya ini. Pokoknya ada apa pun yang lagi musim, selalu diikutin. SE~LA~LU.

Kalo gue pribadi sih, agak gimana gitu kalo merhatiin generasi muda jaman sekarang. Kebanyakan disibukkan dengan eksis ini - itu, galau sana - sini, bukan sibuk merajut impian atau cita - cita. Atmosfer yang gue rasa cukup membius banyak orang ini yang kadang bikin gue suka mikir dan penasaran dengan potret Indonesia 10 tahun ke depan. Bukan gue bermaksud pesimis sih, cuma kadang metode 'ikut - ikutan' itu jadi sebuah sikap. Bukan lagi sekedar lucu - lucuan belaka. 


2. Mengambil Keputusan Seperti Orang Kebanyakan

Sering banget nemu pertanyaan tentang ini di lembar psikotest. Kalo kalian merasa dalam memecahkan solusi dan permasalahan dengan cara yang banyak orang ambil. Itu artinya masih belum bisa dibilang anti mainstream. Orang yang menganut aliran pelawan arus biasanya punya cara tersendiri untuk mengatasi masalah, namun juga tidak mengesampingkan keakuratan solusi dari masalah tersebut. Berat ya omongan gue?

Misalnya gini: kalo orang biasanya turun dari atap rumah pake tangga. Si anti mainstream turun dari atap pake pingsan. Iye, koprol. Kalo kamu ngaku anti mainstream tapi masih turun dari atap rumah pake tangga, artinya kamu belum berhasil, Nak. Coba lagi.

Tapi yang jelas sih gaes, apapun masalah yang ada pasti ada jalan keluarnya. Pasti ada solusinya. Gak perlu deh lo pantengin status Pak Mari* T*g*h tiap hari. Karena sebenarnya tingkat berat atau ringannya suatu masalah ada di dalam pikiran. Masalah kecil, bisa aja jadi beraaaattttt banget kayak dosa. Masalah besar, bisa enteeeeeeng banget kayak upil. Semua itu tergantung pikiran. Nah, kalo bisa sih jangan suka banding - bandingin cara seseorang untuk memecahkan masalah. Karena biasanya setiap orang punya cara tersendiri. Apalagi kalo si anti mainstream, bisa dibilang cara dia aneh. Tapi biarlah, toh jadi anti mainstream gak dosa. Huehue.


3. Masih punya ARTIS IDOLA

Artis, keliatannya hidupnya enak. Nongol di tv, nangkring di radio, sliwar - sliwer di infotainment, barangnya branded...hvft. Itu wajar. Menurut gue, itulah jenis pekerjaanya. Itu juga dari luarnya doang. Jangankan artis, penyiar radio aja yang kagak keliatan itu mukenye gimane. Mereka akan meletakkan semua masalah di luar ruang siaran. Apalagi yang kudu akting, kudu diliput, dan kudu - kudu yang lain. Kalo kalian ngaku anti mainstream tapi masih punya artis idola, dalam artian sampe wallpaper hape pun mukanya sang idola. Lo belum bisa dibilang anti mainstream

Karena biasanya si pelawan arus akan mengagumi objek, bukan subjek. Misal nih, denger lagu JKT48, sukaaaa banget sampe ubun - ubun. Tapi suka karena lagunya, bukan karena member JKT48-nya. Sukaaaaa banget sama ayam, tapi cuma suka sama dagingnya. Bukan suka sama ayamnya. Kecuali kalo ayamnya yang gak suka sama kamu -_-

Si anti mainstream biasanya gak akan mengikuti cara dan perilaku orang lain apalagi hanya artis. Bagi mereka, cara dan perilaku ya hanya mereka yang punya. Bukan meniru apalagi berpura - pura meniru orang lain. Gitu.


4. Masih Berpikir Kalo Dunia Ini Sempit

Bro, Gaes, Coy. Mungkin kita sering berkelakar dengan mengatakan 'Ih gila ya dunia ini sempit banget' ketika bertemu dengan seseorang yang circle-nya bersinggungan dengan hidup kita. Tapi sebenarnya, dunia itu luas. Luas banget. Ada banyak celah yang bisa kalian ambil dari bagian bumi manapun. Ada banyak sisi yang bisa kalian ambil dari udara yang membentang dan dihirup gratis ini. Mengapa gue bilang begini, karena biasanya si pelawan arus punya makna tersendiri di balik celah dan sisi semesta. Ada begitu banyak inspirasi yang bisa diambil untuk menggambar sifat dan mewarnai sikap. 

Gue punya satu pemikiran yang apik dari salah satu dosen favorit gue, beliau bernama Dr. Saiful Hikam. Kami biasa menyebutnya dengan panggilan Pak Dewa dengan pemikiran - pemikirannya yang cuma dia seorang yang punya. Coba bayangkan, kami diajarkan tentang bagaimana cara mengendalikan hama. Baik secara teori maupun praktek, tapi Pak Dewa mengajarkan kami dengan cara yang berbeda. Berbicara dengan belalang, itulah caranya. 

"Belalang, silakan makan. Tapi tolong sisakan untukku. Jangan dihabiskan"

Cara ini berkali - kali beliau gunakan dan memang...tidak semua daun dimakan. Haha. Katanya, belalang juga butuh makan. Jangan kita menjadi manusia yang semena - mena, jangan asal menyemprot insektisida ke sana - sini. Cara dan pemikiran yang unik. Melalui belalang, beliau bisa mengambil sikap untuk tidak semena - mena. Itu kepada hewan, apalagi dengan sesama manusia. Mikir.


5. Mengabaikan Kesederhanaan

Si pelawan arus biasanya punya pemikiran sederhana dari setiap keputusan besar yang ia ambil. Bahkan terbawa hingga ke kehidupan sehari - hari, baik pembawaan dan berpakaian. Coba lihat Pak B.J. Habibie, beliau bisa beli syal dari sutra terbaik dan termahal di dunia ini. Tapi beliau malah selalu memakai syal berupa selendang peninggalan almh. Bu Ainun. Pemikiran yang sederhana, alasan yang sederhana dan terbawa hingga keseharian. Manis yah.

Pernah dengar bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik? Tapi kalo mau anti mainstream dengan sesuatu yang serba lebay silakan aja sih. Hehehe. 


6. Takut Berbeda

Coba perhatikan, artis kalau mau terkenal pasti harus berbeda dari yang lain. Harus punya sisi yang berbeda dengan orang lain. Sebenarnya kita, manusia biasa a.k.a bukan artis juga harus punya sisi yang berbeda jika mau dikenal oleh orang lain. Terutama untuk dedek - dedek gemez yang masih mencari jati diri nih, coba kenali diri kalian. Jangan ikut - ikutan teman terus. Kalau teman kalian suka poto OOTD (Outfif of The Day) di Instagram, banyak dapet lope - lope. Karena di Indonesia OOTD bisa diartikan 'orang - orang tukang dandan'. Gak heran kalau poto pake hastag ini pasti pada cakep - cakep. Biasanya kalo cakep - cakep bisa dapet lope - lope banyak. Kalau mbak Dian Pelangi suka OOTD, itu karena memang pekerjaannya mengharuskan diri untuk OOTD di berbagai tempat. Jangan jadi ikut - ikutan karena pingin lope - lope banyak lalu mengharuskan diri untuk bisa OOTD dengan segala cara, semisal ngebegal orang. Jangan aja deh. 

Tapi emang belum ada sih nih cowok - cowok yang mainan hastag OOTD, coba dong cowok - cowok nih mana? Anti mainstream bikin OOTD biar cewek - cewek yang zomblo bisa cuci mata. Jangan takut berbeda, paling ngetril dikit jari kelingkingnya. HAHAHAHAHA SESAT. Oke, skip.

Apapun lah, si pelawan arus biasanya gak takut untuk berbeda. Baginya, perbedaan adalah keindahan. Bukan permasalahan.


***


Anti mainstream bukan untuk dibangga - banggakan sih, tapi kita jadi lebih punya warna dari diri sendiri. Bukan warna dari orang lain. Punya sikap dari pemikiran yang sederhana, belajar dari celah dan sisi semesta dengan kacamata yang berbeda. Punya keistimewaan yang mungkin orang akan bisa mengenal kita dengan hanya satu kata atau satu benda. Perbedaan itu indah, benar - benar indah. Negara kita aja udah anti mainstream, negara lain tuh cuma punya satu atau dua bahasa. Tapi kita punya 546 bahasa. Suku bangsanya kita punya 1.340. Kalau di negera lain, petani - petani pada kaya raya. Kalau di Indonesia, petani ada di bawah garis kemiskinan. Huh. Kalau di negara lain, cabe adanya di ulekan. Di negara kita, cabe adanya di fly over. Gila kan? Heuh.


Jadi, masih ngaku anti mainstream?




Riana. 23 Tahun. Lagi kegerahan.

3 Hari menjadi #sahabatJKN #lawanTB

sahabat JKN

Mengikuti workshop bersama dengan 39 blogger lain yang berasal dari berbagai daerah begitu menyenangkan. Di sana kami berkomitmen untuk menyebarkan informasi yang telah didapatkan selama 3 hari kepada masyarakat luas. Karena mungkin di sekitar kita secara tidak disadari memiliki tanda dan gejala TB (lihat juga postingan ini). 

Day 1


Di hari pertama ini tanggal 3 Maret 2015 adalah hari dimana aku mendapatkan teman dan ilmu baru. Coba bayangkan, hanya dengan suka nge-twit dan nge-blog bisa mendapatkan undangan gratis. Ditambah lagi dengan moment mengharu biru yang ada di hari selanjutnya. 

Hari pertama diisi dengan perkenalan yang menggelitik dari para blogger dan panitia. Semua terasa menyenangkan karena apalagi yang bisa didustakan ketika semua orang yang memiliki hobi yang sama telah berkumpul. Terlebih lagi dalam kegiatan yang bermanfaat seperti ini. Sambutan demi sambutan membakar semangat kami untuk membagikan informasi yang bermanfaat ini. Alhamdulillah.

Sambutan pertama oleh Direktur PPML tentang Situasi dan Kebijakan Program Pengendalian TB. Setelah itu dilanjutkan dengan presentasi dan diskusi panel; Pencegahan dan Pengobatan TB Anak, TB-MDR, dan TB-HIV. Materi itu kami terima hingga malam hari pukul 20.00 WIB tentu dengan ishoma. Jujur saja, aku pun baru mengetahui informasi ini, namun kami sebagai blogger berkomitmen untuk menyebarluaskan kepada masyarakat saat itu juga. Sehingga kemampuan multitasking kami sangat dibutuhkan. Begitu mendengar materi lalu kemudian langsung di-share lewat akun twitter kami masing - masing. Jadi pertama - tama eyang @anjarisme memberitahukan kepada pemateri bahwa jangan tersinggung dengan sikap kami yang terlihat dari luar tidak mendengarkan. Bagaimana tidak, kami sibuk sendiri dengan gadget dan laptop (kelihatannya). Padahal kami mendengarkan dengan sangat seksama apa yang beliau - beliau di depan sampaikan. Sungguh.


Diskusi semakin menarik sebab diantara kami ada juga mantan pasien TB biasa, TB-MDR, dan juga pengidap HIV atau biasa disebut ODHA. Ada juga yang anggota keluarganya adalah pasien TB. Sehingga ada suatu interaksi yang harmonis, bukan cuma berbagi ilmu tapi juga berbagi pengalaman. Memang bukan kabar baik, namun ada yang lebih baik dari kabar baik apapun. Bahwa mereka bisa sembuh dan masih menjalani pengobatan dengan semangat kehidupan yang mungkin jauh lebih besar daripada aku. Aku malu? Tentu saja.

Day 2

Hari rabu tanggal 4 Maret 2015 pukul 8 pagi kami sudah berkumpul di lobi hotel. Hari ini kami akan terjun langsung ke rumah sakit. Rumah sakit yang dipilih adalah Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Letaknya memang tidakjauh dari hotel tempat kami menginap, namun karena jumlah kami yang cukup banyak sehingga panitia menyediakan akomodasi berupa bus. Menyenangkan. 

Sesampainya di rumah sakit, kami disambut hangat oleh para dokter. Kami diberi materi dan beberapa pesan untuk menjaga sikap dan kesopanan. Sebenarnya semalam pun kami sudah diberi pesan oleh panitia untuk menjaga sikap kami di rumah sakit. Harap maklum saja, jika kami sudah berkumpul maka ada saja hal - hal yang membuat kami tertawa. Maka dari itu, sikap dan tata krama kami harus dijaga. Sebab di sana ada orang yang sakit, ada doa - doa yang menyelimuti udara, ada harapan - harapan kesembuhan yang merajalela, ada duka yang mungkin mendalam, ada canda yang tertahan, dan atmosfer kesedihan yang lain. Kami dituntut untuk mengedepankan kenyamanan pasien. Bertanya dan mengobrol boleh saja, tapi mengambil gambar dan menyebarkannya itu dilarang. Privasi mereka harus tetap terjaga.

Suasana ketika Dr. Arto Yuwono memberikan sambutan di RSHS Bandung

Oh ya, kami diberi masker cuma - cuma untuk pengamanan, namanya masker N95. Masker ini berbeda dengan biasanya, ini adalah masker khusus untuk TB. Dengan memakai masker kita bisa terhindar dari TB dengan persentase 80%. Tentu dengan petunjuk penggunan yang benar. Mulai dari klinik pengobatan TB tahap pertama, hingga tahap kedua. Kemudian ke klinik pengobatan untuk pengidap HIV. Di sana kami diperbolehkan untuk berdiskusi dengan pasien dan dokter yang menanganinya. Selain panitia dan pegawai rumah sakit, kami juga didampingi oleh mantan pasien TB yang sudah sembuh. Keren ya? Semoga mereka yang sedang berjuang di sana mendapat kesembuhan dari Yang Maha Menyembuhkan. Amiin.

Usai berkunjung ke RSHS Bandung


***

Pukul 12 siang kami sudah dalam perjalanan kembali ke hotel. Makan siang lalu melanjutkan agenda selanjutnya yaitu pojok interkasi dengan mantan pasien TB. Di sini lah rasa mengharu biru muncul. Ketika satu - persatu pasien TB berbagi pengalaman tentang perjuangannya untuk sembuh. Ternyata faktor sosial justru menjadi topik utama dalam pemasalahan yang ada.

Mantan pasien pertama bercerita tentang perjuangannya untuk sembuh hingga berujung pada perceraian. Bahkan sampai kehilangan anak ketika sedang hamil. Hati siapa yang tidak teriris mendengar cerita tersebut. Bertahun - tahun beliau berjuang, hingga sampai saat ini sembuh. Berat badan kembali pulih, bahkan jauh lebih cantik dari sebelumnya. Bukan karena apa - apa, tapi karena beliau saat ini menjadi relawan untuk menyemangati para pasien di rumah sakit. Mulia bukan?

Mantan pasien yang kedua bercerita tentang kisahnya yang terkena TB ketika sedang hamil. Beliau sampai tak bisa berkata - kata ketika ditanya, sampai harus menangis tergugu ketika bercerita. Jawabannya karena beliau harus dipisahkan dengan anaknya hingga 1 tahun lamanya dari setelah melahirkan. Bayangkan saja, setelah mengandung 9 bulan lalu ketika lahir terpaksa tidak boleh ada kontak langsung dengan sang anak tercinta. Kesedihan yang mendalam itu kini sudah terbayar. Beliau sudah bisa bertemu dengan anaknya karena sudah sembuh.

Dua di atas adalah mantan pasien TB dan 2 diantaranya sedang menjalani pengobatan. Narasumber ke 5 adalah anak kecil yang terkena TB ketika balita. Badannya dulu kurus sekali, dan tanda TB pada anak yang tidak bisa diprediksi sepeti layaknya orang dewasa. Melainkan melalui sistem skoring baru bisa terlihat apakah anak terkena TB atau tidak. Selain itu, biasanya anak - anak juga sulit untuk mengeluarkan dahak. Cerita tentang anak ini diwakilkan oleh neneknya. Aku sendiri tidak bisa berkata apapun mendengar semuanya. Cuma bisa menitikkan air mata. Tapi jangan salah, anak ini punya mimpi akan menjadi ustadz. Subhanalloh.

Doakan yah semoga mereka semua sehat seperti sedia kala. Jangan lagi ada diskriminasi di masyarakat. Jangan ada lagi bumbu - bumbu tidak menyenangkan dari penilaian orang lain terhadap TB. Mengapa? karena TB bisa disembuhkan. Tidak perlu ada kewaspadaan berlebih dari masyarakat. Hanya saja tetap berpegang pada prinsip pencegahan yang sudah saya tuliskan di postingan sebelumnya.

Sore harinya, kami menyempatkan diri untuk berjalan - jalan menyisiri kota Bandung. Ini serius kami benar - benar berjalan kaki. Hampir sebagian ikut dan aku terbilang muda dibanding sebagian lain. Tapi mereka justru tidak berkeluh lelah atau meminta untuk beristirahat. Mereka semua benar - benar wanita yang kuat yah. Dan ternyata satu kesenanganku yang terealisasi juga, yaitu berjalan kaki. Iya, bersama mereka. Senangnya.

***

Malam harinya pukul 20.00 WIB, kami kembali berkumpul untuk nonton bareng dengan tema TB. Selajutnya acara bebas, di sini diadakan sharing pengalaman selama kegiatan kemarin dan hari ini. Tentang apa yang sudah didapatkan, tentang apa yang sudah dipelajari, tentang apa yang sudah secara tidak langsung 'menampar' keras hati kami, khususnya aku sendiri. Selain itu, ada ajang unjuk kebolehan dadakan dari beberapa blogger untuk berpuisi dan menceritakan cerpen. Ah, betapa hebat mereka. Bahkan panitia penyelenggara pun sampai berkeinginan untuk melanjutkan hobi menulisnya. Seperti kami.


Kak Nurul membawakan puisi karya kak Icha



Day 3

Hari ini kami bersiap kembali menaiki bus yang sudah disediakan oleh panitia. Kali ini kami akan berkunjung ke puskesmas yang sudah bekerja sama dengan beberapa instansi dan rumah sakit untuk menangani pasien TB. Kami berkunjung ke Puskesmas Garuda pagi ini. Di sana kami pun disambut dengan hangat oleh para pegawai puskesmas. Ada beberapa materi yang kami simak, walaupun agak kesulitan untuk menyebarluaskannya ke media sosial. Sebab si ibu sangat cepat sekali dalam penyampaiannya. Tapi tenang, bukan kami namanya kalau tidak bisa 'mencuri' ilmu untuk sekedar satu atau dua kali tweet. Tapi kami senang dan sangat menikmati acara ini. Intinya Puskesmas Garuda ini memiliki beberapa program pelayanaan untuk TB. Salah satunya yaitu dengan melakukan penjaringan pada anak yang baru masuk sekolah agar anak - anak yang terkena TB dapat terlacak. Selain itu, puskesmas Garuda ini juga bekerja sama dengan beberapa instansi untuk menigkatkan pelayananan TB. Di sana kami diberi peragaan cuci tangan yang baik lho, sampai dinyanyikan. Jadi seolah kembali lagi ke jaman ketika kami masih di taman kanak - kanak.


Peragaan cuci tangan yang benar oleh Ibu Dewi dan Ibu Dwi


Dan itu adalah pelajaran terakhir yang kami terima. Lepas dari acara ini, kami sudah diperbolehkan pulang. Walaupun ada rasa berat untuk sebuah perpisahan *halah.

***

3 hari yang begitu menyenangkan. Bisa berbagi dengan sesama walaupun hanya dengan media sosial. Bukan lagi sekedar membuat tulisan yang tidak ada manfaatnya mungkin. Tapi kali ini beberapa tulisan bisa dijadikan pelajaran. Mungkin masih banyak orang lain yang lebih hebat untuk menuliskan kisahnya, tapi inilah bagiku. 3 hari yang unforgetable. Sama sekali tidak ada sekat sekalipun kami baru pertama kali bertemu. Punya teman sekamar yang juga lincah walaupun usia udah seperti ibuku, bahkan aku memanggilnya dengan kakak. Semangat dari salah satu ODHA diantara kami pun turut menyelimuti atmosfer workshop sehingga kami tidak pernah habis mengucap decak kagum kepada beliau. Aku menyapanya dengan sebutan kakak. Kakak, hebat. Semoga malika (anak kakak), menjadi penyemangat dan pengingat tentang indahnya kehidupan di kemudian hari. Amiin.


Terima kasih untuk eyang @anjarisme
Terima kasih untuk Kementrian Kesehatan Republik Indonesia @puskomdepkes
Terima kasih untuk panitia penyelenggara acara Workshop Blogger 
Terima kasih untuk teman - teman blogger lain

LAWAN TUBERKULOSIS (TB)

Pernah mendengar Tuberkulosis? Atau mungkin lebih akrab dengan sebutan lainnya yaitu TB atau TBC? Jika sudah pernah, mohon koreksinya jika ada kekeliruan. Sebab apa yang saya tulis di sini adalah sesuai dengan apa yang didapatkan selama Workshop Blogger Dalam Rangka Perayaan TB Day 2015 di Bandung. Tahu gak sih? Kalau jumlah kasus TB di Indonesia menduduki peringkat ke-4 terbanyak di dunia. Kasus TB anak di Indonesia yang tercatat saja nih sudah sebanyak 26.020 di tahun 2013. Nah, yuk intip sebenarnya TB itu apasih? Siapa aja yang bisa terkena TB? Tanda dan gejalanya bagaimana? Obatnya gratis tidak? Dan yang paling penting bisa sembuh tidak? 

TB itu apasih?

Perkenalan pertama tentang Tuberkulosis disampaikan oleh Dr. Prayudi Santoso, bahwa penyakit TB disebabkan oleh bakteri/kuman TB yaitu Mycobacterium tuberculosis. Kuman ini suka sekali oksigen sehingga 80% pengidap TB diserang melalui paru - paru. Padahal kuman ini juga bisa menyerang organ lain yaitu tulang, sendi, usus, kulit, kelenjar getah bening, bahkan selaput otak. Itu baru TB biasa, ada juga TB-MDR (Multi Drug Resistent). TB jenis ini adalah TB yang disebabkan karena kuman TB sudah kebal obat. Artinya selama masih dalam fase TB biasa ke fase TB-MDR, kumannya sedang dorman atau aktivitas metabolismenya berhenti sementara namun tidak mati. Mengapa bisa seperti itu? Biasanya pengobatannya tidak tuntas. Bahkan bisa juga tertular langsung dari pasien TB-MDR itu sendiri.


Lalu siapa saja sih yang bisa terkena TB?

Semua usia bisa terkena TB baik bayi, batita, balita, anak - anak, orang tua, bahkan ibu hamil. Namun ada juga orang yang rentan terkena TB yaitu perokok dan pengidap HIV. Buat yang masih merokok, coba dikurangi sedikit - sedikit untuk berhenti total, yah. 


Tanda dan Gejala TB apa saja?

TB biasa dengan TB - MDR gejalanya sama, yaitu batuk lebih dari dua minggu, demam, batuk berdarah, nyeri di dada, berkeringat di malam hari tanpa aktivitas, nafsu makan dan berat badan menurun drastis. Kebanyakan orang menyepelekan sakit seperti batuk, didiamkan saja mungkin. Atau berfikir "ah, nanti juga sembuh". Lebih bahaya lagi jika TB menyerang anak - anak terutama balita. Karena tanda penyakitnya tidak khas seperti orang dewasa yaitu batuk lebih dari 2 minggu. Biasanya dari demam, diare, lesu, tidak seaktif biasanya. Pada anak, gejala biasanya dilihat dari adanya pembesaran kelenjar. Untuk mengetahui apakah anak terkena TB atau tidak adalah dengan sistem skoring. 

Pembesaran Kelenjar pada Anak


Bagaimana kaitannya dengan HIV?

Nah, logikanya seperti ini kita yang merasa sehat saja jika terkena percikan air liur atau dahak pasien TB saat bersin, batuk, atau berbicara maka TB bisa ditularkan. Bagaimana dengan mereka yang memang mengidap HIV? tentu lebih berisiko. Jika sudah seperti ini, maka harap disembuhkan dahulu TB-nya baru kemudian diobati HIV-nya. Mengapa? Sebab kedua obat dari TB dan HIV punya efek samping yang berbeda.

Nah, coba berobat atau cek dahak jika memiliki tanda yang sudah disebutkan tadi ke puskesmas, dokter atau langsung ke rumah sakit.


Obatnya gratis tidak? Bisa sembuh total?

Jangan sedih, obatnya gratis! Pemerintah sudah mencanangkan program ini. Dan apakah teman - teman tahu? Obat TB ini sudah ditemukan sejak 50 tahun lalu dan belum diganti hingga kini lho. Mengapa? karena masih efektif. Asalkan sang pasien mau mengikuti proses pengobatan hingga tuntas. Dan BISA DISEMBUHKAN. Total. Tentu dengan catatan tetap menerapkan hidup yang sehat ya setelah sembuh. Kalau tidak tuntas? Ya kumannya kebal obat malah bisa menjadi TB-MDR. 

Jadi kalau mendengar obat TB itu mahal, perlu diwaspadai. Sebab obat TB yang ada di Indonesia ini memang gratis, maka patut dicurigai keasliannya jika berbayar. Namun jangan langsung men-judge berobatnya gratis. Ada pelayanan yang perlu dibayar. Catat yah, hanya obatnya yang gratis.

Obat TB untuk tahap awal
Klinik TB Tahap Awal dengan Pengaturan Sirkulasi Udara


Lalu bagaimana kita mencegah supaya tidak terkena TB? 

Jaga kesehatan dan jaga kebersihan tentunya, untuk bayi berikan vaksinasi BCG. Karena biasanya sistem imun kita pertama kali akan melawan masuknya kuman TB. Maka untuk perokok dan pengidap HIV yang notabene sistem kekebalan tubuhnya kurang akan mudah terkena kuman TB.

Karena kuman TB menular melalui udara maka hendaknya gunakan masker. Masker khusus untuk TB namanya masker N95. Usahakan saat batuk ditutup dengan punggung tangan. Itu kata dokter loh. Cuci tangan sebelum makan juga penting.

Seserius itukah? Jelas dong. Efek samping dari obat TB ini bisa mual - mual, pusing, nyeri sendi, sakit perut, kesemutan, terbakar di telapak kaki, air seni kemerahan, halusinasi, atau juga depresi. Dan satu lagi yang harus teman - teman tahu, bahwa obat TB ini harus diminum setiap hari selama tahap awal yaitu 2 - 3 bulan. Tahap ke dua diminum 3 kali seminggu selama 4 - 5 bulan. Jika sudah memasuki TB-MDR maka harus melanjutkan pengobatan dengan minum obat dan suntikan setiap hari minimal 6 bulan. Lalu dilanjutkan dengan pemberian obat tanpa suntikan selama 20 kali pengobatan. 1 kali pegobatan adalah 28 hari. Sehingga bisa dibilang untuk sembuh harus menjalani pengobatan selama 2 tahun secara tuntas. Cek dahak rutin, minum obat teratur, dan pasti sembuh.

***

Perjuangan mereka memang sulit, bahkan sangat sulit untuk sembuh. Bukan cuma kesehatan yang mereka pulihkan tetapi juga ketenangan hati. Kebanyakan masyarakat kita (mohon maaf) kurang menghargai pasien TB atau pengidap HIV. Padahal justru dorongan dan semangat dari lingkungan lah yang membantu mereka untuk sembuh. Bagi teman - teman yang merasa artikel ini butuh dibagikan, silakan.

Saatnya kita tanggap terhadap informasi terlebih lagi untuk orang - orang yang ada di sekeliling kita. Bahwa TB bisa dicegah, TB bisa disembukan! AYO LAWAN TB!


LAWAN TB

*cek hastag #sahabatJKN #lawanTB untuk informasi lengkap.


Pelajaran di Perjalanan Part 2

Teman - teman sudah baca tulisan sebelumnya? Iya, tentang pelajaran di perjalanan yang pertama. Bisa klik di sini bagi yang belum baca. Kalau sebelumnya gue berceria tentang perjalanan dari Lampung ke Tangerang. Kali ini gue akan bercerita tentang perjalanan dari Tangerang ke Bandung. Tujuan gue ke Bandung bukan karena diusir atau menghindari mantan *elah. Tapi karena untuk menghadiri Workshop Blogger dalam rangka Tuberculosis (TB) Day 2015. Sebelumnya gue mau bilang makasih dulu buat eyang @anjarisme yang sudah rela memberi belas kasihan kepada daku yang rupawan dan memesona ini. Gak tau juga kenapa panggilannya eyang, padahal usia beliau masih bisa dibilang abegeh *sungkem. Tapi serius, takdir untuk bertemu dan menghadiri acara ini sangat gue syukuri. Satu kesempatan yang gak pernah terbayangkan, cuma dengan modal nge-blog dan nge-twit gue bisa mendapatkan pelajaran. Bukan cuma di dalam acara, tapi juga perjalanan menuju acara tersebut. Oke, dimulai ya.

Rencananya sih gue berangkat dengan naik jurusan Bandung langsung dari Tangerang. Tapi berhubung eyang menawarkan diri dengan memberi tumpangan, ada Nova (teman blogger dari Bojonegoro) juga yang ikut. Oke gue putuskan untuk ke terminal Senen. FYI, rumah eyang di Jakarta jadi kita yang nebeng ikut aja dengan titik pertemuan di terminal Senen tersebut. Awal rutenya seperti ini:

Rumah - diantar sampai terminal Poris - naik bus jurusan Senen - ketemu eyang dan Nova - tiba di hotel Aston, Bandung dengan tenang.

Tetapi semua rencana rute tersebut gagal karena ada musibah yang datang memang gak disangka - sangka. Ponakan sakit, dan berangkat pas banget ketika gue juga mau berangkat pagi itu. Alhasil, gue gak ada yang nganter dong. Kakak gue udah pusing bin khawatir ngeliat anaknya udah lemes banget. Yaudah, akhirnya dengan membawa ransel yang berat itu. Gue berangkat dengan rute sebagai berikut:

Rumah - jalan kaki setengah kilometer - naik angkot - macet - sampe terminal - bolak/i karena bus ke arah Senen gak melintas sedari tadi - berdiri sampe 30 menit - naik bus Jurusan Senen jam 7 pagi (ini telat banget) - turun di Kebon Jeruk naik bus langsung ke Bandung - Naik angkot 3 kali - jalan kaki - tiba di hotel Aston, Bandung dengan lelah.

Bisa dibayangkan gimana rasanya itu rute jadi panjang banget. Bisa dibayangkan juga ada bidadari cewek bawa ransel gede naik turun angkot, berdiri di pinggir jalan nunggu bus. Mungkin kalo orang yang ngeliat ada 2 kemungkinan. Pertama: gue diusir dari rumah. Kedua: gue kabur dari rumah.

Sempat ada pikiran untuk gak berangkat, mengingat ponakan di rawat di RS dan bus yang tak kunjung tiba. Sebelumnya gue bolak - balik di Poris karena nanya ke orang - orang. Orang pertama yang gue tanya adalah dedek - dedek gemez. Anak SMA yang berhijab, dia bilang kalau mau ke Senen kudu masuk lagi ke pertigaan. Gue gak langsung menuruti saran dedek - dedek gemez tersebut. Lalu gue berdiri lah selama 10 menit. Gak ada pula yang lewat ke Senen. Oke, gue berjalan ke arah yang ditunjukkan oleh dedek - dedek gemez tadi. Dan di tengah jalan gue ketemu mbak2 pake masker. Gue tanya lah, dia jawab dengan arah asal tempat gue datang dong. Yasalam mbak...gue masa di suruh balik lagi. Oke bye. Gue balik lagi aja ke tempat semula.

Berdiri lagi 10 menit, beneran kemana sih ini bus gak ada yang lewat. Lalu ada abang kenek bus, tampang dan pakaian urakan gitu sih. Agak ragu juga mau nanya. Ah, gak ah. Akhirnya ada ibu - ibu berseragam pe en es. Lah, jawabannya malah gak meyakinkan. Satunya bilang nomor A, satunya bilang nomor B. Sudahlah, gue nanya aja sama abang - abang tadi.

"Bang, bener gak sih kalo mau ke Senen nunggunya di halte sini? Dari tadi gak lewat soalnya"

"Wah, adanya siang neng. Sekitar jam 9 an"

Satu detik kemudian.....

Bus jurusan Senen melintas. Ngeselin gak sih?

***

Di bus, gue di telponin dan wasapin sama eyang. Gue udah bilang kalo gue gak bisa menepati janji bahwa lewat pukul setengah 8 belum tiba di Senen. Yaudah tinggal aja. Eh eyang masih mau nunggu sampe pukul 8. Apa daya lah, gak mungkin juga gak macet kan. Akhirnya gue nanya sama sebelah gue. Mbak - mbak pake masker part 2 ini baik hati. Dia menyarankan gue untuk turun di Kebon Jeruk dan melanjutkan perjalanan ke Bandung dengan rute yang gak ribet. Makasih mbak masker part 2 :*

***

"Neng, turun di sini aja. Nanti naik angkot sekali yang warna ijo, turun di Cihampelas"

Abang kondektur dengan logat sunda yang kental ini sejujurnya menurunkan gue di tempat yang salah. Pun petunjuknya. Gimana gak salah coba, seharusnya gue bisa turun di Leuwi Panjang, lalu naik angkot sekali dan beneran nyampe hotel Aston di Cihampelas dengan selamat sentosa. Tapi berhubung waktu itu gue oon dan nurut aja jadi lah gue turun. Oke, naik angkot adalah skill gue. Gampang.

"Udah dimana, Na?*khawatir*"

Eyang wasap, gak tau deh itu khawatir beneran apa gak. Kayaknya beneran secara gue bukan orang Tangerang, juga bukan orang Bandung. Tapi gue adalah orang Lampung yang gak pernah kemana - mana dan gak tau arah jalan.

"Ini dimana ya, A?" 

Gue nanya sama Aa - Aa Bandung yang seangkot sama gue. Berhubung dia udah nanya - nanya gue duluan jadi gue gak segan buat nanya ini daerah apa namanya. FYI, ini adalah angkot ke dua yang gue tumpangi. Masih inget dengan kata - kata Abang kondektur tadi? Oke, bye.

"Jl. Rajawali, di angkot, eyang"

Sebenernya percuma juga gue nanya Aa tadi, ternyata eyang pun gak tau itu dimana. HUFT BANGET. Mana itu Aa - Aa minta pin BB gue. Untung aja dia gak nanya berapa pin nya, cuma nanya punya pin BB apa gak. ahaha nyesel seumur hidup tuh Aa - Aa.

Sementara itu Pak Sopir bilang, kalo mau ke Aston kudu naik satu angkot lagi. Oke....oke...satu lagi nyampe depan hotel jadi tenang. Ngomong - ngomong acara mulai 1 jam lagi. Sudah naik angkot satu lagi dan ternyata kudu jalan kaki lagi. Lumayan lah 300 meter. Cuma karena gue udah laper banget, pagi cuma gigit roti sedikit dan minum susu setengah gelas.

***

Di pelataran hotel....

"RIANAAAA??"

Gue yakin seyakin yakinnya itu suara eyang, meskipun gue gak pernah ketemu orangnya. Cuma pernah baca materi diskusinya aja di komunitas Warung Blogger. Setelah itu gue membuntuti eyang sampe parkir mobil. Secara gue gak tau ada di lantai berapa acaranya, dan room apa. Maka dengan tampang aneh eyang melihat kelakuan gue sekaligus berkomentar:

"Bener - bener punya jiwa petualang"

Katanya gitu. Tapi dia sedikit menyayangkan karena gue memilih naik angkot bukannya naik ojeg. Bukan apa - apa, kang ojegnya udah gangguin gue duluan. Udah ilfeel. Hih. Lagian gue mikir takut dibawa kabur kang ojeg, kalo naik angkot kan gak bisa. Hehe.


***

Aseli itu seru banget, pelajaran yang bisa diambil adalah jangan kebanyakan nanya orang. Bertanya boleh. Katanya malu bertanya sesat di jalan. Menurut gue, kebanyakan nanya juga bikin sesat sih. Apalagi kalo nurut - nurut aja orang saranin kemana. Capek? Pegel? Laper? IYA. Tapi semua terbayar dengan lunas. Pengalaman, teman, ilmu baru, yang gak bisa ditukar dengan uang sebesar apapun. Thanks Eyang.


Oiya, tulisan selanjutnya akan membahas tentang apa yang gue dapatkan selama 3 hari di Bandung. Insya Alloh apa yang gue dapatkan akan gue bahas dan gue bagikan ke teman - teman.