Ketika Cermin 'Berkata' Dewasa Part 4


Adalah kata yang pas untuk hari ini. Berbagai macam file mulai dari perencanaan pembibitan hingga pasca panen bertumpuk - tumpuk di meja kerjaku. Bayangkan saja jika semua berkas itu harus kubaca dan kutanda tangani satu persatu. Tidak boleh ada yang terlewat. Bahkan baru saja ada info untuk rapat dadakan mengingat deadline sudah satu mingggu lagi. Ya, inilah sulitnya menjadi Quality Assurance (QA) atau Quality Control (QC). Tanggung jawab yang sangat besar memang, penjaminan dan pengendalian mutu produk olahan minyak kelapa sawit di tengah kisruh isu - isu pemanasan global. Ditambah lagi dengan rencana memonitoring lokasi pembukaan lahan baru di Kalimantan. Sungguh hectic.


Kurebahkan punggung sejenak, kepala yang sedari tadi terpaksa menunduk kini kubiarkan menerawang ke langit - langit ruangan kerjaku. Hela nafas panjang kadang terselip ditengah lamunan. Kali ini aku sungguh ingin melihat Vansa, tersenyum sedikit saja tidak apa - apa. Sore ini akan ku jemput dia. Ya, aku lagi - lagi tidak ingin dia tahu akan hal ini. Vansa, aku rindu. Sangat rindu. 


Suara telepon dari Ibu membuyarkan semua lamunan. Segera kurapikan meja kerjaku sebisanya. Tidak terlalu rapi. Biarlah. Setelah ini aku berniat makan siang. Rasa lapar kini baru terasa. Pundak juga baru terasa berat. Begini rasanya jika terlalu banyak yang harus dikerjakan. Namun ketika baru saja aku hendak berdiri, aku terperajat! Ternyata jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Oh tidak, aku harus cepat menyelesaikan sisa pekerjaanku tadi. Setelah itu, waktuku untuk Vansa.



~~~


Sore ini langit cerah. Hanya awan - awan tipis yang menggantung dibirunya langit. Seperti biasa, aku sudah di ruang tunggu. Menanti Vansa datang dari arah anak tangga. Peluh dan lelah rasanya hilang terbawa angin saat aku ke sini. Beberapa orang lalu lalang melintas, ingin bertanya namun entah mengapa aku enggan. Sabar saja, batinku.


Kali ini awan putih sudah berarak ke barat. Membentuk gumpalan - gumpalan berwarna kuning. Dibaliknya tersembul cahaya matahari, lurus, dan menyilaukan mata. Sudah pukul setengah lima sore. Terpaksa ku telepon Vansa.


V    : Ya, kenapa, Han?

N   : Dimana kamu? 

V   : Di rumah. Oya lupa bilang, aku ijin kerja.

N   : *menghela nafas* Yaudah aku ke rumah ya?

V   : Nanti malem aja, Han.

N  : Oke cantik. 
       Oya Van.......

tuuutt....ttuuutt... terputus.

N  : Aku kangen.


~~~



"Sudah, Van. Jangan nangis lagi. Ga enak sama orang tua kamu"

Aku sungguh tidak ingin melihatnya seperti itu. Setelah banyak bertanya tentang kondisi kakinya yang sudah membaik. Dia juga bertanya tentang kesibukanku hari ini. Segala kisruh yang terjadi hari ini sudah aku ceritakan. Terlebih lagi tentang rencana kepergianku ke Kalimantan, satu atau dua bulan ini.

"Kemarin kamu bilang pernikahan ditunda apa karena ini, Han?"

Suara Vansa bergetar.

"Enggak, ini pure karena kerjaan, Van.  Gak ada hubungannya dengan kita. Udah, kamu jangan nangis gitu. Kan cuma sebentar"

Aku berusaha untuk membuatnya tetap tenang, walaupun aku tidak tahu pasti ada perubahan atau tidak setelah satu atau dua bulan ini.

"Jangan pergi jauh - jauh, Han. Kamu sibuk seharian aja aku bete"

"Iya, tapi kan udah ketemu sekarang. Senyum dong"

Vansa tersenyum. Oh Tuhan, terimakasih untuk lengkungan manis yang Kau ciptakan ini. Aku sungguh akan menjaganya, dimana pun.


~~~


*dua bulan kemudian*


LDR.

Long Distance Relationship. Bedebah. Kata itu sungguh menyebalkan bagiku. Bagaimana tidak? Aku adalah orang yang paling terdepan untuk menyela teman - temanku yang menjalani hubungan jarak jauh. Bagiku, itu bukan relation-ship tetapi rela'in-ship. Sekarang, tidak perlu kuberitahu. Aku menjalani LDR dengan Nehan. Sudah tidak perlu ditanya juga tentang bagaimana tanggapan beberapa temanku soal ini. Lebih banyak menertawakan daripada iba. Bahkan Nehan juga tertawa mendengar keluhanku tentang mereka.


Dua bulan terasa dua tahun. Setiap hari aku harus bergulat dengan rindu yang kadang memuncak. Aku dan Nehan sama sekali tidak pernah terpisah se-jauh ini. Tidak pernah. Pun juga tidak pernah se-lama ini. Sewaktu aku SMP, aku bisa melihatnya setiap hari. Ah, malu sekali jika mengingat masa - masa itu. Pura - pura membuang muka jika berpapasan. Namun, aku diam - diam mengamatinya dari kejauhan. Nehan semasa SMA sungguh menjadi buah bibir teman - temanku. Bukan karena parasnya, namun karena keterampilannya di lapangan basket. Nehan yang manis.


Aku SMA, juga tidak berjauhan dengan Nehan. Waktu itu aku dan Nehan semakin dekat, sangat dekat. Jika tidak ada jam kuliah siang, dia selalu menyempatkan diri untuk menjemputku sekolah. Terkadang tidak langsung pulang ke rumah. Menikmati waktu sore di bangku taman. Berdua, saling berebut es krim yang sudah di tangan masing - masing. Terkadang usil men-dubing pasangan lain yang terlihat bertengkar. Terkadang aku juga meminta dia membantu mengerjakan PR-ku, jujur saja aku kurang ahli masalah ini. Tapi untuk membuat Nehan rindu, tentu aku ahlinya.


Kedekatan kami terus berlanjut. Hingga pada suatu malam di bulan April tahun 2008, Nehan memintaku untuk menjadi kekasihnya. Sebenarnya tanpa status pun, aku yakin sekali bahwa aku dan Nehan tidak akan menyakiti satu sama lain. Ini karena Nehan sudah bosan dikatakan 'cemen' oleh teman - teman satu almamaternya. Sebab wanita yang paling dekat dengan Nehan, hanya aku. Begitu pula sebaliknya. Walaupun banyak teman laki - laki yang mendekat, entah mengapa aku tidak ingin selain Nehan. Padahal jika aku ingin, bisa saja kupilih satu orang saja di kampusku dari sekian yang mendekat. Sudah terlalu nyaman dengan Nehan. Mungkin itu alasannya.


Huuufhh. Mengingat masa - masa itu sungguh menyesakkan. Aku hanya bisa menatap semua foto di layar monitor. Baru kusadari di tahun 2012 kemarin, hanya sedikit kenangan yang bisa disimpan. Hanya tiga. Pertama saat tahun baru, kedua saat Nehan berulang tahun, ketiga saat aku berulang tahun. Aku menyadari, di tahun kemarin rasanya tidak banyak moment yang bisa diingat. Jika tahun - tahun sebelumnya aku masih aktif untuk memperbanyak moment dengan Nehan. Di tahun 2012, aku sudah lelah. Ah, mungkinkah karena itu Nehan memutuskan untuk menunda pernikahan? Sudahlah! Aku sudah tidak ingin memikirkan itu lagi. Yang terpenting sekarang adalah besok Nehan kembali. Nehan pulang!



~~~


Oh, No!

Aku tidak sabar menunggu hari ini. Ya, tentu. Mulai saat ini aku tidak mau lagi mencela siapapun yang pernah menjalani LDR. Aku sudah tau sekali rasanya menopang rindu berlama - lama sendirian. Hei, Nehan. Jangan coba - coba untuk pergi lagi. Walaupun sebenarnya aku berterimakasih kepada jarak. Tanpa jarak, bagaimana pun kalian tidak akan pernah menemukan indahnya rangkaian kata, bukan? Bahwa dengan jarak, pada akhirnya aku bisa merasakan dalamnya rindu. Iya, persis seperti dulu. Benar yang Nehan katakan, jangan terlalu cemas untuk kepergiannya saat ini. Kalau tidak dengan begitu, aku pasti sudah lupa rasanya rindu yang dulu itu seperti apa. 


From : Nehan [+628128034xxx]

Jangan tinggalin aku di ruang tunggu nanti sore ya, Van. I do love you.


Aaaakkk! Rasanya ingin melompat setelah membaca pesan dari Nehan. Lihat. Bagaimana aku bisa menolak satu permintaannya jika sikap yang dia berikan sangat membuatku melambung seperti ini. Nehan, iya, siapa juga yang mau meninggalkan laki - laki semacam kamu.

Tiba - tiba...

"Van, kamu sehat kan? Ngapain senyum - senyum?"

"Eh, Pak Dio. hehe..ini Pak..emm..." entah kenapa susah memberi alasan yang sebenarnya.

"Udah, iya, ngerti. Haha"

"Hehe. Ada apa, Pak?"

"Saya mau ngajak makan malam, bisa?"

Oh, No! Kenapa ini? Ada apa? Kenapa mendadak seperti ini?

"Aduh, ada apa ya Pak? Saya mau dipecat ya?"

"Enggak, Van. Haha. Bisa gak?"

"Aduh, maaf Pak. Saya udah ada janji duluan. Gimana Pak?"

"Yaudah gak apa - apa. Lain kali bisa kan, Van?"

"Siap, bos!"


Setelah Pak Dio meninggalkan meja kerjaku, semua orang kudapati sedang menatapku dengan tatapan heran. Mungkin seolah tak percaya dengan apa yang Pak Dio katakan. Entah apa yang ada dipikiran Pak Dio saat ini pun aku juga heran. Aku juga tak percaya. Mungkin saja ada masalah kantor yang pelik atau butuh saran seorang karyawan biasa, yah, mungkin. Aku tidak mau memikirkannya lagi. Sekarang yang jelas, aku akan cepat - cepat menyelesaikan pekerjaan hari ini dan bertemu dengan Nehan. 



~~~


Lalu aku? Bagaimana?

Akhirnya. Lama sekali menunggu sore. Entah sudah berapa kali aku menengok ke arah jam tangan. Seperti orang yang sedang terburu - buru. Kadang tersenyum sendiri, kadang melamun. Sungguh repot sekali aku hari ini.




                                                                                                                                    .....bersambung

Ketika Cermin 'Berkata' Dewasa PART 3


Satu pertanyaan yang terus - menerus menerorku malam ini. Gemericik air masih terdengar, kadang diselingi oleh nyanyian katak. Sudah tidak hujan di luar sana, tapi di pipiku masih deras. Sangat deras. Malam semakin larut, semakin aku tenggelam dalam potongan - potongan kenangan bersama Nehan. Empat tahun itu terasa berputar di sekitarku. Sungguh. Aku tidak melebih - lebihkan apa yang sedang aku rasakan sekarang. Andai saja aku tau Nehan akan berkata seperti itu malam ini. Tidak akan aku temui, tidak akan aku datang malam ini. 

Entah mungkin sudah lebih dari dua jam aku sukses membuang air mataku. Berlembar - lembar tisu ikut meramaikan suasana. Pemandangan di kamarku sungguh tak layak ditiru. Peduli apa? Sekarang hanya Nehan, Nehan, dan Nehan lagi yang kupikirkan. Sebentar, ponselku berdering. Tengah malam begini? Dengan langkah gontai kuraih ponsel yang berada di atas meja riasku.



From : Nehan [+628128034xxx]

Van, sekali ini saja. Jangan menangis karena aku tidak bermaksud menyakiti. Maaf kalau kejujuranku datang disaat sebentar lagi kita menikah. Berhenti menangis sayang. 


Lihat! Bukankah sudah kubilang dia benar - benar mencintaiku? Oh, Nehan. Adakah permintaan lain selain itu? Setelah membaca pesan yang dia kirimkan. Ajaibnya, itu malah semakin membuat air mataku semakin deras berjatuhan. 


To  : Nehan [+628128034xxx]

Sudah, lakukan saja apa mau kamu. Segala urusan penundaan acara secepatnya kamu urus sendiri. Orang tua dan keluargaku juga harus tau soal ini. Aku sudah tidak ingin lagi mendengar alasannya. Lakukan saja.


Setelah mengirim pesan ke Nehan, kudapati diriku sudah tidak menangis lagi. Sesak yang sedari tadi membumbung kini sudah mereda. Hawa dingin malam ini menyelimuti tubuhku yang semakin lelap. 



~~~


Januari 2013 (1).


Adalah awal tahun dan awal harapan baru bagi siapapun. Ada banyak resolusi dan pencapaian untuk ke depan. Termasuk aku. Mungkin juga Vansa. Setelah malam itu, aku mengurus segala penundaan acara pernikahan kami. Aku sendiri. Vansa sengaja tak kulibatkan dalam hal ini. Sebab tanpa diminta pun, aku tidak ingin lebih menyakitinya dengan langsung menerjunkan raganya juga dalam urusan ini. Sebab aku menyayanginya, aku hanya ingin segala sesuatu dalam dirinya menjadi lebih baik setelahnya. Sebab aku mencintainya, maka kupertanggung jawabkan keputusanku kepada keluarganya. Beruntung, semua mengerti. Ya, kuharap Vansa akan seperti itu juga.


Nyatanya, sudah hampir sebulan ini justru sikapnya malah semakin menjadi - jadi. Jika dulu hanya setingkat super cuek, sekarang telah menjadi super duper cuek kuadrat. Aku tidak berlebihan, memang seperti itu adanya. Percakapan kami tidak lebih dari sekedar soal dengan jawaban 'Ya' atau 'Tidak'. Aku sungguh kehabisan akal menghadapi Vansa. Yah, mungkin yang dibutuhkan sekarang hanyalah kesabaran. Aku tahu, inilah resiko yang harus aku terima. Sore ini selepas jam kantor, aku berniat untuk bertemu Vansa. Sengaja tanpa memberi tahunya terlebih dahulu. Sangat kebetulan karena hari ini aku bisa pulang lebih awal karena rapat dimajukan satu jam. Ah, Vansa. Sungguh sudah lama aku tidak merasakan jantung berdegup seperti ini. Mungkin benar, jarak memang diperlukan agar rindu tetap terasa 'ada'.




~~~


Surat Cinta.

Di bawah pohon pinus pelataran parkir salah satu bank swasta bonafit; tempat Vansa bekerja, di situ aku menunggu Vansa. Persis seperti sebelum - sebelumnya. Ada rasa kesenangan tersendiri jika Vansa tiba - tiba terkejut bahwa aku sudah di sana, menunggunya. Entah bagaimana aku bisa mengatakannya bahwa wanita ini sangat mudah membuatku menunggu. Tepatnya aku yang berinisiatif untuk menunggunya. Ya, kalian perlu tahu bagaimana aku dulu mendapatkannya. 


Dulu pertengahan tahun 2001 dan mulai dari sana aku mengagumi Vansa. Kami memang selisih tiga tahun. Aku lima belas tahun, dan dia masih sebelas tahun. Kami sekolah di yayasan yang sama. Dulu, waktu aku kelas satu SMA tiba - tiba ada anak berseragam SMP secara terburu - buru memberikan sepucuk surat. Iya, surat cinta. Memberikan surat cinta adalah tradisi sekolah kami dulu. Klasik tapi mendebarkan bagi semua murid baru. Awalnya aku ingin langsung membuang surat itu, sudah pasti ulah anak - anak OSIS. Tapi setelah kulirik tulisan disudut kiri atas, niat itu aku urungkan. Kira - kira seperti ini;


"Dear Kakak SMA, aku Vansa. Adik SMP. Disuruh buat surat cinta."


Seketika aku tertawa terbahak - bahak dengan teman satu geng-ku dulu. Tunggu, isinya lebih lucu lagi.


"Kak, aku lagi buru - buru, udah langsung aja ya. Aku cinta kakak, tapi aku gak tau kakak namanya siapa. Kalau boleh, tolong kakak tulis sendiri nama kakak disurat ini ya. Biar anak - anak OSIS tidak mengira aku salah kirim. Di isi ya kak. Nanti aku kasih nilai seratus kalau benar jawabannya. Nanti balasan suratnya dikasihin aja ke pak satpam biar gak susah. Udah ya kak. Dadah!

Aku cinta kamu, ........................."



Setelah menerima surat itu, aku langsung menulis namaku diatas titik - titik yang telah disediakan. Entah mengapa, aku menulis dengan pensil dengan alasan mudah dihapus agar bisa disalin dengan tulisannya sendiri saat aku kembalikan. Tradisi yang aneh memang. Aturan mainnya memang seperti itu. Nanti surat balasanku akan digabungkan dalam satu amplop. Kemudian nanti akan diundi pada hari terakhir masa orientasi, untuk dinobatkan menjadi King and Queen. Surat balasanku simple sekali. Beberapa temanku banyak yang menyarankan untuk memberikan puisi atau rayuan dan semacamnya. Tapi itu malah membuatku geli, sangat geli. Aku juga tidak ingin mem-branding diriku seperti itu dimata adik kelas. Seperti ini balasanku;


"Iya, Vansa. Udah kutulis namaku dengan lengkap. Oke aku kasih tau lagi biar gak dikira salah kirim. Namaku Bramastha Aji Sadewo. Panggilanku Nehan. Tanya saja orang tuaku kalau mau tahu alasannya. Jangan kasih tau yang lain kalau panggilanku sebenarnya Nehan. Yaudah gitu aja. Biar kamu gak sakit hati jadi aku balas kata - katamu kemarin.

Aku juga cinta kamu, Vansa."


Entah mungkin karena garis kehidupanku semudah itu ditebak. Pada akhir masa orientasi, suratku dan Vansa yang berada digenggaman Ketua OSIS SMA dan SMP. Jadilah hari itu kami berdua berdiri di atas mimbar tempat pembina upacara berpidato. Riuh tepuk tangan dan gelak tawa menggelegar dari seluruh penjuru yayasan. Semua mata tertuju pada kami. Bagaimana tidak? surat cinta kami dibaca dengan lantang plus dengan pengeras suaranya. Di sana, Vansa sudah menyiapkan angka seratus yang ditulis dengan kertas hvs. Pak satpam juga ikut andil dalam menyematkan mahkota kami. Selempang dan bunga - bunga tak karuan sudah sukses menjalar diatas seragam kami. Oh Tuhan, masa - masa itu sungguh mengesankan. Terima kasih sudah menggariskan cerita memalukan itu di kehidupan kami. Terima kasih karena kenangan itu bisa kami simpan dalam foto yang terpajang di atas meja. Terima kasih untuk surat cintamu, Vansa. Aku memang sudah mencintaimu. Sudah terlalu mencintaimu.


Kubawa serta kenangan itu menuju ruang tunggu terbuka yang terletak dibelakang. Tidak jauh dari motor yang kuparkir. Lima belas menit lagi jam kantor usai. Aku sungguh ingin segera bertemu Vansa. Melihat senyumnya saja sudah sukses membuatku mendaratkan satu kecupan di dahinya. Ayo Vansa, aku sudah di sini. 


Kini dua puluh menit berlalu. Aku mulai tidak betah duduk saat ini. Sesekali berdiri melihat ke arah tangga keluar dari gedung utama. Tidak ada Vansa. Duduk kembali namun lima detik kemudian berdiri. Hampir sepuluh menit aku bertingkah sebodoh itu. Kali ini pandanganku mengarah ke segala arah. Sesekali melihat ponsel, ke arah jam tangan, ke langit, dan ke pelataran parkir. DEG!! Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini. Ya, itu Vansa. Kulihat seorang laki - laki membukaan pintu mobil untuknya. Siapa dia? Tidak. Tidak. Itu mungkin hanya teman kantor. Bukan seseorang yang harus aku curigai. Dan wajar saja jika dia menumpang dengan temannya. Sebab Vansa tidak tahu jika aku datang menjemputnya. Dengan cepat kukirim pesan untuk Vansa.


N    : Van, aku jemput ya. Tunggu sebentar ya?

V    : Gak perlu. Aku sudah pulang.

N    : Sendiri?


Tidak dibalas. Kuputuskan untuk sengaja mengikuti mobil yang ditumpangi Vansa. Jam macet seperti ini akan memudahkanku untuk membuntutinya dari belakang. Siapa laki - laki itu?


~~~


Januari 2013 (2).


Hari - hari semakin rumit bagiku. Ada banyak senyum yang terukir dengan paksa. Harus ku akui bahwa aku masih menyimpan banyak tanya untuk Nehan. Sudah tak penting lagi apa itu resolusi dan sebagainya. Impian untuk menjadi pendamping hidup Nehan di tahun ini sudah kandas. Mungkin aku terlalu berlebihan dalam menyikapinya. Tapi sudahlah, semua sudah terjadi. Aku harus tetap berusaha untuk menerimanya sekalipun berat. Sangat berat. 


Aku menyadari bahwa akhir - akhir ini aku bersikap dingin ke Nehan. Bagiku amat sulit untuk menghindari sikap kecewaku terhadapnya. Berpura - pura baik pasti akan menguras energi lebih besar. Biarlah. Aku ikuti saja alur cerita yang dia inginkan. Sampai pada akhirnya semua mengalir tanpa beban.


Kulirik jam tanganku, di sana sudah menunjukkan pukul empat sore. Setelah semua berkas dan beberapa file ku tumpuk dalam satu laci, aku meraih tas di atas meja kerjaku. Langkah kakiku sengaja ku percepat agar segera sampai ke rumah. Selain itu, aku juga tidak ingin berdesak - desakan di dalam bus. Sebab terlambat setengah jam saja, antrian penumpang sudah panjang. Tiba tiba, BRUGG!! Aku jatuh terpeleset. Kombinasi flat shoes dan lantai yang masih basah sehabis dipel sukses membuat kakiku sakit. Ah, aku dalam masalah kali ini.


"kenapa, Van?" tanya Pak Dio sambil membantuku bangkit.

"eh, Pak, anu...kepeleset. He" aku salah tingkah, beliau adalah atasanku. 

"hati - hati makanya jangan buru - buru" 

"i..iya Pak" aku menjawab sambil menunduk.

Setelah itu aku kembali melangkah dengan kaki sakit sebelah. Bisa kalian bayangkan seperti apa aku berjalan.

"Bisa, Van?" ternyata Pak Dio masih berada dibelakangku.

"Bisa Pak, masa' gak bisa. He"

"Ini bukan nanya kamu bisa gak buat presentasi lho, Van. Udah saya antar aja. Ini perintah bos. Haha" 

"I..iya Pak"

Baiklah. Sesekali tidak apa - apa menumpang atasan. Toh kakiku masih sakit. Aku juga tidak yakin akan kuat berjalan dari koridor satu ke koridor yang lain untuk dapat naik bus. 



~~~


"Siapa, Van?" 

Pertanyaan Pak Dio memecahkan kesunyian di dalam mobilnya. Jujur saja, aku kaku sekali berada dalam situasi seperti ini. Tidak biasa. Sangat tidak biasa.

"Ini..anu pacar saya sms, Pak. Biasa anak muda, Pak. Hehe"

"Oh, pacarnya. Yang suka jemput itu ya?"

"I..iya Pak. Kok bapak tau?"

"Ya, kan, sering liat. Eh, tapi kok sekarang jarang ya, Van?"

Pertanyaan Pak Dio sungguh tepat sasaran. 

"Lagi banyak proyek katanya sih, Pak" aku coba untuk bersikap seperti tidak ada masalah.

"Oh, kerja dimana sih dia?"

"Di perusahaan pengelola kelapa sawit, Pak. Denger - denger ada pembukaan lahan baru gitu. Jadi sedikit sibuk" seingatku itu sudah terlewat bulan lalu. Tapi biarlah.

"Oh gitu. Van, jangan panggil Bapak terus kalau di luar kantor. Saya masih tiga puluh tahun"

"HAH! SERIUS, PAK?" aku sudah tidak bisa menahan rasa terkejutku saat ini.

"Kenapa? Boros ya mukanya?"

"He..engga, Pak" padahal ingin sekali aku jawab 'iya'. Untuk ukuran Pak Dio, mungkin bisa sekitar tiga puluh tiga mungkin atau tiga puluh lima. Mungkin karena pembawaannya yang serius sehingga orang menyangka ia lebih tua dari usianya.

Setelah itu obrolan kami tidak hanya tentang Nehan, ada banyak yang kami bicarakan termasuk urusan kantor. Hal itu membuat aku baru ingat kalau belum membalas pesan dari Nehan. 


To  : Nehan [+628128034xxx]

Engga. Aku diantar bos. Tadi jatuh kepeleset.


Terima kasih, Pak Dio. Setidaknya hari ini aku tahu bagaimana atasanku jika di luar kantor. Tidak melulu soal file laporan yang membuat sakit kepala setiap kali mengingatnya. 




~~~


Setelah menerima pesan dari Vansa. Aku langsung tersenyum. Ternyata benar, dia bukan siapa - siapa. Kali ini kehawatiranku tertuju pada Vansa. Meskipun hanya terpeleset, nanti malam aku akan ke rumahnya. Setidaknya memastikan bahwa dia baik - baik saja. Ah, tidak. Aku juga sudah rindu dengan senyumannya. Iya, aku akan datang malam ini, Vansa.


Setelah mandi dan bersiap, aku segera meraih jaket dan helm. Setelah baru saja ku nyalakan motor, tiba - tiba hujan turun. Bukan main, betapa aku terkejut. Bagaimana bisa? Ah! Sial! Terpaksa aku meletakkan kembali helm dan jaketku. Sudah hampir dua puluh menit aku menunggu, hujan tak kunjung reda. Kuputuskan untuk mengurungkan niatku malam ini. Besok malam atau ku jemput saja Vansa selepas kantor. Iya, lebih baik begitu.



~~~



Macet adalah makanan warga ibukota. Sudah bukan hal yang perlu dikhawatirkan, sebab penyakit yang satu ini amat susah disembuhkan oleh Pemerintah. Perjalanan ke rumahku yang biasanya ditempuh dengan waktu satu jam normal, sekarang bisa sampai tiga jam. Aku tidak enak hati dengan Pak Dio. Sudah merepotkan.

"Terima kasih, Pak. Maaf merepotkan. Saya masuk rumah ya, Pak"

"Eh, nanti dulu Van. Ini payung, pake aja jangan ujan - ujanan"

"I..iya Pak. Makasih" 

"Pak, lagi. Panggil nama aja"

"Engga ah, Pak. Gak sopan. Sekali lagi makasih, Pak"

Setelah mobil Pak Dio bergerak. Aku segera masuk ke dalam rumah. Tapi kakiku masih tidak bersahabat, entah bagaimana kaki ini bisa tertekuk. Dan aku terpeleset untuk kedua kalinya. Sambil meringis kesakitan, aku mencoba bangun. 

"Vansa! Hobi kamu ini kepeleset ya?"

Suara Pak Dio. Dia sudah keluar dari mobil dan segera memapahku masuk ke dalam rumah. 

"Paaaakk! Buuuu! Assalamu 'alaikuuumm"

"Waalaikumsalam!" Bapak keluar menyambutku dan Pak Dio.

"Kenapa ini Van? Kok dipapah? Kok basah - basahan?"

"Jatuh, Pak. Ga apa - apa"


Ibu segera mengambil alih, dan membantuku mengeringkan badan serta berganti pakaian. Bapak memberikan handuk kering untuk Pak Dio dan sekejap saja sudah kudengar gelak tawa mereka di ruang tamu. 


"Ngomongin apa sih seru bener, Pak?" 

"Ya, kamu itu. Jatuh kok dua kali" Bapak lantas tertawa terbahak - bahak.

"Besok kalau masih sakit gak usah masuk kerja dulu, Van" kata Pak Dio sambil menyeruput teh hangat yang Ibu suguhkan.

"Iya Pak, ijinnya sekarang ya? Hehe"

"Iya, udah istirahat aja. Saya juga sudah mau pamit ini Pak, Bu, Van"


Setelah berpamitan, kami berterimakasih kepada Pak Dio. Aku sungguh tidak menyangka jika peristiwa tersebut membawa banyak perubahan dalam hidupku. Aku juga lebih mengenal sisi Pak Dio yang lain. Jika di kantor beliau adalah sosok yang begitu dihormati, tetapi jika di luar kantor beliau adalah sosok yang friendly dan menyenangkan. 



~~~


                                                                                                                                     ......bersambung




Ketika Cermin 'Berkata' Dewasa Part 2


Inilah yang selalu menjadi penghiburku setiap kali memikirkan hubunganku dengan Vansa. Wanita yang akan kunikahi empat bulan lagi. Wanita yang akan menjadi cahaya keluarga kecilku kelak. Wanita yang akan menjadi satu - satunya menantu Ayah dan Ibuku. Sudah pasti ia sangat istimewa bagiku, bagi keluargaku, saat ini dan semoga sampai nanti. 

Desember 2012. Sungguh ini hanya kebetulan saja, atau anggap saja begitu. Bahwa banyak orang yang mengatakan jika bulan ini penuh dengan kerisauan dan kegundahan. Aku tidak mengaitkan semua yang kurasakan dengan bulan ini. Sama sekali tidak. Ada banyak hal yang mengganggu tidurku setiap malam. Ada banyak pertanyaan - pertanyaan yang muncul lalu meninggalkan bekas yang lama sekali untuk dilupakan. Dan ada yang harus diperbaiki dari hubungan ini. Harus. 

Masih pukul 7 malam, sejenak memejamkan mata dan merebahkan tubuh di tempat tidur. Penat dan lelah setelah seharian bekerja sudah pasti kubawa pulang. Berbagai macam project pembukaan lahan baru di Kalimantan membuat seisi kantor penuh dengan kesibukan. Ya, setidaknya, kesibukan itu membantuku sedikit melupakan beban pikiran yang aku rasakan. Ah, helaan nafas panjang sangat membantu di saat - saat seperti ini. Kuseret paksa kaki melangkah mendekati jendela. Rasanya malam ini juga aku harus bertemu dengan Vansa! Aku yang memintanya untuk mau menikahiku. Aku juga yang harus memulai untuk memperbaiki agar semua berjalan semestinya. Kulirik smartphone-ku yang mungkin hampir tidak berdering karena chat penting dan sejenisnya. Hanya email - email yang juga tidak harus kubaca satu persatu. Ah, Vansa! Ya, malam ini juga!


N   :  Van, bisa ketemu?

V   :  Sekarang? Dimana? Aku baru keluar kantor. 
        Nanti langsung aja.
        Gak usah jemput.

N   :  Iya. Di tempat biasa. See u there!


V   :  Ya.



Awan hitam berarak - arak menyelimuti langit. Tidak ada cahaya di atas sana. Motor yang kutunggangi bergerak dengan kecepatan tinggi. Melesat, membelah keramaian kota. Kilat - kilat seolah berpadu dengan sorot lampu kendaraan. Menyilaukan mata. Kupacu lebih cepat lagi. Lebih cepat lagi. Seolah ingin cepat menumpahkan segala perasaan yang berkecamuk. Bunyi klakson dari kendaraan lain sengaja kuhiraukan. Tidak ada yang menghentikanku malam ini. Semua harus diselesaikan.



~~~



"Lama ya, Han? Maaf. Tadi macet banget, biasa deh" 

"Lumayan sih"

"Gimana, Han?"

"Apanya?"

"Tadi yang mau kamu bicarakan? Aku jadi sedikit gugup nih"

Vansa tersenyum.

Oh Tuhan. Bagaimana aku bisa membicarakannya malam ini? Rasanya tadi ingin sekali menumpahkan segalanya. Tapi mengapa setelah melihat senyuman itu semua seperti baik - baik saja? Mengapa selalu seperti ini, Tuhan? Dia kah orangnya? Benarkah senyuman itu yang akan aku lihat setiap harinya? Dia kah? 

Tentu semua pertanyaan itu tidak kuucapkan dengan lantang. Semua tenggelam begitu saja bersamaan dengan kegundahan yang menyiksa. Ya, sejujurnya memang seperti itu. Kutatap wajahnya sesekali. Manis. Tidak berlebihan. Laki - laki manapun tidak akan berani melepasnya. Tidak akan. Tapi malam ini, aku berniat untuk sedikit merenggangkan apa yang sudah ada ditanganku. Semakin lama aku simpan semua ini, artinya sama saja dengan memelihara bom waktu. Sudah seharusnya aku katakan. Meski berat, meski aku pun tak ingin. Tapi aku yakin, waktu yang akan mengajarkan caranya. Dan proses yang akan menemukan jawabannya.




~~~

Dengarkan, Vansa.

Sesak. Sangat sesak. Sia - siakah malam ini? Apa yang sudah aku katakan tadi? Lihat, tadi ia menangis. Sekarang ia pergi. Semacam ingin mengejar namun aku rasa reaksinya wajar. Biarlah ia sendiri. Biarlah aku juga sendiri. Sementara saja memberi jarak agar apa yang kukatakan tadi tidak terhapus. Sekalipun dengan hujan yang kini serta - merta jatuh. Deras.

Sekali ini saja, Vansa. Sekali ini saja. Aku berjanji atas nama gemuruh di malam ini. Walaupun kalimatku tidak selesai, setidaknya kamu tau apa yang seharusnya kita lakukan. Tidakkah kamu menyadari bahwa kita tidak baik - baik saja? Tidakkah kamu rasakan, kapan terakhir kali kita 'berbicara'? Kapan terakhir kali kita 'mendengarkan'? Kita. Bukan salah satu dari kita.

Apakah aku menyakitimu, Van?

Apakah aku keterlaluan?

Apakah terlalu lama?

Lebih lama mana dengan kehambaran yang sudah mengganggu pikiranku?

Tidakkah kamu menyadarinya?

Mengapa sulit sekali mengajakmu 'berbicara'?

Dengarkan, Vansa. Dengarkan.



                                                                                                                                                                                                            ....bersambung

Ketika Cermin 'Berkata' Dewasa

Malam ini bintang gemintang terpampang jelas di langit. Aku selalu merasa bahwa setiap jengkalnya menyimpan kenangan, berjuta kenangan mungkin. Angin berembus membawa hawa dingin yang cocok untuk pasangan berkendara roda dua. Bukan bermaksud iri, hanya saja dulu aku pernah berterima kasih pada angin seperti malam ini. Diantara potongan dua puluh empat jam sehari, aku memilih malam sebagai waktu paling nyaman. Ketika pundak - pundak lelah merebahkan peluhnya seiring dengan munculnya gemintang di atas sana. Ketika hiruk pikuk kesibukan di tempat kerja luntur bersamaan dengan menghitamnya langit. Malam, berarti waktu dimana kerinduan mencuat tak tertahankan bahkan terkadang menyesakkan. Namun bagiku, hanya senyapnya malam lah waktu paling nyaman untuk mengingat seseorang. 

Ada alasan mengapa aku duduk menunggu seseorang di sini. Hanya embusan udara dingin yang menelisik lembut. Beberapa bangku mulai kosong, hanya sesekali diisi oleh daun yang tertiup angin. Mataku masih tertuju ke langit, rasanya sudah lama. Bukan, bukan tentang kedatangannya tetapi situasinya. Biasanya menunggu selalu sukses mengalahkan kata sabar. Kali ini aku sungguh menikmatinya. Di sini, aku mengingat semua potongan kenangan tanpa sesak ataupun beban perasaan menyesal yang banyak orang keluhkan. Setiap baris kenangan kini terasa indah, bukan karena aku hebat menata hati. Aku hanya menyadari sisi baik itu dari setiap kali bercermin. Di sana, ia 'berkata' dewasa. Ya, dua puluh delapan tahun.


~~~

Dia benar.

Seseorang yang pernah mengisi hari - hariku tiga tahun lalu. Dia sempat berkata alasannya sesaat sebelum hubungan kami berakhir. Tepatnya itu terakhir kali aku menjalin hubungan dengan seseorang. Dia laki - laki yang baik, teramat baik. Saat itu usiaku 25 tahun, setengah mati aku berkilah tentang alasan yang dia ucapkan kala itu. Oh Tuhan. Apakah itu hanya alasan saja untuk bisa mengakhiri hubungan yang sudah tidak bisa dikatakan bercanda? 

Dulu aku begitu keras kepala bahwa dia telah salah mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan ini. Tapi setelah tiga tahun kemudian, aku menyadari bahwa dia benar. Aku tidak mau menyalahkan siapa - siapa lagi untuk hal ini. Banyak sekali orang menyayangkan berakhirnya hubungan kami waktu itu. Hal yang paling terpenting saat itu adalah tentang keseriusan. Satu jenjang lagi adalah harapan dari setiap pasangan di dunia ini. Satu jenjang lagi kami bersama memulai kehidupan. Tapi semua memang sudah benar - benar selesai. Semua sudah tidak bisa diputar kembali. Selalu ada yang terluka dari setiap kata berpisah. Siapapun yang mengalami hal ini pasti setuju denganku. Aku bukan tidak benar - benar mencintainya, dia juga bukan tidak benar - benar mencintaiku. Aku sangat yakin akan hal itu. Jikalau tidak, mana mungkin hubungan yang telah terjalin bisa dipertahankan hingga saat itu usiaku menginjak quarter kedua kehidupan.

Sebelum aku menceritakan semua yang kuingat di malam ini. Aku berharap dia (orang yang ku anggap benar saat ini) sudah berbahagia entah dengan siapa pun. Merajut setiap hari dengan tawa, tubuh yang sehat, mungkin juga anak yang lucu dan menggemaskan. Harapan dan doa baik tidak pernah pudar walau kadang terselip rindu yang payah diantara keduanya. Inilah aku dengan segala kenangan yang memaksa mata untuk berhenti menangisi apa yang telah berakhir di tahun pertama. Di tahun ke dua, aku memaksa bibir untuk tersenyum dengan apa yang telah selesai. Kali ini, aku sedang memaksa hati untuk terbuka dengan istilah yang katanya cinta. Ya, cinta lagi.


~~~


Dia pergi.

Desember 2012 di tempat yang sama. Senyap. Malam di hari itu tidak sedang berbaik hati. Tidak ada bintang. Terdengar sayup - sayup gemuruh dari arah kejauhan. Barangkali langit sudah menumpahkan hujan di sana. Mataku sejak lima menit yang lalu tidak terlepas ke arah Nehan. Laki - laki yang melingkarkan cincin pertunangan di jari manisku. Ku lihat, dia hanya sesekali menatap langit lalu sekejap kemudian memandang sekitar. Tidak ke arahku yang tepat di depannya. Aku sudah menunggu dia berbicara sedari tadi. Sepertinya usahaku gagal lagi kali ini. 

"Han, apa yang mau kamu bicarakan?" aku sudah tidak sabar bertanya.

"Aku sudah memikirkannya, Van"

Suara Nehan terdengar sangat berat. Aku mulai khawatir.

"Memikirkan apa?"

"Pernikahan kita ditunda, mungkin satu tahun lagi" dia menatapku kali ini.

Aku membuang tatapanku ke segala arah. Terasa panas dipelupuk mataku, namun harus tetap ku tahan air mata ini hingga mendengar semua alasan yang dia katakan.

"Vansa, aku sudah memikirkan ini matang - matang" dia menggenggam tanganku sangat erat. Hangat seperti biasa. Sangat pas untuk situasi seperti ini. Tetapi aku melepaskan genggamannya dengan kasar.

"Kenapa Nehan? Kalau biaya masih kurang bisa kita usahakan sama - sama kan? Atau soal tata acaranya bisa kita ubah? Atau cukup di rumah saja tidak perlu mewah? Kenapa tiba - tiba seperti ini? Aku harus tau alasannya Nehan! K..kkaa..mu.." 

Satu tahun? Air mataku sudah tak tertahan lagi. Aku menangis untuk yang kesekian kalinya di depan Nehan. Entah apa yang dipikirkan olehnya aku pun tidak bisa menebaknya. Sudah sangat jelas bahwa aku menolak untuk menunggu. Sepengetahuanku tidak ada masalah dengan semuanya, apapun itu. Keluargaku baik - baik saja, begitu pula dengan keluarganya. Aku merasa tidak ada yang salah dengan apapun itu. Usia Nehan pun terpaut tiga tahun dariku. Aku sungguh tidak mengerti apapun alasannya. Sedari tadi aku sudah menunggu apa yang akan dia katakan. Bersabar untuk tidak merusak suasana. Gemuruh semakin kencang terdengar. Biarlah. Aku menutup wajahku lama. Menunggu apalagi yang akan dia katakan setelah ini.

"Van, jangan menangis. Aku mohon, kita akan baik - baik saja"

Aku hampir tidak mendengar apa yang barusan dia katakan. Sungguh. Jika mendengarkan pun rasanya aku tidak butuh kata - kata seperti itu. 

"Van...Vansa..." dia tepat disampingku sekarang.

Aku masih diam, sengaja tidak menjawab apapun. Sungguh aku sangat mengenal orang yang ada di sampingku saat ini. Sungguh aku amat menyayanginya. Mengapa dia harus berkata hal yang menyakitkan bagiku. Teramat menyakitkan malah. Bukankah ini yang ditunggu - tunggu? Bukankah dia yang melamarku? 

"Dengarkan dulu, Van. Aku bukan memikirkan soal biaya atau tata acara atau lokasinya. Aku hanya...."

Ku dengar dia seperti tercekat. Enggan berbicara atau entahlah. Kulepaskan kedua tangan yang menutup wajahku sedari tadi. Ku tatap dia dengan penuh hati - hati. Ku perhatikan detil sekali gerak - gerik yang dia lakukan. Arah tatapannya berpaling ke segala arah ketika kubalas menatapnya. Ini ada apa Nehan? 


"Hanya apa Nehan? Katakan!"



"Katakan!"


Semilir angin berhawa dingin semakin menusuk persendian. Sedikit membuat suasana menjadi lebih dingin dari biasanya. Semakin dingin. Semakin tidak sabar aku mendengar alasan yang akan dia katakan. Aku tahu betul siapa Nehan. Dia tidak akan seperti ini jika memang kondisinya sungguh tidak dapat tertahankan. Ku tatap dia lamat - lamat, kali ini aku sungguh tidak bisa membaca bahasa mata dan caranya berbicara. Dia Nehan! Orang yang sangat aku tahu kemana arah pembicaraannya. Mengapa malam ini dia terasa berbeda? Setiap permasalahan yang muncul diantara kami, hampir tak pernah membuatnya gelisah seperti yang kulihat sekarang. Dia tenang. Ah, Tidak! Dia selalu tenang. Selalu. Aku baru menyadarinya.

"Katakan, Han" kataku pelan, bergetar. 

"Aku hanya...hanya perlu satu tahun lagi" Nehan menunduk. 

Apakah dia menahan tangis? Aku pun tak tahu. Itu tak lagi penting sekarang, yang terpenting adalah alasan mengapa aku harus menunggu lagi. Satu tahun bukan lah waktu yang sebentar. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bergelayut menghantui pikiranku saat ini.

"Untuk apa?" kali ini suaraku semakin parau.

"Untuk meyakinkan niat, aku sudah memikirkan ini. Bisa kan, Van?"

Aku tidak menjawab. Pertanyaan bodoh macam apa ini? Bagaimana bisa setelah empat tahun pada akhirnya mundur dengan empat bulan lagi? 

"Vansa, perbaiki diri kita dulu masing - masing. Aku sungguh menyayangimu. Karena itu aku ingin kita sama - sama introspeksi. Apakah selama ini kita baik - baik saja? Adakah sesuatu yang terasa kurang? Aku tidak ingin saat kita sudah bersama, diri kita yang belum baik ini sudah dipaksa menghadapi masalah di depan mata. Aku ingin memperbaiki setiap hal - hal kecil yang mungkin tidak pernah aku, atau kamu sadari bahwa itu lah penyebabnya. Aku ingin....."

Seketika kulepaskan cincin itu dari jariku. Kali ini sudah kugenggamkan ditangan kanannya. Sedetik kemudian aku berdiri dan bergegas pergi meninggalkan Nehan di sana. Sendiri. Tidak ada kata selamat tinggal atau larangan jangan pergi dari Nehan. Semakin membuatku penuh dengan kesal. Aku sengaja tidak mau membahasnya lebih jauh karena menurutku itu hanya alasan main - main. Bayangkan saja, empat bulan lagi! Aku sungguh tidak mengenal Nehan malam ini. 

Malam yang tidak pernah kubayangkan. Terlebih lagi dengan sikap Nehan yang tak biasa. Ada apa ini? Apa yang salah denganku? Apa yang kurang? Bukankah dia yang akhir - akhir ini sering sekali membuatku kesal? Ada saja alasan untuk menolak setiap ajakanku. Lebih sering tidak mendengarkan apa yang aku katakan. Bosan kah? Ada lebih banyak lagi pertanyaan di kepalaku saat ini. Aku benar - benar ingin sekali di rumah sekarang. Saat ini juga!